28.6 C
Bojonegoro
Monday, February 6, 2023

Kafe Pelajar Alternatif Tempat Belajar

- Advertisement -

Mayoritas masyarakat Indonesia mengenal istilah kafe (Bahasa Prancis: café) sebagai tempat menjual minuman dan makanan ringan dengan menu utama kopi. Sebelum tren istilah kafe atau coffee shop (kedai kopi), masyarakat lebih familier istilah warkop (warung kopi). Seiring perkembangan zaman, istilah warkop tergerser menjadi kafe.

Kafe berbeda rumah makan atau restoran menyediakan menu utama makan berat dan minuman. Tetapi kafe lebih fokus menyediakan tempat ngobrol dan nongkrong tampilan fleksibel. Konsumen dan pelanggan biasanya lebih kerasan berlama-lama di kafe, meski hanya sekadar ngobrol dan duduk dengan bestie (teman dekat). Seiring kemajuan teknologi dan informasi, menu disuguhkan kafe menyesuaikan kebutuhan konsumen. Di samping terdapat wifi.

Bisnis kafe telah dilirik banyak kalangan. Membuka kafe merupakan alternatif dan menjadi bagian dari usaha menengah kecil dan mikro (UMKM). Tentu membuka bisnis kafe memiliki dasar dan argumentasi faktual. Di antaranya bisnis kafe tidak akan mati, keuntungan menjajikan, nilai jual tinggi, modal awal tidak besar, banyak penyuka kopi, menu disuguhkan sederhana, tempat tidak harus mewah yang penting nyaman, dan kafe merupakan tempat serba guna (Damaya Ardian, 2019).

Tidak heran sekarang bisnis kafe menjamur tumbuh hingga pelosok desa. Pelaku bisnis kafe banar-benar memahami kebutuhan konsumen sehingga kafe menjelma menjadi rumah kedua bagi konsumen. Tampilan tempat, dekorasi, dan interior ditata paduan seni natural memikat bagi konsumen datang.

Tren Pelajar Nongkrong Kafe

- Advertisement -

Kafe senantiasa identik tempat nongkrong kekinian, terlebih populer di kalangan kaum milenial atau usia remaja (pelajar). Saat ini kafe sudah menjadi magnet bagi pelajar. Setiap kafe buka hampir dipenuhi pengunjung pelajar. Menjadi tempat alternatif beraktivitas bagi pelajar selain di sekolah dan rumah.

Fenomena pelajar nongkrong di kafe saat ini menjadi tradisi baru. Kebiasaan ini tidak hanya terbatas di kota-kota besar, tetapi menyebar ke seluruh pelosok desa. Tren pelajar nongkrong di kafe tidak bisa dijustifikasi dampak negatif kemajuan teknologi dan informasi. Tetapi harus mengetahui kegiatan dilakukan pelajar selama di kafe, misalnya menyaksikan dan bertanya baik-baik kepada mereka.

Pelajar betah berlama-lama nongkrong di kafe tentu memiliki argumentasi rasional. Bagi pelajar kafe sebagai tempat menawarkan suasana berbeda dibanding rumah dan sekolah. Juga, kafe mempertemukan mereka dengan teman-teman berasal dari sekolah dan komunitas lainnya.

Sebuah studi unik di Korea Selatan, bahwa kafe tidak hanya dimanfaatkan tempat berkumpul dan bergaul dengan teman (hangout. Tetapi kafe digunakan tempat belajar (study cafe). Ada empat alasan para pelajar di Korea Selatan lebih tertarik belajar di study cafe daripada belajar di perpustakaan.

Pertama, belajar sambil menikmati menu makanan beragam. Kedua, menawarkan suasana berbeda. Ketiga, suasana memiliki pengaruh cukup besar. Keempat, memberikan energi positif (Dhia Priyanka, 2019).

Potret penelitian terjadi di Korea Selatan menarik karena pelajar menjadikan kafe sebagai salah satu alternatif tempat belajar. Tentu saja fenomena tersebut berbeda, jika dibanding di Indonesia. Memang ada sebagian pelajar dan mahasiswa memanfaatkan kafe tempat belajar menyelesaikan tugas dan pertemuan organisasi. Tetapi mayoritas pelajar belum memanfaatkan kafe tempat nyaman belajar.

Padahal menurut beberapa teori hasil riset menunjukan bahwa kondisi lingkungan asri dan suasana nyaman memengaruhi motivasi belajar meningkat. Mestinya kafe dijadikan alternatif tempat belajar, selain perpustakaan, kelas, kamar tidur, taman belajar, dan selasar kosong (student’s lounge).

Pengelola kafe dan insan pendidikan, saatnya memulai memikirkan membuka kafe khusus pelajar. Suguhan utama tetap kopi, tetapi menu lain disediakan baku-buku bacaan. Panggung seni berekspresi menuangkan minat dan bakat pelajar. Sesekali diadakan diskusi, semiloka, dan forum discusion group membahas isu-isu menarik khusus di kalangan milenial. Semoga gagasan kafe khusus pelajar menjadi kenyataan. (*)

 

Mayoritas masyarakat Indonesia mengenal istilah kafe (Bahasa Prancis: café) sebagai tempat menjual minuman dan makanan ringan dengan menu utama kopi. Sebelum tren istilah kafe atau coffee shop (kedai kopi), masyarakat lebih familier istilah warkop (warung kopi). Seiring perkembangan zaman, istilah warkop tergerser menjadi kafe.

