29.3 C
Bojonegoro
Wednesday, November 30, 2022

Tantangan Santri Masa Kini

- Advertisement -

HARI Santri Nasional (HSN) ditetapkan sejak tujuh tahun lalu. Tepatnya, 15 Oktober 2015 oleh Presiden Joko Widodo. Tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai HSN, merujuk digelorakannya Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy’ari melawan pasukan Inggris di Surabaya pada 1945.

Jika dulu santri ditantang ikut berjibaku melawan penjajah, kini santri punya tantangan berbeda. Tantangan santri masa kini tidak kalah berat dibanding masa lalu. Hanya, bentuk tantangannya berbeda. Senjata dipakai juga berbeda.

Tema HSN tahun ini: Santri Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan. Tema itu bagus. Elegan. Memosisikan santri sebagai subyek. Sebagai fa’il (orang yang melakukan). Bukan sebagai maf’ul (obyek, atau sasaran suatu perbuatan).

Sebagai pelaku, sesuai tema di atas, santri diamanati menjaga martabat kemanusiaan. Tentu, santri biasanya diidentikkan kaum tradisional-sarungan, harus memiliki daya. Harus punya kekuatan dan kemampuan melakukan penjagaan. Apalagi, harus dijaga bukan barang sembarangan. Bukan benda mati. Tetapi berupa martabat kemanusiaan. Bukan martabat kehewanan.

Tantangan santri masa kini bisa dari internal dan eksternal. Tantangan internal berasal dari dalam diri sendiri. Juga, dari institusi kesantrian (kepesantrenan) di mana santri berada. Sedangkan, tantangan eksternal berupa kondisi di luar diri santri dan kepesantrenan. Yaitu, kondisi masyarakat. Terutama, di tengah kemajuan teknologi informasi saat ini.

- Advertisement -

Santri adalah orang mendalami agama Islam. Atau, orang beribadah dengan sungguh-sungguh. Atau, orang yang saleh. (KBBI, hal. 997). Orang Jawa menyebutnya sebagai cantrik yaitu murid padepokan atau murid orang pandai.

Nah, sebagai orang ngudi (mencari) ilmu agama, tantangan internal santri masa kini adalah perlunya pendalaman ilmu dan iman. Ini untuk membekali diri santri agar tidak mudah terombang-ambing banyaknya godaan. Terutama, setelah mereka keluar dari pesantren dan terjun di masyarakat.

Baca Juga :  Demo dan Pengeroyokan Armando

Dengan benteng ilmu dan iman kokoh, santri siap menghadapi berbagai model tantangan dari luar. Santri tidak mudah luntur jika dihadapkan suatu tantangan. Tetapi, tetap teguh dan tegap di tengah gempuran pengaruh negatif dari luar.

Selain itu, santri perlu menjaga citra kepesantrenan. Harus disadari, munculnya beberapa kasus belakangan ini mengganggu nama baik pesantren. Kasus-kasus seperti pelecehan seksual di beberapa pesantren. Ataupun kasus kekerasan oleh santri terhadap sesama santri, haruslah diupayakan tidak terjadi lagi. Citra baik kepesantrenan harus direhabilitisi. Oleh kaum santri sendiri.

Memperdalam ilmu dan memperkokoh keimanan bagian dari menjaga martabat kemanusiaan. Sebaliknya, pelecehan seksual atau kekerasan dapat merusak martabat kemanusiaan.

Orang-orang pesantren harus menyadari bahwa di era sekarang ini, hampir tidak ada bisa dirahasiakan. Apa terjadi di lingkungan pesantren, terutama berbau negatif, berpeluang mudah tersebar keluar. Kita tidak usah menuduh ada orang lain punya agenda buruk terhadap pesantren. Tetapi kitalah harus lebih dulu menjaga nama baik pesantren. Jika pesantren memang baik, tentu tidak mudah bagi orang lain untuk menjelekkannya. Sebaliknya, jika pesantren ada aib, tentu orang luar akan mudah menyebarkan aib tersebut.

Adapun tantangan eksternal santri masa kini adalah kondisi masyarakat di era kecanggihan teknologi informasi. Era sekarang ini ada kecenderungan kian banyak orang suka kebohongan. Suka menyebar berita hoaks di media sosial (medsos). Mungkin sekadar bikin sensasi. Tetapi itu bisa menyesatkan orang lain. Santri, tentu tidak boleh melakukan hal seperti itu.

