alexametrics
26 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Sekolah Lapangan Pertanian Mendorong Petani Mandiri

LASMIDI, warga Desa Brabowan, Kabupaten Bojonegoro sangat bangga dengan capaiannya dalam pemakaian pupuk organik. ”Dulu, saya menggunakan 700 kg pupuk kimia untuk lahan seluas lima hektare. Sekarang, cukup 75 kg,” ujarnya. Lasmidi menjelaskan, sebagian besar kebutuhan pupuk dipenuhi dari pupuk cair organik dan kompos. 

Perubahan pola ini merupakah salah satu buah Program Sekolah Lapangan Pertanian (SLP) yang diinisiasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas dan bermitra dengan lembaga swadaya masyarakat bernama Yayasan Daun Bendera Nusantara (Field Indonesia). 

Program ini dilaksanakan untuk menjawab tantangan yang dihadapi para petani, misalnya pengetahuan ilmu pertanian yang terus berkembang, ketergantungan pada pupuk kimia, strategi pemasaran, dan sebagainya.  Pelaksanaannya dimulai pada 2019 dengan melibatkan petani lokal secara partisipatif, SLP juga bisa dimaknai sebagai wadah belajar petani bersama. 

Baca Juga :  Bagi Gadis ini Mengajar adalah Bentuk Pengabdian

Para petani difasilitasi untuk berbagi pengalaman dan juga permasalahan oleh seorang petani pemandu. Hasil dari diskusi kelompok  kemudian dipraktikkan pada petak lahan uji coba. Ada dua petak digunakan untuk bertanam sesuai dengan kebiasaan lama petani. Petak kedua digunakan untuk menerapkan metode baru bertani sebagaimana dibahas dalam diskusi kelompok. 

SLP juga memiliki kurikulum dan pertemuan rutin yang terjadwal. Ada juga model pembelajaran tematik, yaitu sarana belajar bersama dengan topik ditentukan sendiri oleh para petani. 

Kegiatan lainnya adalah ”Studi Petani”, yaitu upaya riset bersama terkait pertanian. Studi ini mencakup pemanfaatan lahan pekarangan, pengolahan pasca panen dan sebagainya. Semua itu bermuara pada upaya mengoptimalkan potensi komoditas desa agar lebih memberikan nilai tambah pada petani. 

Baca Juga :  Sertu Mulyono Ikut Senam Bersama Bocah SD

Program ini telah memberikan manfaat nyata bagi para petani. Lasmudi salah satunya. Tak hanya mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia secara signifikan, para pembeli berasnya juga menyampaikan bahwa nasi yang dihasilkan dari beras tersebut jauh lebih enak jika dibandingkan dengan beras sebelumnya saat masih menggunakan pupuk kimia. 

”Program SLP ini merupakan wujud kontribusi perusahaan pada peningkatan kapasitas dan kesejahteraan petani,” ujar Ichwan Arifin, External Affairs Manager EMCL.

LASMIDI, warga Desa Brabowan, Kabupaten Bojonegoro sangat bangga dengan capaiannya dalam pemakaian pupuk organik. ”Dulu, saya menggunakan 700 kg pupuk kimia untuk lahan seluas lima hektare. Sekarang, cukup 75 kg,” ujarnya. Lasmidi menjelaskan, sebagian besar kebutuhan pupuk dipenuhi dari pupuk cair organik dan kompos. 

Perubahan pola ini merupakah salah satu buah Program Sekolah Lapangan Pertanian (SLP) yang diinisiasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas dan bermitra dengan lembaga swadaya masyarakat bernama Yayasan Daun Bendera Nusantara (Field Indonesia). 

Program ini dilaksanakan untuk menjawab tantangan yang dihadapi para petani, misalnya pengetahuan ilmu pertanian yang terus berkembang, ketergantungan pada pupuk kimia, strategi pemasaran, dan sebagainya.  Pelaksanaannya dimulai pada 2019 dengan melibatkan petani lokal secara partisipatif, SLP juga bisa dimaknai sebagai wadah belajar petani bersama. 

Baca Juga :  Tertabrak KA, Pengendara Motor Pingsan

Para petani difasilitasi untuk berbagi pengalaman dan juga permasalahan oleh seorang petani pemandu. Hasil dari diskusi kelompok  kemudian dipraktikkan pada petak lahan uji coba. Ada dua petak digunakan untuk bertanam sesuai dengan kebiasaan lama petani. Petak kedua digunakan untuk menerapkan metode baru bertani sebagaimana dibahas dalam diskusi kelompok. 

SLP juga memiliki kurikulum dan pertemuan rutin yang terjadwal. Ada juga model pembelajaran tematik, yaitu sarana belajar bersama dengan topik ditentukan sendiri oleh para petani. 

Kegiatan lainnya adalah ”Studi Petani”, yaitu upaya riset bersama terkait pertanian. Studi ini mencakup pemanfaatan lahan pekarangan, pengolahan pasca panen dan sebagainya. Semua itu bermuara pada upaya mengoptimalkan potensi komoditas desa agar lebih memberikan nilai tambah pada petani. 

Baca Juga :  Brigadir Johan Bantu Kesuksesan TMMD 106 Kodim Cilacap

Program ini telah memberikan manfaat nyata bagi para petani. Lasmudi salah satunya. Tak hanya mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia secara signifikan, para pembeli berasnya juga menyampaikan bahwa nasi yang dihasilkan dari beras tersebut jauh lebih enak jika dibandingkan dengan beras sebelumnya saat masih menggunakan pupuk kimia. 

”Program SLP ini merupakan wujud kontribusi perusahaan pada peningkatan kapasitas dan kesejahteraan petani,” ujar Ichwan Arifin, External Affairs Manager EMCL.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/