Kafe berbeda rumah makan atau restoran menyediakan menu utama makan berat dan minuman. Tetapi kafe lebih fokus menyediakan tempat ngobrol dan nongkrong tampilan fleksibel. Konsumen dan pelanggan biasanya lebih kerasan berlama-lama di kafe, meski hanya sekadar ngobrol dan duduk dengan bestie (teman dekat). Seiring kemajuan teknologi dan informasi, menu disuguhkan kafe menyesuaikan kebutuhan konsumen. Di samping terdapat wifi.

Bisnis kafe telah dilirik banyak kalangan. Membuka kafe merupakan alternatif dan menjadi bagian dari usaha menengah kecil dan mikro (UMKM). Tentu membuka bisnis kafe memiliki dasar dan argumentasi faktual. Di antaranya bisnis kafe tidak akan mati, keuntungan menjajikan, nilai jual tinggi, modal awal tidak besar, banyak penyuka kopi, menu disuguhkan sederhana, tempat tidak harus mewah yang penting nyaman, dan kafe merupakan tempat serba guna (Damaya Ardian, 2019).

Tidak heran sekarang bisnis kafe menjamur tumbuh hingga pelosok desa. Pelaku bisnis kafe banar-benar memahami kebutuhan konsumen sehingga kafe menjelma menjadi rumah kedua bagi konsumen. Tampilan tempat, dekorasi, dan interior ditata paduan seni natural memikat bagi konsumen datang.

Tren Pelajar Nongkrong Kafe

- Advertisement -

Kafe senantiasa identik tempat nongkrong kekinian, terlebih populer di kalangan kaum milenial atau usia remaja (pelajar). Saat ini kafe sudah menjadi magnet bagi pelajar. Setiap kafe buka hampir dipenuhi pengunjung pelajar. Menjadi tempat alternatif beraktivitas bagi pelajar selain di sekolah dan rumah.

Fenomena pelajar nongkrong di kafe saat ini menjadi tradisi baru. Kebiasaan ini tidak hanya terbatas di kota-kota besar, tetapi menyebar ke seluruh pelosok desa. Tren pelajar nongkrong di kafe tidak bisa dijustifikasi dampak negatif kemajuan teknologi dan informasi. Tetapi harus mengetahui kegiatan dilakukan pelajar selama di kafe, misalnya menyaksikan dan bertanya baik-baik kepada mereka.

Pelajar betah berlama-lama nongkrong di kafe tentu memiliki argumentasi rasional. Bagi pelajar kafe sebagai tempat menawarkan suasana berbeda dibanding rumah dan sekolah. Juga, kafe mempertemukan mereka dengan teman-teman berasal dari sekolah dan komunitas lainnya.

Sebuah studi unik di Korea Selatan, bahwa kafe tidak hanya dimanfaatkan tempat berkumpul dan bergaul dengan teman (hangout. Tetapi kafe digunakan tempat belajar (study cafe). Ada empat alasan para pelajar di Korea Selatan lebih tertarik belajar di study cafe daripada belajar di perpustakaan.

Pertama, belajar sambil menikmati menu makanan beragam. Kedua, menawarkan suasana berbeda. Ketiga, suasana memiliki pengaruh cukup besar. Keempat, memberikan energi positif (Dhia Priyanka, 2019).

Potret penelitian terjadi di Korea Selatan menarik karena pelajar menjadikan kafe sebagai salah satu alternatif tempat belajar. Tentu saja fenomena tersebut berbeda, jika dibanding di Indonesia. Memang ada sebagian pelajar dan mahasiswa memanfaatkan kafe tempat belajar menyelesaikan tugas dan pertemuan organisasi. Tetapi mayoritas pelajar belum memanfaatkan kafe tempat nyaman belajar.

Padahal menurut beberapa teori hasil riset menunjukan bahwa kondisi lingkungan asri dan suasana nyaman memengaruhi motivasi belajar meningkat. Mestinya kafe dijadikan alternatif tempat belajar, selain perpustakaan, kelas, kamar tidur, taman belajar, dan selasar kosong (student’s lounge).

Pengelola kafe dan insan pendidikan, saatnya memulai memikirkan membuka kafe khusus pelajar. Suguhan utama tetap kopi, tetapi menu lain disediakan baku-buku bacaan. Panggung seni berekspresi menuangkan minat dan bakat pelajar. Sesekali diadakan diskusi, semiloka, dan forum discusion group membahas isu-isu menarik khusus di kalangan milenial. Semoga gagasan kafe khusus pelajar menjadi kenyataan. (*)

 

Artikel Terkait

Most Read

Dana Rehab Gedung SMP Naik

Pilbub Berebut Suara Perempuan

Kembali Dipatok Target Papan Atas 

Artikel Terbaru

Bentuk Istana dari Lego

Dua Kali Bobol Konter

Potensi Ekspansi Pabrik, Jadi Perhatian

Pertanyakan Nasib Seluruh Karyawan


/