alexametrics
28.4 C
Bojonegoro
Thursday, May 26, 2022

Mundzar Fahman *

Lebaran, Merajut Kembali Ukhuwah Islami

IBARAT bangunan, persaudaraan antarsesama muslim di negeri ini sudah lama retak. Makin lama kian parah. Tidak mustahil,  jika  sumber keretakan itu dibiarkan, bangunan itu bisa roboh. Yang tersisa tinggal puing-puingnya. Jika itu terjadi, orang lain akan bersorak gembira.

 

Momentum Lebaran tahun ini hendaknya dijadikan kesempatan untuk rekonsiliasi. Dengan cara saling minta maaf. Antarkelompok Islam jangan terus panas-panasan. Hentikan kebiasaan saling hujat, saling olok, dan saling ancam. Hilangkan rasa benci satu sama lain. Hilangkan perasaan paling benar sendiri dan kelompok lain salah dan sesat.

 

Ada orang Islam menyebut kelompok lain kadrun (kadal gurun), cebong, dan kampret. Mereka harus minta maaf kepada saudaranya yang disebutnya itu. Mereka yang selama ini sering menyebut aliran lain sesat, kafir, syirik, dan ahli bid’ah, juga harus mohon maaf.

 

Menjuluki orang lain kadrun, cebong, atau kampret, secara langsung atau tidak, itu berati merendahkan. Itu penghinaan yang dilarang dalam Islam. Ini sumber konflik.

 

Begitu pula menyebut orang lain kafir, sesat, atau musyrik, itu juga dilarang. Secara langsung atau tidak, itu berarti dirinya merasa paling  benar. Sedangkan orang lain salah dan sesat. Itu sama saja tidak mau menerima adanya perbedaan pemahaman ajaran agama. Tidak bersikap toleran. Ini sumber perpecahan.

 

Orang Islam yang menggebu-gebu mengusung sistem khilafah Islam juga harus menyadari kekeliruannya. Mereka biasanya menyatakan demokrasi adalah sistem thaghut (setan). Mereka juga yakin bahwa hanya sistem Islam yang mampu menyelesaikan carut-marut suatu negeri. Mereka juga memberikan stigma kepada saudaranya bahwa penentang sistem khilafah adalah pendukung sistem thaghut.

 

Orang Islam yang suka menyebarkan hoaks untuk melampiaskan kebenciannya kepada saudaranya juga perlu minta maaf. Mereka yang demo-demo menuntut saudaranya secara tidak benar juga harus menyadari kekeliruannya. Permohonan maaf harus dilakukan secara tulus satu persatu. Jika itu tidak mungkin, paling tidak, permohonan maaf lewat media sosial (medsos). Melalui grup-grup di medsos. Syukur-syukur dilakukan secara lebih elegan dan terbuka melalui media massa yang lebih luas.

Baca Juga :  Waspada Banjir, Tiga Pompa Air Kota Disiapkan

 

Sikap seperti di atas, menurut saya, menjadi sumber keretakan bagi bangunan persaudaraan (ukhuwah) sesama muslim. Muslim pengusung sistem khilafah menganggap para penentangnya sebagai lawan politik. Muslim yang suka takfiri (mengkafir-kafirkan) orang lain memposisikan orang lain sebagai bukan muslim.

 

Agama Islam mengajarkan sikap toleransi. Tidak hanya toleransi terhadap adanya perbedaan pemahaman teks Al Qur an dan/atau Al Hadits. Tetapi, juga toleransi terhadap perbedaan keyakinan dan agama orang lain. Al Qur an mengajarkan, bagimu agamamu, dan bagiku agamaku. Bagi kami adalah amal perbuatan kami. Bagi kamu adalah amal perbuatanmu (sendiri).

 

Para pengusung khilafah yang menganggap demokrasi adalah sistem thaghut, itu sama saja menganggap dalam Islam tidak ada demokrasi. Itu salah besar. Dalam hal-hal tertentu, Islam mempraktikkan demokrasi. Islam memberi kesempatan bermusyawarah kepada umatnya. Tidak hanya mengajak bermuasayarah. Tetapi juga menghargai usul/pendapat dari sahabat.  Itu beberapa kali dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau.

 

Kanjeng Nabi Muhammad SAW ketika akan menghadapi perang Khandaq (parit), beliau mengajak musyawarah para sahabatnya. Adalah sahabat Salman Al Farisi dari Persia/Iran yang mengusulkan agar membuat parit sekeliling Kota Madinah. Ini agar musuh Islam tidak dapat masuk ke dalam Kota Madinah. Nabi Muhammad setuju. Akhirnya dibikinlah parit itu secara gotong-royong.

