RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal kemarau tahun ini bakal datang pada April, termasuk di Bojonegoro.
Sementara untuk puncak kemarau bakal berlangsung pada Agustus mendatang. Namun, juga menurut BMKG, saat ini hingga akhir Maret diperkirakan curah hujan masih cukup tinggi.
Menurut BMKG sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April. Terdiri atas sebagian besar Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Ristony Eka Putra mengatakan dari yang informasi yang diterima dari BMKG perkiraan awal kemarau di Bojonegoro adalah pada April atau Mei.
‘’Perkiraan musim pada dasarnya kami berpedoman pada BMKG,” ungkapnya. Ristony menjelaskan, kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dan panas dibandingkan tahun lalu. Namun masyarakat diminta tak khawatir. Terlebih telah dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi kemungkinan kekeringan terjadi di wilayah Bojonegoro.
‘’Perkiraannya memang seperti itu (kemarau panjang dan lebih panas),” terangnya. Menurut Ristony, terkait persiapan menghadapi kemarau panjang telah dilakukan selama beberapa tahun ini. Mulai dengan membuat sumur dan tandon air, instalasi permanen air hujan pada desa rawan kekeringan dan bantuan air dengan mengirimkan air ke lokasi kekeringan.
Pihaknya mengaku tetap siaga memantau dan melakukan langkah terbaik yang dapat dilakukan. Tentu sesuai perkiraan dan juga kejadian yang ada.
Perlu diketahui, BMKG melalui Stasiun Meteorologi Juanda mengeluarkan peringatan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Jawa Timur pada periode 11 hingga 20 Maret 2026.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa saat ini sebagian wilayah Jawa Timur, termasuk Bojonegoro, mulai memasuki masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau.
Pada fase ini, kondisi atmosfer cenderung tidak stabil sehingga berpotensi memicu peningkatan cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan.
“Potensi cuaca ekstrem tersebut dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer. Di antaranya adanya aktivitas Madden–Julian Oscillation dan Gelombang Kelvin atmosfer yang melintasi wilayah Jawa Timur,” terangnya dalam press release peringawan kewaspadaan.
Selain itu, imbuh dia, suhu muka laut di perairan selatan Jawa Timur masih cukup hangat serta kondisi atmosfer lokal yang labil. Kombinasi faktor tersebut memicu pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai petir dan angin kencang.
"BMKG Juanda mengimbau masyarakat serta instansi terkait untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba," tambahnya.
Cuaca ekstrem berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es. (irv/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana