alexametrics
23.3 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Bermula Dorong Gerobak Sendirian, Kini Omzet Puluhan Juta

STIGMA masyarakat terkait remehnya jualan es teh masih melekat. Seperti menutup telinga, Septi terus melangkah berjualan. Alumnus pondok pesantren (ponpes) ini mampu mengembangkan waralaba es teh.

Menyesuaikan janji bertemu dan wawancara dengan Budi Septiani perlu berulang kali. Karena menyesuaikan jadwal bekerja suaminya. Septi, panggilan akrabnya saat itu diantar suami bepergian.

Menunggu sekitar satu jam, wartawan Jawa Pos Radar Bojonegoro berbincang-bincang dengan salah satu pengelola outlet, Yanti. Kebetulan saat itu pengecekan stok es teh.

Ternyata, perempuan asal Jakarta itu sedari awal kenal dengan Septi sudah bekerja dengannya. Mengelola ketersediaan dan pembukuan setiap hari. Bincang akrab terjalin. Sambil lesehan di salah satu outlet di Jalan Mastrip, sesekali menyeruput es cokelat rasa kopi.

Mencari orang kepercayaan ketika menjalankan bisnis tidak mudah. Beberapa saat kemudian, salah satu pegawai menelepon. Obrolan terputus dan Yanti mempersilakan pindah tempat. Menuju rumahnya persis di belakang outlet.

Beberapa saat, Septi datang. Mengenakan jilbab motif dan gamis abu-abu. Dia terlihat menyambangi outlet sebentar. Baru menuju kediaman Yanti. ‘’Maaf lama,’’ ucapnya sambil berekspresi sungkan.

Baca Juga :  Harga Jagung Merosot, Petani Merugi

Parasnya ayu dengan celak hitam dan lipstik lembut. Ia duduk bersama suami, Rizal. Yang mendukung penuh usaha Septi. Tak pernah memandang sebelah mata pada istrinya terpaut jarak 14 tahun lebih muda.

Perempuan kelahiran 1992 itu menceritakan modal awal menggunakan biaya seadanya. Selepas itu, diputar kembali membuka outlet lainnya. Tak pernah menggantungkan 100 persen pada penghasilan suaminya.

‘’Pertama buka di Jalan Panglima Sudirman. Dekat rumah. Waktu dagang tidak minta izin suami karena saat itu dia sedang kerja. Dorong sendiri gerobaknya. Gerobak dari kayu. Tidak seperti sekarang gerobaknya lebih ringan karena dari aluminium,’’ kata alumni Ponpes Attanwir Talun, Kecamatan Sumberejo itu.

Sekitar lebih satu bulan, Septi menjalankan bisnis es teh. Hingga membuka cabang di Kecamatan Sugihwaras. Stigma dari warga mulai bermunculan. Mulai mempertanyakan dagangannya.

‘’Semua orang bisa membuat es teh sendiri di rumah. Kenapa dijadikan dagangan. Hal itu tapi tidak melunturkan semangat. Saya ingin membuktikan dari keremehan itu menjadi sesuatu memiliki nilai besar,’’ katanya.

Baca Juga :  Awas, Black Campaign Lewat Sosmed Makin Ramai

Setelah membuka cabang, Septi tidak lagi terjun lapangan. Dia mengandalkan tiga orang pengelola dan kurang lebih 30 pegawai di masing-masing outlet. Sehingga pekerjaannya bisa disambil mengurus rumah. Sementara dia hanya mempersiapkan bahan baku jualan saja.

Mulai dari resep es teh original maupun rasa, hingga stok gelas. ‘’Kuncinya hanya satu ketika menjalankan usaha. Harus selalu konsisten. Baik dari segi rasa hingga jam operasional. Karena orang masih belum tahu brand saya itu apa. Jadi perlu usaha lebih keras,’’ kata perempuan tinggal di Jalan Panglima Sudirman itu.

Septi saat ini memiliki 54 outlet tersebar di Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban. Hingga bisa membuka jasa franchise atau waralaba bagi orang masih bingung mau membuka usaha apa.

Pembicaraan sedikit terputus. Ketika Septi menerima telepon. Nadanya tegas dan kalimatnya lugas. Tidak seperti saat pembicaraan masih berlangsung. Terkesan malu-malu dan ragu. Per bulan ia bisa mendapat omzet kurang lebih Rp 20 juta. Ada kebanggan sendiri ketika orang-orang memegang gelas es teh dari produknya saat melintasi jalan.

