Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Bikin Intonasi 15 Menit, Ciptakan Eliminasi Gema dari Kardus

Ebiet A. Mubarok • Senin, 29 Januari 2018 | 17:38 WIB
Bikin Intonasi 15 Menit, Ciptakan Eliminasi Gema dari Kardus
Bikin Intonasi 15 Menit, Ciptakan Eliminasi Gema dari Kardus

FEATURES - Pengalamannya bermusik di Jakarta dan Surabaya, ternyata Guntur justru terkesima di Bojonegoro. Membuat aransemen lagu-lagu Kang Yoto hanya 15 menit. Dan, eliminasi gema dari kardus. Baginya ini tantangan.


Dari luar, studio musik menyempil di Jalan KH. Agus Salim, Bojonegoro. Suasananya sepi. Namun, di dalamnya nada-nada kecil terdengar nyaring menerobos sekat tembok peredam. Tak berselang lama, seorang remaja keluar sambil membawa alat musik. 


Dia, Guntur Endra Yudianto, pemilik studio. Meski terlihat lelah bekerja hingga larut malam, lelaki 43 tahun itu bercerita tentang kegiatan mengajar musik. Sebuah studio kecil menyimpan gurat sejarah musik profesional di Bojonegoro. 


Guntur mengenal musik sejak kelas 5 sekolah dasar (SD). Bapaknya juga praktisi musik, sehingga dia mudah belajar. Usia SMP, sudah bisa bermain gitar, drum, hingga keyboard.


Usia SMA, kecintaannya pada musik kian menggila. Dia meminta sekolah di Surabaya untuk mendalami musik. Pada 1992, dia belajar musik di Yamaha Melodia Surabaya. 


Guntur juga sempat belajar musik di lembaga musik Farabi di Jakarta. Bahkan, Guntur menekuni kehidupan bermusik di Jakarta, sebelum akhirnya polemik reformasi 1998 memaksanya kembali pulang.


Namun, Guntur masih enggan pulang. Dia memutuskan ke Surabaya, bergiat kembali di dunia musik sebagai pengajar di Yamaha Melodia. 


“Karena keadaan Jakarta kisruh, jadi ya memutuskan pulang. Belum ke Bojonegoro, tapi ke Surabaya dulu untuk mengajar,” ucapnya. 


Akhirnya Guntur menemui titik lelah. Di Surabaya, dia mengajar sehari di tiga tempat yang berbeda dengan jarak cukup lama. Bahan ajarnya pun tidak sama. Yakni, tiga alat instrumen musik yang berbeda.


Kondisi itu membuatnya merasa lelah dan memutuskan pulang ke tanah kelahirannya, Bojonegoro. Niatnya, tentu total beristirahat dari dunia bermusik.


Baginya, petualangan di dunia musik harus diistirahatkan dulu. Setidaknya, di dalam proses petualangannya itu, dia menemukan musik bukan terbatas pada ranah “player”, pemain, dan bermain. Tetapi sangat luas.


Ada dimensi besar yang berdampingan dengan musik (jika itu dimaknai sebatas “player”). Profesi pemusik tidak sebatas player. Tetapi ada penata, penggiat, pelaksana, yang menjadi satu-kesatuan.


Di musik, ada banyak bidang yang saling berkelit-kelindan. Misalnya seorang artis musik, dia tidak berdiri sendiri, tetapi ada manajer. Nah, manajer itu pun banyak bidangnya. 


Tetapi, sesampainya di rumah yang terjadi justru berbeda. Dia melihat banyak anak memiliki potensi bermain musik luar biasa. Itu, dia lihat banyaknya anak-anak muda bermain gitar tapi tidak menemui studio musik.


Kalaupun ada, hanya studio musik yang disewakan. Bahkan studio musik mengajarkan bermain musik secara profesional. Dari sanalah, ide membuat studio musik berbasis pengajaran profesional muncul. 


“Tahun 2000, saya memantapkan diri membuka studio kursus,” katanya sambil mengenang. 


Hampir 18 tahun studio musik menyempil di sudut kota itu berdiri. Berbagai musisi pernah meniti karir dari tempat itu. Banyak yang menjadi praktisi musik, pengajar musik mandiri hingga pengajar musik berafiliasi dinas pendidikan (guru sekolah).


Bahkan, sejumlah pejabat teras Bojonegoro juga pernah belajar di studio kecil itu.  Guntur, seorang pengajar musik itu, juga seorang pengaransemen lagu.


Terutama lagu-lagu hit dari Kang Yoto, Bupati Bojonegoro. Di album kedua Kang Yoto, hampir semua Guntur yang membuat intonasi dan mengaransemen lagu-lagunya.


Lirik dan syair dibuat Kang Yoto sendiri, tetapi urusan intonasi dan aransemen, tugas Guntur.


“Saya hanya diberi lirik dari Kang Yoto lewat WA (WhatsApp). Lalu saya buat intonasi dan mengaransemennya,” ucapnya. 


Untuk lagu Aku Wes Ora Bento misalnya, lirik dikirim Kang Yoto melalui chat WA pukul 20.00. Sejam kemudian, pukul 21.00, intonasi lagu sudah dia kirimkan kembali pada Kang Yoto.


Uniknya, malam itu juga, dia dipanggil Kang Yoto segera untuk take vocal ke rumah dinas. Dan jadilah lagu tersebut. Lagu-lagu lain prosesnya juga sama.


Seperti lagu Anakku Kapan Kau Menikah misalnya, prosesnya hanya butuh waktu 15 menit untuk menentukan intonasinya. “Kadang, kalau tidak bisa ketemu, proses pembuatan lagu itu hanya melalui chatting WA,” ujar lelaki berkacamata itu. 


Selain proses pembuatan lagu tergolong cepat dan tidak bertele-tele, pengalaman menarik saat menggarap lagu-lagu Kang Yoto adalah saat take vocal di rumah dinas.


Karena tidak dilengkapi dinding peredam suara, para ajudan sering kecapekan memegangi selimut dan bed cover yang dijadikan eliminasi gema. Tujuannya, agar suara bisa fokus dan tidak merembas. 


“Karena kasihan melihat ajudan memegangi selimut, akhirnya saya buat eliminasi gema menggunakan kardus,” ucapnya.   


Editor : Ebiet A. Mubarok
#musik