29.3 C
Bojonegoro
Wednesday, November 30, 2022

Oleh: Mohammad Kundori, S.S., M.Sc

Medhayoh

- Advertisement -

MEDHAYOH adalah istilah budaya Jawa berarti bertamu. Namun, tidak sekadar bertamu, di mana seseorang datang ke rumah saudara atau orang lain secara fisik. Medhayoh bertemunya hati seseorang dengan saudara atau orang lain, baik memiliki tujuan penting sampai sekadar tilik dulur. Atau sekadar mampir karena kebetulan lewat rumahnya.

 

Medhayoh memiliki keunikan tersendiri, tersimpan kearifan di dalamnya. Pertama, medhayoh memiliki makna “aruh”. Artinya menyapa, menanyakan kabar, mengajak berbicara, membuka pembicaraan. Biasanya tuan rumah aktif mendahului menyapa, menanyakan kabar penuh keakraban. Membuka percakapan ini agar tamu tidak merasa canggung, istilahnya adalah nguwongne atau menghargai orang.

 

Kedua, Gupuh. Artinya tergopoh-gopoh, tergesa-gesa. Gupuh bermakna ungkapan perasaan gembira dan antusias tuan rumah saat menyambut tamu. Apabila ada tamu mendadak datang biasanya tuan rumah “tidak siap” dan terkejut. Bisa saja tuan rumah bergegas meninggalkan pekerjaan, berganti pakaian, repot menata ruang tamu.

- Advertisement -

 

Ketiga, Lungguh. Lungguh memiliki makna menyambut tamu dengan kehangatan mempersilakan masuk, duduk, dan tuan rumah memberi percakapan kecil pencair suasana agar lebih gayeng.

 

Misalnya: “Wah kok makin cantik, masih awet muda saja atau pun tumben jauh-jauh datang mampir ke sini”. Untuk memperkuat agar tamu tidak canggung biasanya tuan rumah bilang “anggap saja ini rumahmu sendiri”.

 

Keempat, Suguh. Suguh bermakna menghidangkan makanan, camilan, dan minuman. Bermaksud menghormati tamu datang dari jauh. Saat suguhan dikeluarkan, biasanya tamu berucap “Wah kok repot-repot” sementara tuan rumah biasanya membalas dengan “Nggak ini ga repot kok”.

 

Pembicaraan dimaksudkan agar bertamu tidak ada merasa mengganggu dan terganggu. Seseorang tamu, tentu mau mencicipi hidangan meski sedikit, minum meski hanya beberapa teguk. Jauh lebih baik bila menghabiskan minuman meski tidak merasa haus dan tidak menyukai hidangan. Semua demi menghargai tuan rumah bersusah payah dan repot.

Baca Juga :  Pengaruh Lingkungan pada Perkembangan Karakter Anak

 

Melihat begitu agungnya budaya medhayoh di tengah perubahan zaman kian modern, di mana masyarakat semakin individualis, budaya medhayoh tampaknya kian hilang. Padahal, mobilitas masyarakat semakin tinggi, mudahnya akses transportasi bisa memudahkan individu berpindah satu tempat ke tempat lain.

 

Perlu ada upaya atau gerakan sosial menghidupkan kembali budaya medhayoh yang agung ini. Dulu masih banyak ditemui seseorang dalam perjalanan tiba-tiba masuk dan medhayoh ke rumah tidak dikenal hanya sekadar minta minum dan ngobrol sebentar.

 

Sementara tiap rumah menyediakan kendi air minum di depan rumah atau ruang tamu sebagai persediaan siapapun kehausan.

 

Berkaca fenomena tersebut, Ademos Indonesia mencoba menjawab problem tersebut dengan mengadakan acara bernama Medhayoh Fest dengan tagline “Tilik Dulur, Icip Dhapur, Monggo Nandur” dalam rangkaian acara selama dua hari pada 5-6 November 2022. Terdapat empat panggung dan pertunjukan di sepanjang area festival.

 

Ada beragam seni pertunjukan, musik, aneka kuliner, pangan lokal, workshop seni sebagai experience pengunjung, ragam tradisi ndeso. Tak kalah menarik rangkaian penanaman pohon secara serentak di 42 titik sumber mata air tersebar di Bojonegoro.

 

Festival ini boleh dikunjungi dan terbuka siapapun. Ini realisasi dari tagline tilik dulur, artinya pengunjung bebas berkunjung ke festival ini seperti datang ke rumah saudaranya. Bisa menikmati suguhan disajikan seperti tradisi wedhangan (tradisi minum teh/kopi bersama saudara). Juga tradisi makan bersama mencicipi dan menikmati hidangan makanan disuguhkan atau Icip Dhapur.