STIGMA masyarakat terkait remehnya jualan es teh masih melekat. Seperti menutup telinga, Septi terus melangkah berjualan. Alumnus pondok pesantren (ponpes) ini mampu mengembangkan waralaba es teh.

Menyesuaikan janji bertemu dan wawancara dengan Budi Septiani perlu berulang kali. Karena menyesuaikan jadwal bekerja suaminya. Septi, panggilan akrabnya saat itu diantar suami bepergian.

Menunggu sekitar satu jam, wartawan Jawa Pos Radar Bojonegoro berbincang-bincang dengan salah satu pengelola outlet, Yanti. Kebetulan saat itu pengecekan stok es teh.

Ternyata, perempuan asal Jakarta itu sedari awal kenal dengan Septi sudah bekerja dengannya. Mengelola ketersediaan dan pembukuan setiap hari. Bincang akrab terjalin. Sambil lesehan di salah satu outlet di Jalan Mastrip, sesekali menyeruput es cokelat rasa kopi.

Mencari orang kepercayaan ketika menjalankan bisnis tidak mudah. Beberapa saat kemudian, salah satu pegawai menelepon. Obrolan terputus dan Yanti mempersilakan pindah tempat. Menuju rumahnya persis di belakang outlet.

Beberapa saat, Septi datang. Mengenakan jilbab motif dan gamis abu-abu. Dia terlihat menyambangi outlet sebentar. Baru menuju kediaman Yanti. ‘’Maaf lama,’’ ucapnya sambil berekspresi sungkan.

Baca Juga :  Awas, Black Campaign Lewat Sosmed Makin Ramai

Parasnya ayu dengan celak hitam dan lipstik lembut. Ia duduk bersama suami, Rizal. Yang mendukung penuh usaha Septi. Tak pernah memandang sebelah mata pada istrinya terpaut jarak 14 tahun lebih muda.

Perempuan kelahiran 1992 itu menceritakan modal awal menggunakan biaya seadanya. Selepas itu, diputar kembali membuka outlet lainnya. Tak pernah menggantungkan 100 persen pada penghasilan suaminya.

‘’Pertama buka di Jalan Panglima Sudirman. Dekat rumah. Waktu dagang tidak minta izin suami karena saat itu dia sedang kerja. Dorong sendiri gerobaknya. Gerobak dari kayu. Tidak seperti sekarang gerobaknya lebih ringan karena dari aluminium,’’ kata alumni Ponpes Attanwir Talun, Kecamatan Sumberejo itu.

Sekitar lebih satu bulan, Septi menjalankan bisnis es teh. Hingga membuka cabang di Kecamatan Sugihwaras. Stigma dari warga mulai bermunculan. Mulai mempertanyakan dagangannya.

‘’Semua orang bisa membuat es teh sendiri di rumah. Kenapa dijadikan dagangan. Hal itu tapi tidak melunturkan semangat. Saya ingin membuktikan dari keremehan itu menjadi sesuatu memiliki nilai besar,’’ katanya.

Baca Juga :  Usulkan 518 Formasi

Setelah membuka cabang, Septi tidak lagi terjun lapangan. Dia mengandalkan tiga orang pengelola dan kurang lebih 30 pegawai di masing-masing outlet. Sehingga pekerjaannya bisa disambil mengurus rumah. Sementara dia hanya mempersiapkan bahan baku jualan saja.

Mulai dari resep es teh original maupun rasa, hingga stok gelas. ‘’Kuncinya hanya satu ketika menjalankan usaha. Harus selalu konsisten. Baik dari segi rasa hingga jam operasional. Karena orang masih belum tahu brand saya itu apa. Jadi perlu usaha lebih keras,’’ kata perempuan tinggal di Jalan Panglima Sudirman itu.

Septi saat ini memiliki 54 outlet tersebar di Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban. Hingga bisa membuka jasa franchise atau waralaba bagi orang masih bingung mau membuka usaha apa.

Pembicaraan sedikit terputus. Ketika Septi menerima telepon. Nadanya tegas dan kalimatnya lugas. Tidak seperti saat pembicaraan masih berlangsung. Terkesan malu-malu dan ragu. Per bulan ia bisa mendapat omzet kurang lebih Rp 20 juta. Ada kebanggan sendiri ketika orang-orang memegang gelas es teh dari produknya saat melintasi jalan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/