Baca Juga :  Belum Tentukan Desain Surat Suara

 

Begitu pula ketika Nabi bersama sahabat akan menghadapi pasukan Qurasy Makkah dalam Perang Badar, beliau juga menyetujui usul dari seorang sahabatnya. Usul itu tentang lokasi yang tepat bagi pasukan Islam untuk membangun pertahanan dalam menghadapi pasukan musuh.

 

Khalifah Umar bin Khatthab dalam menyiapkan calon penggantinya, juga menunjuk beberapa orang pilihannya untuk bermusyawarah. Tim ini disebut dengan ahlul halli wal aqdi. Anggotanya tujuh orang. Tim akhirnya memilih sahabat Utsman bin Affan sebagai pengganti Khalifah Umar.

 

Jika sistem demokrasi diartikan hanya sebagai sistem pemilihan langsung oleh umat/rakyat, memang belum dicontohkan dalam sejarah Islam. Yang ada adalah pemilihan melalui perwakilan secara terbatas. Tetapi, dalam hal-hal tertentu, Al Qur an tegas memerintahkan untuk bermusyawarah.

 

Dalam hal-hal tertentu, tentu tidak boleh dilakukan melalui voting sebagaimana dalam sistem demokrasi modern. Misal, tentang kewajiban salat atau puasa. Jika dilakukan voting, bisa-bisa banyak yang memilih salat/puasa tidak wajib. Atau, banyak pilih wajib tapi dikurangi 50 persen agar lebih praktis dan ringan di era modern. Ini tentu tidak boleh. Karena salat/puasa menyangkut ibadah makhdhah, ketentuannya berdasarkan wahyu Ilahi yang diperkuat dengan sabda Nabi SAW.

 

Nah, dalam suasana Lebaran ini, tentu sangat ideal jika antarsesama muslim mau bermaaf-maafan. Jangan biarkan kebencian dan permusuhan itu berkembang makin liar. Marilah kita bangun model persaudaraan baru yang betul-betul islami. Muslim adalah saudara bagi muslim lain. Dan, sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara. Maka, berbaik-baiklah dengan sesama saudara…(*)

 

*) Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro.

IBARAT bangunan, persaudaraan antarsesama muslim di negeri ini sudah lama retak. Makin lama kian parah. Tidak mustahil,  jika  sumber keretakan itu dibiarkan, bangunan itu bisa roboh. Yang tersisa tinggal puing-puingnya. Jika itu terjadi, orang lain akan bersorak gembira.

 

Momentum Lebaran tahun ini hendaknya dijadikan kesempatan untuk rekonsiliasi. Dengan cara saling minta maaf. Antarkelompok Islam jangan terus panas-panasan. Hentikan kebiasaan saling hujat, saling olok, dan saling ancam. Hilangkan rasa benci satu sama lain. Hilangkan perasaan paling benar sendiri dan kelompok lain salah dan sesat.

 

Ada orang Islam menyebut kelompok lain kadrun (kadal gurun), cebong, dan kampret. Mereka harus minta maaf kepada saudaranya yang disebutnya itu. Mereka yang selama ini sering menyebut aliran lain sesat, kafir, syirik, dan ahli bid’ah, juga harus mohon maaf.

 

Menjuluki orang lain kadrun, cebong, atau kampret, secara langsung atau tidak, itu berati merendahkan. Itu penghinaan yang dilarang dalam Islam. Ini sumber konflik.

 

Begitu pula menyebut orang lain kafir, sesat, atau musyrik, itu juga dilarang. Secara langsung atau tidak, itu berarti dirinya merasa paling  benar. Sedangkan orang lain salah dan sesat. Itu sama saja tidak mau menerima adanya perbedaan pemahaman ajaran agama. Tidak bersikap toleran. Ini sumber perpecahan.

 

Orang Islam yang menggebu-gebu mengusung sistem khilafah Islam juga harus menyadari kekeliruannya. Mereka biasanya menyatakan demokrasi adalah sistem thaghut (setan). Mereka juga yakin bahwa hanya sistem Islam yang mampu menyelesaikan carut-marut suatu negeri. Mereka juga memberikan stigma kepada saudaranya bahwa penentang sistem khilafah adalah pendukung sistem thaghut.