Baca Juga :  Mayoritas untuk Minoritas

Santri harus punya sikap, jangan mau menjadi korban berita hoaks. Juga, jangan mau menjadi pembuat dan penyebar berita-berita hoaks. Ibarat narkoba, santri jangan menjadi produsennya. Juga jangan menjadi pengedarnya. Menjadi pemakainya pun jangan. Jangan meniru oknum-oknum di luar sana. Ada yang tugasnya mencegah perdagangan narkoba. Tapi mereka justru berdagang narkoba. Ampun, ampuunnn…

Contoh berita-berita yang hoaks. Pada saat banyak hujan dan banjir beberapa hari terakhir ini, ada menyebar sebuah jembatan putus diterjang banjir. Ternyata, berita video itu hoaks. Jembatan itu putus sudah sekian tahun lalu, bukan saat ini. Lokasinya tidak seperti yang ditulis di medsos itu.

Santri selain harus antihoaks, juga antriujaran kebencian saat ini kian marak. Juga, antiujaran kotor. Biasanya, ujaran kebencian atau ujaran kotor keluar dari orang-orang yang intoleran. Kurang bisa bertoleransi. Akibatnya, mereka memandang orang lain yang berbeda pandangan sebagai orang salah dan sesat. Mereka menganggap hanya diri mereka yang benar. Akibatnya, mereka menyebut orang lain dengan sebutan merendahkan.

Antihoaks, antiujaran kebencian, dan antikata kotor adalah bagian dari menjaga martabat kemanusiaan. Sebaliknya, menyebarkan sesuatu yang hoaks, menggunakan ujaran kebencian dan merendahkan, itu bagian dari melecehkan martabat kemanusiaan.

Kaum santri tentu berkewajiban melakukan amar makruf dan nahi munkar. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran adalah bagian dari menjaga martabat kemanusiaan. Sebaliknya, melakukan kemunkaran, termasuk membiarkan banyak kemunkaran adalah bagian dari merendahkan martabat kemanusiaan.

Semoga, dengan semangat memperingati Hari Santri, kaum santri mampu meningkatkan kontribusinya untuk perbaikan kondisi negeri ini.

HARI Santri Nasional (HSN) ditetapkan sejak tujuh tahun lalu. Tepatnya, 15 Oktober 2015 oleh Presiden Joko Widodo. Tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai HSN, merujuk digelorakannya Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy’ari melawan pasukan Inggris di Surabaya pada 1945.

Jika dulu santri ditantang ikut berjibaku melawan penjajah, kini santri punya tantangan berbeda. Tantangan santri masa kini tidak kalah berat dibanding masa lalu. Hanya, bentuk tantangannya berbeda. Senjata dipakai juga berbeda.

Tema HSN tahun ini: Santri Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan. Tema itu bagus. Elegan. Memosisikan santri sebagai subyek. Sebagai fa’il (orang yang melakukan). Bukan sebagai maf’ul (obyek, atau sasaran suatu perbuatan).

Sebagai pelaku, sesuai tema di atas, santri diamanati menjaga martabat kemanusiaan. Tentu, santri biasanya diidentikkan kaum tradisional-sarungan, harus memiliki daya. Harus punya kekuatan dan kemampuan melakukan penjagaan. Apalagi, harus dijaga bukan barang sembarangan. Bukan benda mati. Tetapi berupa martabat kemanusiaan. Bukan martabat kehewanan.

Tantangan santri masa kini bisa dari internal dan eksternal. Tantangan internal berasal dari dalam diri sendiri. Juga, dari institusi kesantrian (kepesantrenan) di mana santri berada. Sedangkan, tantangan eksternal berupa kondisi di luar diri santri dan kepesantrenan. Yaitu, kondisi masyarakat. Terutama, di tengah kemajuan teknologi informasi saat ini.

- Advertisement -

Santri adalah orang mendalami agama Islam. Atau, orang beribadah dengan sungguh-sungguh. Atau, orang yang saleh. (KBBI, hal. 997). Orang Jawa menyebutnya sebagai cantrik yaitu murid padepokan atau murid orang pandai.

Nah, sebagai orang ngudi (mencari) ilmu agama, tantangan internal santri masa kini adalah perlunya pendalaman ilmu dan iman. Ini untuk membekali diri santri agar tidak mudah terombang-ambing banyaknya godaan. Terutama, setelah mereka keluar dari pesantren dan terjun di masyarakat.

