Di usia yang masih sangat belia, sembilan tahun, Raisatun Nisa' Farrhatul Arif memiliki kemampuan lebih dibanding teman sebayanya. Dia menjadi langganan jawara lomba pemilihan dai cilik (pildacil) dan hafiz empat juz Alquran.
--------------------------------------
YUDHA SATRIA ADITAMA, Tuban
--------------------------------------
SENYUM Raisatun Nisa' Farrhatul Arif merekah begitu bertemu dengan wartawan koran ini di ruang kepala SDIT Al Uswah Tuban.
Pelajar kelas 4 itu begitu percaya diri ketika ditanya seputar kemampuannya berdakwah dan lomba yang diikuti. Itu terpancar dari roman mukanya yang berseri-seri.
Meski baru berusia sembilan tahun, kemampuan public speaking bocah yang akrab disapa Raisa ini tak diragukan lagi.
Dia kerap menjadi juara lomba pemilihan dai cilik (pildacil) yang diselenggarakan sejumlah lembaga keagamaan di Bumi Wali. Selain itu, sehari-harinya, dia juga mengajar dakwah kepada teman-temannya di taman pendidikan Alquran (TPQ) Al Ikhlas Perumnas Tasikmadu, kompleks rumahnya. Di TPQ ini pula dia mengaji.
Bakat terpendam Raisa bermula ketika dia ditunjuk Sa’diyah, ibu kandung yang sekaligus guru ngajinya di TPQ untuk menjadi wakil dalam lomba dacil di UPTD Pendidikan Tuban.
Dia pun bersemangat. Karena belum tahu cara berdakwah, dia justru merengek meminta diajari sang ibu. ‘’Alhamdulillah, lomba pertama itu saya langsung juara,’’ tutur bocah yang tinggal di Jalan Gayam 8 Perumnas Tasikmadu itu.
Sejak itu, Raisa rutin mengikuti lomba dacil dan selalu menggondol juara. Selain tropi, setiap kali memenangkan lomba, dia juga mendapat hadiah uang pembinaan.
Ditanya untuk apa hadiah lomba tersebut? Raisa tak spontan menjawab. Dia terlihat malu-malu. Dia mengatakan, jika hadiahnya berupa alat tulis, dimanfaatkan untuk sekolah.
Namun, jika uang tunai, dia tabung. ‘’Rencananya untuk berangkat haji,’’ ucap dia tanpa menyebut jumlah uang tabungan yang terkumpul.
Untuk berdakwah durasi sekitar 10 menit, ragil dari tiga bersaudara ini butuh persiapan khusus. Waktunya sekitar satu minggu. Persiapan tersebut untuk menulis materi, menghafalkan, dan berlatih.
Raisa mengatakan, untuk menyusun materi dakwah, dia masih meminta bantuan sang ibu. Dia betul-betul menyadari bahwa materi dakwah tidak bisa asal.
Anak pasangan Arifyanto – Sa’diyah itu menjelaskan, sebelum berkompetisi pada lomba dacil, dia biasa mengasah kemampuan dakwahnya di TPQ Al Ikhlas tempatnya mengaji. Dia sering tampil di depan santri TPQ yang diasuh ibunya sendiri.
Dengan ditonton santri TPQ mulai usia pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga SMP, rasa percaya diri Raisa terus tumbuh. ‘’Dulu kalau mau maju deg-degan banget, sekarang enggak karena sudah terbiasa,’’ kata dia.
Raisa menuturkan, hal yang paling sulit dalam berdakwah adalah mengatur intonasi suara. Ada saatnya dia harus berbicara tegas dan keras.
Dan, ada kalanya harus lemah lembut. Seperti ketika dakwah tentang larangan agama, harus ada penekanan kata.
Ketika menyampaikan materi tentang ajakan, intonasi suara harus lemah lembut. ‘’Itu penting agar dakwah kita mengena. Dan itu yang paling sulit,’’ tutur dia.
Mulyadi, kepala SDIT Al Uswah mengatakan, selain pandai berdakwah, Raisa juga dikenal sebagai hafiz muda. Saat ini, dia hampir hafal 4 juz Alquran.
Sementara teman seusianya hanya mampu menghafal rata-rata 1 juz saja. Di bidang akademis, Raisa juga unggul.
Hampir seluruh kemampuan menguasai pelajaran di atas rata-rata. ‘’Dia memang aktif di kelas. Anaknya memang tidak bisa diam,’’ tutur dia.
Editor : Bachtiar Febrianto