 

Medhayoh Fest mendatangkan “Dhayoh Istimewa” yakni sang maestro tari Indonesia Mas Didik Nini Thowok. Serta, penyanyi dan seniman muda Budi Doremi. Semua bisa dinikmati para dhayoh atau pengunjung. Hanya khusus pertunjukan musik Budi Doremi, pengunjung diharuskan berdonasi membeli bibit pohon telah disediakan panitia secara on the spot.

 

Baca Juga :  Tol Ngaroban Bernilai Strategis?

Pengunjung disarankan membawa bibit pohon dari rumah. Dalam tradisi medhayoh, budaya membawa oleh-oleh atau buah tangan untuk pemilik rumah dimaknai sebagai tradisi “mbukak lawang”.

Acara dimotori warga Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro, dan didukung PT Pupuk Kaltim ini untuk membangun kepedulian sosial. Dimediasikan artis/seniman selanjutnya diikuti penggemar dan masyarakat umum.

 

Festival ini dikampanyekan mengingat kembali kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dari perubahan iklim. Wujud mengombinasikan nilai dengan kegiatan nantinya diikuti para pejabat, artis, musisi, seniman, dan masyarakat umum.

 

Salah satunya menanam pohon dan memuliakan sumber mata air sehingga tidak lagi dianggap hal mistis. Tetapi, bagian ekosistem dijaga keberlangsungannya untuk penghidupan berkelanjutan.

 

Target penerima manfaat dari Medhayoh Fest ini seluruh masyarakat di kawasan Bojonegoro dan sekitarnya, memulihkan ekonomi akibat pandemi. Berikutnya pemuliaan seluruh sumber mata air tersebar di 42 titik di Bojonegoro. Kelestarian alam dan pencegahan perubahan iklim terus dilakukan sebagaimana dikampanyekan Presiden Jokowi: “Setiap kita punya peran dalam pelestarian alam. Setiap orang bisa punya andil menyelamatkan bumi”. (*)

MEDHAYOH adalah istilah budaya Jawa berarti bertamu. Namun, tidak sekadar bertamu, di mana seseorang datang ke rumah saudara atau orang lain secara fisik. Medhayoh bertemunya hati seseorang dengan saudara atau orang lain, baik memiliki tujuan penting sampai sekadar tilik dulur. Atau sekadar mampir karena kebetulan lewat rumahnya.

 

Medhayoh memiliki keunikan tersendiri, tersimpan kearifan di dalamnya. Pertama, medhayoh memiliki makna “aruh”. Artinya menyapa, menanyakan kabar, mengajak berbicara, membuka pembicaraan. Biasanya tuan rumah aktif mendahului menyapa, menanyakan kabar penuh keakraban. Membuka percakapan ini agar tamu tidak merasa canggung, istilahnya adalah nguwongne atau menghargai orang.

 

Kedua, Gupuh. Artinya tergopoh-gopoh, tergesa-gesa. Gupuh bermakna ungkapan perasaan gembira dan antusias tuan rumah saat menyambut tamu. Apabila ada tamu mendadak datang biasanya tuan rumah “tidak siap” dan terkejut. Bisa saja tuan rumah bergegas meninggalkan pekerjaan, berganti pakaian, repot menata ruang tamu.

- Advertisement -

 

Ketiga, Lungguh. Lungguh memiliki makna menyambut tamu dengan kehangatan mempersilakan masuk, duduk, dan tuan rumah memberi percakapan kecil pencair suasana agar lebih gayeng.

 

Misalnya: “Wah kok makin cantik, masih awet muda saja atau pun tumben jauh-jauh datang mampir ke sini”. Untuk memperkuat agar tamu tidak canggung biasanya tuan rumah bilang “anggap saja ini rumahmu sendiri”.

 

Keempat, Suguh. Suguh bermakna menghidangkan makanan, camilan, dan minuman. Bermaksud menghormati tamu datang dari jauh. Saat suguhan dikeluarkan, biasanya tamu berucap “Wah kok repot-repot” sementara tuan rumah biasanya membalas dengan “Nggak ini ga repot kok”.

 

Pembicaraan dimaksudkan agar bertamu tidak ada merasa mengganggu dan terganggu. Seseorang tamu, tentu mau mencicipi hidangan meski sedikit, minum meski hanya beberapa teguk. Jauh lebih baik bila menghabiskan minuman meski tidak merasa haus dan tidak menyukai hidangan. Semua demi menghargai tuan rumah bersusah payah dan repot.

Baca Juga :  Mewaspadai Diskriminasi Bansos BBM

 

Melihat begitu agungnya budaya medhayoh di tengah perubahan zaman kian modern, di mana masyarakat semakin individualis, budaya medhayoh tampaknya kian hilang. Padahal, mobilitas masyarakat semakin tinggi, mudahnya akses transportasi bisa memudahkan individu berpindah satu tempat ke tempat lain.

 

Perlu ada upaya atau gerakan sosial menghidupkan kembali budaya medhayoh yang agung ini. Dulu masih banyak ditemui seseorang dalam perjalanan tiba-tiba masuk dan medhayoh ke rumah tidak dikenal hanya sekadar minta minum dan ngobrol sebentar.

 

Sementara tiap rumah menyediakan kendi air minum di depan rumah atau ruang tamu sebagai persediaan siapapun kehausan.

 

Berkaca fenomena tersebut, Ademos Indonesia mencoba menjawab problem tersebut dengan mengadakan acara bernama Medhayoh Fest dengan tagline “Tilik Dulur, Icip Dhapur, Monggo Nandur” dalam rangkaian acara selama dua hari pada 5-6 November 2022. Terdapat empat panggung dan pertunjukan di sepanjang area festival.

 

Ada beragam seni pertunjukan, musik, aneka kuliner, pangan lokal, workshop seni sebagai experience pengunjung, ragam tradisi ndeso. Tak kalah menarik rangkaian penanaman pohon secara serentak di 42 titik sumber mata air tersebar di Bojonegoro.

 

Festival ini boleh dikunjungi dan terbuka siapapun. Ini realisasi dari tagline tilik dulur, artinya pengunjung bebas berkunjung ke festival ini seperti datang ke rumah saudaranya. Bisa menikmati suguhan disajikan seperti tradisi wedhangan (tradisi minum teh/kopi bersama saudara). Juga tradisi makan bersama mencicipi dan menikmati hidangan makanan disuguhkan atau Icip Dhapur.

 

Medhayoh Fest mendatangkan “Dhayoh Istimewa” yakni sang maestro tari Indonesia Mas Didik Nini Thowok. Serta, penyanyi dan seniman muda Budi Doremi. Semua bisa dinikmati para dhayoh atau pengunjung. Hanya khusus pertunjukan musik Budi Doremi, pengunjung diharuskan berdonasi membeli bibit pohon telah disediakan panitia secara on the spot.

 

Baca Juga :  Lapangan Mlaten dan Timur Stadion Jadi Pujasera

Pengunjung disarankan membawa bibit pohon dari rumah. Dalam tradisi medhayoh, budaya membawa oleh-oleh atau buah tangan untuk pemilik rumah dimaknai sebagai tradisi “mbukak lawang”.

Acara dimotori warga Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro, dan didukung PT Pupuk Kaltim ini untuk membangun kepedulian sosial. Dimediasikan artis/seniman selanjutnya diikuti penggemar dan masyarakat umum.

 

Festival ini dikampanyekan mengingat kembali kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dari perubahan iklim. Wujud mengombinasikan nilai dengan kegiatan nantinya diikuti para pejabat, artis, musisi, seniman, dan masyarakat umum.

 

Salah satunya menanam pohon dan memuliakan sumber mata air sehingga tidak lagi dianggap hal mistis. Tetapi, bagian ekosistem dijaga keberlangsungannya untuk penghidupan berkelanjutan.

 

Target penerima manfaat dari Medhayoh Fest ini seluruh masyarakat di kawasan Bojonegoro dan sekitarnya, memulihkan ekonomi akibat pandemi. Berikutnya pemuliaan seluruh sumber mata air tersebar di 42 titik di Bojonegoro. Kelestarian alam dan pencegahan perubahan iklim terus dilakukan sebagaimana dikampanyekan Presiden Jokowi: “Setiap kita punya peran dalam pelestarian alam. Setiap orang bisa punya andil menyelamatkan bumi”. (*)

Artikel Terkait

Tantangan Santri Masa Kini

Filosofi KHD, Upaya Redam Gejolak Siswa

Santri Berprestasi, Pesantren Keren

Menyoal Kesehatan Perempuan

Most Read

Artikel Terbaru

Raperda Pesantren di Meja DPRD

APBD 2023 Ditetapkan Rp 2,2 Triliun

Pamerkan Busana dari Batik Blora

Dijanjikan Penerbangan Tahun Depan


/