Baca Juga :  Semangat Ramadan di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Dengan benteng ilmu dan iman kokoh, santri siap menghadapi berbagai model tantangan dari luar. Santri tidak mudah luntur jika dihadapkan suatu tantangan. Tetapi, tetap teguh dan tegap di tengah gempuran pengaruh negatif dari luar.

Selain itu, santri perlu menjaga citra kepesantrenan. Harus disadari, munculnya beberapa kasus belakangan ini mengganggu nama baik pesantren. Kasus-kasus seperti pelecehan seksual di beberapa pesantren. Ataupun kasus kekerasan oleh santri terhadap sesama santri, haruslah diupayakan tidak terjadi lagi. Citra baik kepesantrenan harus direhabilitisi. Oleh kaum santri sendiri.

Memperdalam ilmu dan memperkokoh keimanan bagian dari menjaga martabat kemanusiaan. Sebaliknya, pelecehan seksual atau kekerasan dapat merusak martabat kemanusiaan.

Orang-orang pesantren harus menyadari bahwa di era sekarang ini, hampir tidak ada bisa dirahasiakan. Apa terjadi di lingkungan pesantren, terutama berbau negatif, berpeluang mudah tersebar keluar. Kita tidak usah menuduh ada orang lain punya agenda buruk terhadap pesantren. Tetapi kitalah harus lebih dulu menjaga nama baik pesantren. Jika pesantren memang baik, tentu tidak mudah bagi orang lain untuk menjelekkannya. Sebaliknya, jika pesantren ada aib, tentu orang luar akan mudah menyebarkan aib tersebut.

Adapun tantangan eksternal santri masa kini adalah kondisi masyarakat di era kecanggihan teknologi informasi. Era sekarang ini ada kecenderungan kian banyak orang suka kebohongan. Suka menyebar berita hoaks di media sosial (medsos). Mungkin sekadar bikin sensasi. Tetapi itu bisa menyesatkan orang lain. Santri, tentu tidak boleh melakukan hal seperti itu.

Baca Juga :  Pantau Warga Asing di Sekolah Bojonegoro

Santri harus punya sikap, jangan mau menjadi korban berita hoaks. Juga, jangan mau menjadi pembuat dan penyebar berita-berita hoaks. Ibarat narkoba, santri jangan menjadi produsennya. Juga jangan menjadi pengedarnya. Menjadi pemakainya pun jangan. Jangan meniru oknum-oknum di luar sana. Ada yang tugasnya mencegah perdagangan narkoba. Tapi mereka justru berdagang narkoba. Ampun, ampuunnn…

Contoh berita-berita yang hoaks. Pada saat banyak hujan dan banjir beberapa hari terakhir ini, ada menyebar sebuah jembatan putus diterjang banjir. Ternyata, berita video itu hoaks. Jembatan itu putus sudah sekian tahun lalu, bukan saat ini. Lokasinya tidak seperti yang ditulis di medsos itu.

Santri selain harus antihoaks, juga antriujaran kebencian saat ini kian marak. Juga, antiujaran kotor. Biasanya, ujaran kebencian atau ujaran kotor keluar dari orang-orang yang intoleran. Kurang bisa bertoleransi. Akibatnya, mereka memandang orang lain yang berbeda pandangan sebagai orang salah dan sesat. Mereka menganggap hanya diri mereka yang benar. Akibatnya, mereka menyebut orang lain dengan sebutan merendahkan.

Antihoaks, antiujaran kebencian, dan antikata kotor adalah bagian dari menjaga martabat kemanusiaan. Sebaliknya, menyebarkan sesuatu yang hoaks, menggunakan ujaran kebencian dan merendahkan, itu bagian dari melecehkan martabat kemanusiaan.

Kaum santri tentu berkewajiban melakukan amar makruf dan nahi munkar. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran adalah bagian dari menjaga martabat kemanusiaan. Sebaliknya, melakukan kemunkaran, termasuk membiarkan banyak kemunkaran adalah bagian dari merendahkan martabat kemanusiaan.

Semoga, dengan semangat memperingati Hari Santri, kaum santri mampu meningkatkan kontribusinya untuk perbaikan kondisi negeri ini.

Artikel Terkait

Medhayoh

Filosofi KHD, Upaya Redam Gejolak Siswa

Santri Berprestasi, Pesantren Keren

Menyoal Kesehatan Perempuan

Most Read

Artikel Terbaru

APBD 2023 Ditetapkan Rp 2,2 Triliun

Pamerkan Busana dari Batik Blora

Dijanjikan Penerbangan Tahun Depan

Demi Cewek di Luar Negeri, Curi HP


/