alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Thursday, August 18, 2022

Bachtiar Febrianto*

Mendesak Perluasan Kota Lamongan

- Advertisement -

MESKI menghadapi pandemi Covid-19, perkembangan perekonomian Kota Lamongan saat ini cukup positif. Investasi tumbuh subur di Kota Soto tersebut. Salah satu indikasinya, Lamongan Plasa yang beberapa tahun lalu mati suri, kini terlihat mulai bergairah.

 

Beberapa tenan branded yang biasa dijumpai di kota-kota besar, masuk ke mal satu-satunya di Lamongan tersebut. Mulai retail furniture dan elektronik terkenal, Selma dan Informa hingga Mr DIY (retail aneka peralatan). Terbaru, Matahari Dept Store juga mulai melirik untuk masuk. Ditandai dengan munculnya Matahari Bazaar. Di luar Lamongan Plasa juga ada retail peralatan petualangan alam terkenal, Eiger dan Rei. Bahkan tenan-tenan terkenal itu mulai masuk Lamongan saat sedang pandemi tahun lalu. Seolah tidak sabar untuk segera berdiri di Kota Soto tersebut.

 

Geliat ekonomi tersebut tentu saja sangat menggembirakan. Kondisi itu menunjukkan keberhasilan Pemkab Lamongan menciptakan iklim investasi yang kondusif dan prospektif. Sehingga harus terus dijaga dan semakin didorong, dengan mengantisipasi kendala-kendala yang bisa menghambat perkembangan perekonomian tersebut.

- Advertisement -

 

Namun kondisi Kota Lamongan kurang mendukung perkembangan perekonomian yang pesat tersebut. Terutama terkait wilayah yang dimiliki. Kondisi wilayah yang sempit membuat kota tersebut semakin sumpek dan padat seiring dengan perkembangan perekonomian tersebut. Jalan-jalan protokol terasa semakin sempit karena semakin banyak mobil-mobil yang parkir di kanan-kiri jalan.

 

Kondisi itu terlihat jelas di Jalan Basuki Rahmat, Sunan Drajat, Suwoko, Lamongrejo, dan lainnya. Tidak jarang kalau ada mobil berpapasan, harus mengurangi kecepatan dan mencari badan jalan yang aman agar tidak saling bersenggolan.

 

Dibanding ibu kota-ibu kota kabupaten/kota lain di Jawa Timur, Kota Lamongan memang tergolong paling kecil. Untuk mengitari kota dari ujung ke ujungnya, hanya dibutuhkan waktu kurang dari 1 jam. Bahkan saking sempitnya, Kota Lamongan ada yang menyebut sebagai ‘’desa besar’’, bukan kota.

Baca Juga :  Menyemai Karakter Hari Pertama Sekolah

 

Melihat realitas-realitas tersebut, memasuki Hari Jadi Lamongan (HJL) yang ke-453 tahun depan, memperluas ibukota Soto tersebut sudah menjadi sangat mendesak. Selain untuk memberi ruang bagi perkembangan perekonomian yang pesat, perluasan kota juga sangat penting untuk membuat Kota Lamongan menjadi nyaman untuk didiami warganya. Sehingga semakin layak disebut sebagai ibukota kabupaten.

 

Upaya memperluas Kota Lamongan tampaknya sudah menjadi salah satu perhatian Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi. Dibuktikan dengan keseriusannya untuk merealisasikan ring road utara atau jalan lingkar utara (JLU) Kota Lamongan. Program JLU tersebut sudah dimulai sejak 2004, sepanjang 7,15 Kilometer (Km) mulai dari Desa Rejosari Kecamatan Deket hingga Desa Plosowahyu Kecamatan Lamongan. Namun program itu berhenti cukup lama.

 

Dari lahan seluas 29,5 Hektare (Ha) yang dibutuhkan, masih ada 4,2 Ha yang belum dibebaskan. Bupati Yes-panggilan akrab Bupati Yuhronur Efendi-bertekad kuat akan menuntaskan pembebasannya tahun ini. Selain itu juga intensif melakukan lobi-lobi ke pemerintah pusat untuk segera merealisasikan pembangunan fisik JLU yang diperkirakan butuh dana sekitar Rp 327 Miliar. Tampaknya upaya keras tersebut menunjukkan hasil positif. “Kami sudah berkoordinasi dengan semua pihak, dan mudah-mudahan dapat menjadi langkah awal yang baik. Ayo ndang didadekno dalan iki (ayo segera direalisasi jalan ini), dadi dalan sing kenek dilewati (jadi jalan yang bisa dilewati). Semoga prosesnya lancar dan tidak ada kendala, serta bisa dimanfaatkan oleh semua orang,” ucap Pak Yes.