 

Orang Islam yang suka menyebarkan hoaks untuk melampiaskan kebenciannya kepada saudaranya juga perlu minta maaf. Mereka yang demo-demo menuntut saudaranya secara tidak benar juga harus menyadari kekeliruannya. Permohonan maaf harus dilakukan secara tulus satu persatu. Jika itu tidak mungkin, paling tidak, permohonan maaf lewat media sosial (medsos). Melalui grup-grup di medsos. Syukur-syukur dilakukan secara lebih elegan dan terbuka melalui media massa yang lebih luas.

Baca Juga :  Pencitraan Publik di Tahun Politik

 

Sikap seperti di atas, menurut saya, menjadi sumber keretakan bagi bangunan persaudaraan (ukhuwah) sesama muslim. Muslim pengusung sistem khilafah menganggap para penentangnya sebagai lawan politik. Muslim yang suka takfiri (mengkafir-kafirkan) orang lain memposisikan orang lain sebagai bukan muslim.

 

Agama Islam mengajarkan sikap toleransi. Tidak hanya toleransi terhadap adanya perbedaan pemahaman teks Al Qur an dan/atau Al Hadits. Tetapi, juga toleransi terhadap perbedaan keyakinan dan agama orang lain. Al Qur an mengajarkan, bagimu agamamu, dan bagiku agamaku. Bagi kami adalah amal perbuatan kami. Bagi kamu adalah amal perbuatanmu (sendiri).

 

Para pengusung khilafah yang menganggap demokrasi adalah sistem thaghut, itu sama saja menganggap dalam Islam tidak ada demokrasi. Itu salah besar. Dalam hal-hal tertentu, Islam mempraktikkan demokrasi. Islam memberi kesempatan bermusyawarah kepada umatnya. Tidak hanya mengajak bermuasayarah. Tetapi juga menghargai usul/pendapat dari sahabat.  Itu beberapa kali dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau.

 

Kanjeng Nabi Muhammad SAW ketika akan menghadapi perang Khandaq (parit), beliau mengajak musyawarah para sahabatnya. Adalah sahabat Salman Al Farisi dari Persia/Iran yang mengusulkan agar membuat parit sekeliling Kota Madinah. Ini agar musuh Islam tidak dapat masuk ke dalam Kota Madinah. Nabi Muhammad setuju. Akhirnya dibikinlah parit itu secara gotong-royong.

Baca Juga :  MENELISIK FLEKSIBILITAS KURIKULUM MERDEKA

 

Begitu pula ketika Nabi bersama sahabat akan menghadapi pasukan Qurasy Makkah dalam Perang Badar, beliau juga menyetujui usul dari seorang sahabatnya. Usul itu tentang lokasi yang tepat bagi pasukan Islam untuk membangun pertahanan dalam menghadapi pasukan musuh.

 

Khalifah Umar bin Khatthab dalam menyiapkan calon penggantinya, juga menunjuk beberapa orang pilihannya untuk bermusyawarah. Tim ini disebut dengan ahlul halli wal aqdi. Anggotanya tujuh orang. Tim akhirnya memilih sahabat Utsman bin Affan sebagai pengganti Khalifah Umar.

 

Jika sistem demokrasi diartikan hanya sebagai sistem pemilihan langsung oleh umat/rakyat, memang belum dicontohkan dalam sejarah Islam. Yang ada adalah pemilihan melalui perwakilan secara terbatas. Tetapi, dalam hal-hal tertentu, Al Qur an tegas memerintahkan untuk bermusyawarah.

 

Dalam hal-hal tertentu, tentu tidak boleh dilakukan melalui voting sebagaimana dalam sistem demokrasi modern. Misal, tentang kewajiban salat atau puasa. Jika dilakukan voting, bisa-bisa banyak yang memilih salat/puasa tidak wajib. Atau, banyak pilih wajib tapi dikurangi 50 persen agar lebih praktis dan ringan di era modern. Ini tentu tidak boleh. Karena salat/puasa menyangkut ibadah makhdhah, ketentuannya berdasarkan wahyu Ilahi yang diperkuat dengan sabda Nabi SAW.

 

Nah, dalam suasana Lebaran ini, tentu sangat ideal jika antarsesama muslim mau bermaaf-maafan. Jangan biarkan kebencian dan permusuhan itu berkembang makin liar. Marilah kita bangun model persaudaraan baru yang betul-betul islami. Muslim adalah saudara bagi muslim lain. Dan, sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara. Maka, berbaik-baiklah dengan sesama saudara…(*)

 

*) Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/