Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Membudayakan Dialek Bojonegoro

M. Yusuf Purwanto • Senin, 27 Desember 2021 | 15:00 WIB
Membudayakan Dialek Bojonegoro
Membudayakan Dialek Bojonegoro

BAHASA merupakan alat komunikasi digunakan oleh sekelompok masyarakat tertentu menyampaikan maksud dan tujuan tertentu baik sekelompok orang atau antar individu. Sedangkan dalam KBBI: Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
Bahasa Jawa salah satu rumpun Austronesia dituturkan oleh masyarakat suku Jawa baik di Indonesia ataupun di negara-negara lain sebagai tujuan dalam bermigrasi. Jumlah penutur dan wilayah sebarnya bahasa Jawa merupakan bahasa terbesar di dunia dengan jumlah penutur asli lebih dari 80 juta orang. Dan bahasa lokal di Indonesia dengan jumlah penutur terbesar.
Bahasa Jawa dalam perkembangannya secara keterwilayahan terbagi beberapa dialek. Bakhan secara rinci banyak sub-sub dialek masih aktif digunakan dalam sehari-hari. Bahasa Jawa  Bojonegoro merupakan salah satu dialek bahasa Jawa, dituturkan di daerah Kabupaten Bojonegoro dan sekitarnya.
Dialek Bojonegoro secara umum dituturkan di wilayah Bojonegoro, Kabupaten Tuban dan sebagian wilayah di provinsi Jawa Tengah, antara lain Blora, Rembang, dan Pati.
Dialek Bojonegaran ini digunakan oleh masyarakat Samin  tersebar di Kabupaten Bojonegoro, Blora, Tuban, dan Pati.  
Dialek  Bojonegaran sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan dialek Jawa lainnya. Hanya terdapat beberapa istilah khas Bojonegoro, misalnya dalam percakapan sehari-hari: “Ndak iya lèh! "artinya sama dengan ("masak iya sih").
“Piye lèh! " (bagaimana sih!), “Kok ogak mulèh-mulèh" (Kok tidak pulang-pulang), “dha neng ngisor greng"  sama di bawah pohon bambu.
‘’Wetengku wis lesu" (perutku sudah lapar), “digenjong" (diangkat), "engko dhisik" (nanti dulu).
Dalam bahasa Jawa Bojonegaran: greng > barongan = dhompolan bambu. Ogak > ora = tidak. Mulèh > mulih = pulang. Anyep > adhem = dingin. Lesu > ngelih >luwe = lapar. Digenjong = diangkat/dibopong. Engko > mengko = nanti.
Berdasarkan tingkat tutur bahasa Jawa, dialek Bojonegaran merupakan bahasa pergaulan dan termasuk tataran ngoko atau bahasa kasar. Di daerah Bojonegoro tataran krama (halus) maupun madya (biasa, campuran krama dan ngoko) tingkatan bahasa masih menggunakan terapan unggah-ungguh basa tetap digunakan selain tataran dialek pergaulan ngoko dialek Bojonegoroan tersebut.
Perbedaan dialek Bojonegaran dengan dialek bahasa Jawa umumnya antara lain:
Akhiran "uh" jadi "oh". Misalnya, abuh > aboh, butuh > butoh, embuh > emboh,
ngunduh > ngundoh, rubuh > ruboh. Utuh > utoh, waluh > waloh.
Juga, akhiran "mu" jadi "em", yang artinya hak milik. Misalnya, omahmu=omahem, klambimu = klambinem, anakmu = anakem.
Akhiran "ih" jadi "èh", contohnya, batih > batèh, gurih > gurèh, mulih > mulèh, ngalih > ngaleh, sugih > sugèh, putih > putèh.
Sementara itu, banyak istilah atau diksi tentang dialek Bojonegaran. Istilah ini cukup memasyarakat. Misalnya, ceblok (jatuh), damoni = sebul (tiup), dunung = mudheng (paham). Duwik (duit), gablek = nduwe (punya), gawok (heran), gendul (botol), genyo = kenek apa (kenapa), jandom = cangkruk (duduk-duduk ngobrol santai), jingklong=lemut (nyamuk), lesu (lapar), matoh = apik (bagus), nayoh (mudah sekali), mbadhog (makan), mboyak = ora urus (cuek/acuh). Dan, masih banyak lagi kosakata dialek Bojonegaran.
Ciri khas dialek Bojonegaran adalah digunakannya akhiran -em atau -nem (dengan e pepet) menggantikan akhiran -mu dalam bahasa Jawa untuk menyatakan kata ganti posesif. Posesif berarti bersifat merasa menjadi pemilik; mempunyai sifat cemburu: ) orang kedua tunggal.
Akhiran -em dipakai jika kata berakhiran huruf konsonan. Sementara -nem dipakai jika kata berakhiran vokal. Misalnya kata kathok yang berarti celana menjadi kathokem. Kata klambi berarti baju menjadi klambinem, dan sebagainya.
Ciri lainnya adalah sering digunakannya partikel "leh", dengan vokal e diucapkan panjang. Dalam percakapan untuk menggantikan partikel bahasa Jawa "ta". Misalnya, untuk menyatakan: "Ini bukumu, kan?", orang Bojonegoro berkata: "Iki bukunem, leh?"(Bahasa Jawa standar: "Iki bukumu, ta?"). Contoh lain: "Jangan begitu, dong!", lebih banyak diucapkan "Aja ngono, leh!" daripada "Aja ngono, ta!"


* Pegiat Pamursadi Sastra Jawa Bojonegoro (PSJB)

Editor : M. Yusuf Purwanto
#lembar budaya #bojonegoro