Baca Juga :  Hamba Elektronika, Terlengkap dan Termurah di Lamongan

 

Bila JLU tersebut terealisasi, dipastikan akan menumbuhkan pusat-pusat perekonomian baru di sepanjang JLU. Investor juga semakin mendapatkan ruang untuk memperluas investasinya. Sehingga, secara otomatis akan memfasilitasi terjadinya perluasan Kota Lamongan ke utara dan semakin mempercepat perkembangan ekonomi.

 

Tidak kalah pentingnya, keberadaan JLU membuat masalah kemacetan lalu lintas di jalan nasional Surabaya-Babat akan teratasi. Karena ada jalan alternatif bagi kendaraan-kendaraan besar, sehingga tidak melewati dua perlintasan kereta api (KA) double track di kota tersebut yang selama ini selalu menjadi pemicu kemacetan parah. Dengan begitu, akan memperlancar mobilitasi ekonomi antar daerah, sehingga akan semakin memfasilitasi kondusifitas investasi.

Namun perluasan kota ke utara saja tampaknya tidak cukup.

Perluasan ke utara lebih untuk kebutuhan pembangunan pergudangan atau industri. Sedangkan untuk kebutuhan ekonomi mikro, tampaknya perlu perluasan Kota Lamongan ke selatan hingga Kecamatan Tikung. Perluasan ke selatan lebih tepat untuk pengembangan pertokoan, mal, perkantoran, perhotelan, dan kawasan publik lainnya. Sehingga bisa menjadi ikon baru Kota Lamongan. Untuk mendorong perkembangan kota ke selatan, perlu dibuat jalan-jalan baru lingkar selatan maupun timur hingga Sarirejo. Selanjutnya dipastikan akan bermunculan sentra-sentra ekonomi baru sesuai tata kota yang telah dibuat sebelumnya.

 

Bila proyek besar perluasan kota tersebut terwujud, dipastikan Kota Lamongan akan menjadi kota yang diperhitungkan seperti kota-kota lain yang masuk dalam kawasan Gerbangkerta susila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan). Baik secara ekonomi, politik, sosial, budaya maupun pertahanan dan keamanan.(*)

 

Wartawan Jawa Pos Radar Bojonegoro

MESKI menghadapi pandemi Covid-19, perkembangan perekonomian Kota Lamongan saat ini cukup positif. Investasi tumbuh subur di Kota Soto tersebut. Salah satu indikasinya, Lamongan Plasa yang beberapa tahun lalu mati suri, kini terlihat mulai bergairah.

 

Beberapa tenan branded yang biasa dijumpai di kota-kota besar, masuk ke mal satu-satunya di Lamongan tersebut. Mulai retail furniture dan elektronik terkenal, Selma dan Informa hingga Mr DIY (retail aneka peralatan). Terbaru, Matahari Dept Store juga mulai melirik untuk masuk. Ditandai dengan munculnya Matahari Bazaar. Di luar Lamongan Plasa juga ada retail peralatan petualangan alam terkenal, Eiger dan Rei. Bahkan tenan-tenan terkenal itu mulai masuk Lamongan saat sedang pandemi tahun lalu. Seolah tidak sabar untuk segera berdiri di Kota Soto tersebut.

 

Geliat ekonomi tersebut tentu saja sangat menggembirakan. Kondisi itu menunjukkan keberhasilan Pemkab Lamongan menciptakan iklim investasi yang kondusif dan prospektif. Sehingga harus terus dijaga dan semakin didorong, dengan mengantisipasi kendala-kendala yang bisa menghambat perkembangan perekonomian tersebut.

- Advertisement -

 

Namun kondisi Kota Lamongan kurang mendukung perkembangan perekonomian yang pesat tersebut. Terutama terkait wilayah yang dimiliki. Kondisi wilayah yang sempit membuat kota tersebut semakin sumpek dan padat seiring dengan perkembangan perekonomian tersebut. Jalan-jalan protokol terasa semakin sempit karena semakin banyak mobil-mobil yang parkir di kanan-kiri jalan.

 

Kondisi itu terlihat jelas di Jalan Basuki Rahmat, Sunan Drajat, Suwoko, Lamongrejo, dan lainnya. Tidak jarang kalau ada mobil berpapasan, harus mengurangi kecepatan dan mencari badan jalan yang aman agar tidak saling bersenggolan.

 

Dibanding ibu kota-ibu kota kabupaten/kota lain di Jawa Timur, Kota Lamongan memang tergolong paling kecil. Untuk mengitari kota dari ujung ke ujungnya, hanya dibutuhkan waktu kurang dari 1 jam. Bahkan saking sempitnya, Kota Lamongan ada yang menyebut sebagai ‘’desa besar’’, bukan kota.

Baca Juga :  Persela Bertahan di Liga 1, Optimistis atau Realistis?

 

Melihat realitas-realitas tersebut, memasuki Hari Jadi Lamongan (HJL) yang ke-453 tahun depan, memperluas ibukota Soto tersebut sudah menjadi sangat mendesak. Selain untuk memberi ruang bagi perkembangan perekonomian yang pesat, perluasan kota juga sangat penting untuk membuat Kota Lamongan menjadi nyaman untuk didiami warganya. Sehingga semakin layak disebut sebagai ibukota kabupaten.

 

Upaya memperluas Kota Lamongan tampaknya sudah menjadi salah satu perhatian Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi. Dibuktikan dengan keseriusannya untuk merealisasikan ring road utara atau jalan lingkar utara (JLU) Kota Lamongan. Program JLU tersebut sudah dimulai sejak 2004, sepanjang 7,15 Kilometer (Km) mulai dari Desa Rejosari Kecamatan Deket hingga Desa Plosowahyu Kecamatan Lamongan. Namun program itu berhenti cukup lama.

 

Dari lahan seluas 29,5 Hektare (Ha) yang dibutuhkan, masih ada 4,2 Ha yang belum dibebaskan. Bupati Yes-panggilan akrab Bupati Yuhronur Efendi-bertekad kuat akan menuntaskan pembebasannya tahun ini. Selain itu juga intensif melakukan lobi-lobi ke pemerintah pusat untuk segera merealisasikan pembangunan fisik JLU yang diperkirakan butuh dana sekitar Rp 327 Miliar. Tampaknya upaya keras tersebut menunjukkan hasil positif. “Kami sudah berkoordinasi dengan semua pihak, dan mudah-mudahan dapat menjadi langkah awal yang baik. Ayo ndang didadekno dalan iki (ayo segera direalisasi jalan ini), dadi dalan sing kenek dilewati (jadi jalan yang bisa dilewati). Semoga prosesnya lancar dan tidak ada kendala, serta bisa dimanfaatkan oleh semua orang,” ucap Pak Yes.

Baca Juga :  Dalami Permasalahan PG KTM Dengan Masyarakat

 

Bila JLU tersebut terealisasi, dipastikan akan menumbuhkan pusat-pusat perekonomian baru di sepanjang JLU. Investor juga semakin mendapatkan ruang untuk memperluas investasinya. Sehingga, secara otomatis akan memfasilitasi terjadinya perluasan Kota Lamongan ke utara dan semakin mempercepat perkembangan ekonomi.

 

Tidak kalah pentingnya, keberadaan JLU membuat masalah kemacetan lalu lintas di jalan nasional Surabaya-Babat akan teratasi. Karena ada jalan alternatif bagi kendaraan-kendaraan besar, sehingga tidak melewati dua perlintasan kereta api (KA) double track di kota tersebut yang selama ini selalu menjadi pemicu kemacetan parah. Dengan begitu, akan memperlancar mobilitasi ekonomi antar daerah, sehingga akan semakin memfasilitasi kondusifitas investasi.

Namun perluasan kota ke utara saja tampaknya tidak cukup.

Perluasan ke utara lebih untuk kebutuhan pembangunan pergudangan atau industri. Sedangkan untuk kebutuhan ekonomi mikro, tampaknya perlu perluasan Kota Lamongan ke selatan hingga Kecamatan Tikung. Perluasan ke selatan lebih tepat untuk pengembangan pertokoan, mal, perkantoran, perhotelan, dan kawasan publik lainnya. Sehingga bisa menjadi ikon baru Kota Lamongan. Untuk mendorong perkembangan kota ke selatan, perlu dibuat jalan-jalan baru lingkar selatan maupun timur hingga Sarirejo. Selanjutnya dipastikan akan bermunculan sentra-sentra ekonomi baru sesuai tata kota yang telah dibuat sebelumnya.

 

Bila proyek besar perluasan kota tersebut terwujud, dipastikan Kota Lamongan akan menjadi kota yang diperhitungkan seperti kota-kota lain yang masuk dalam kawasan Gerbangkerta susila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan). Baik secara ekonomi, politik, sosial, budaya maupun pertahanan dan keamanan.(*)

 

Wartawan Jawa Pos Radar Bojonegoro

Artikel Terkait

Most Read

Kaget Mendadak Tak Lolos

Pengguna Vapor Bakal Dikenai Pajak 

Maksimalkan Jamu Persiba

Artikel Terbaru


/