alexametrics
26 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Minta Saksi Tenaga Medis, Sunah Ajukan Penangguhan Penahanan

KOTA – Sunah, tersangka kasus dugaan korupsi dana bantuan operasional sekolah (BOS) 2012 – 2016 tidak mau tinggal di sel Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Lamongan.

Pria yang saat ini menjabat kepala Cabang Dinas Pendidikan  Jawa Timur Wilayah Lamongan itu berencana mengajukan penangguhan penahanan.

Untuk memerkuat argumentasi tentang pengajuan penangguhan penahanan itu, Sunah juga menyiapkan jurus alasan. Mantan manajer PEP BOS Disdik Lamongan itu meminta penyidik kejaksaan negeri (kejari) setempat menghadirkan saksi dari tenaga medis.

‘’Rencana kami setelah Idul Adha akan mengajukan itu (penangguhan). Namun kami meminta penyidik untuk menghadirkan saksi dari tenaga medis dulu,’’ kata Wellem Mintarja, penasihat hukum Sunah kemarin (30/8).

Saksi dari tenaga medis itu dibutuhkan untuk memeriksa kondisi kesehatan Sunah. Tersangka mengaku masih menjalani perawatan jalan untuk penyakit pencernaan yang dideritanya. 

Baca Juga :  Bakal Diterangi 16 PJU Lagi

Menurut Wellem, kliennya akan bersikap kooperatif terhadap proses hukum yang sedang berjalan. Karena pertimbangan kesehatan, pihaknya akan mengajukan penangguhan penahanan.

Apalagi, pengajuan penangguhan penahanan itu juga diatur dalam KUHAP. ‘’Kalau tidak sakit, tak mungkin mengajukan itu,’’ lanjutnya.

Sementara itu, Kejari Lamongan tetap akan melakukan penahanan terhadap Sunah. Tersangka yang diduga merugikan negara sekitar Rp 240 juta itu pada pemanggilan pertama dan kedua tidak memenuhi panggilan. ‘’Pengajuan itu menjadi hak yang bersangkutan,’’ kata Kasi Intelijen Kejari Lamongan, IT Budiyanto.

Seperti diberitakan, setelah dua kali tidak memenuhi panggilan kejari, Sunah akhirnya mendatangi kantor lembaga penegak hukum tersebut Selasa (29/8). Setelah menjalani pemeriksaan, Sunah kemudian ditahan dan dititipkan di Lapas Lamongan. Penyidik beralasan tersangka akan menghambat proses hukum.

Baca Juga :  Target Parkir di Bawah Realisasi 2018

Dalam kasus ini, penyidik menjerat tersangka dengan pasal 12 huruf (e) dan pasal 11 Undang Undang No 20 Tahun 2001. Saat menjabat sebagai manajer BOS 2012-2016, tersangka diduga menyalahgunakan jabatannya. Ancaman hukumannya, minimal 3 tahun penjara. 

Selain Sunah, kasus dugaan penyelewengan dana BOS ini juga menyeret  Asmungi, 53, kepala UPT Disdik Kecamatan Modo. Kasus itu menjeratnya saat dia menjabat kepala UPT Disdik Kecamatan Ngimbang.

Asmungi juga dinyatakan Kejari Lamongan terseret kasus lainnya. Yakni dugaan pemotongan dana tunjangan profesi pendidik (TPP) dan gaji PNS guru se-Kecamatan Ngimbang. Sejak Selasa (9/8) Asmungi dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Lamongan. Meski ada dua orang yang terlibat, kejari memisahkan berkas perkara keduanya.

KOTA – Sunah, tersangka kasus dugaan korupsi dana bantuan operasional sekolah (BOS) 2012 – 2016 tidak mau tinggal di sel Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Lamongan.

Pria yang saat ini menjabat kepala Cabang Dinas Pendidikan  Jawa Timur Wilayah Lamongan itu berencana mengajukan penangguhan penahanan.

Untuk memerkuat argumentasi tentang pengajuan penangguhan penahanan itu, Sunah juga menyiapkan jurus alasan. Mantan manajer PEP BOS Disdik Lamongan itu meminta penyidik kejaksaan negeri (kejari) setempat menghadirkan saksi dari tenaga medis.

‘’Rencana kami setelah Idul Adha akan mengajukan itu (penangguhan). Namun kami meminta penyidik untuk menghadirkan saksi dari tenaga medis dulu,’’ kata Wellem Mintarja, penasihat hukum Sunah kemarin (30/8).

Saksi dari tenaga medis itu dibutuhkan untuk memeriksa kondisi kesehatan Sunah. Tersangka mengaku masih menjalani perawatan jalan untuk penyakit pencernaan yang dideritanya. 

Baca Juga :  Sally Atyasasmi Konsisten Perjuangan Nasib Petani

Menurut Wellem, kliennya akan bersikap kooperatif terhadap proses hukum yang sedang berjalan. Karena pertimbangan kesehatan, pihaknya akan mengajukan penangguhan penahanan.

Apalagi, pengajuan penangguhan penahanan itu juga diatur dalam KUHAP. ‘’Kalau tidak sakit, tak mungkin mengajukan itu,’’ lanjutnya.

Sementara itu, Kejari Lamongan tetap akan melakukan penahanan terhadap Sunah. Tersangka yang diduga merugikan negara sekitar Rp 240 juta itu pada pemanggilan pertama dan kedua tidak memenuhi panggilan. ‘’Pengajuan itu menjadi hak yang bersangkutan,’’ kata Kasi Intelijen Kejari Lamongan, IT Budiyanto.

Seperti diberitakan, setelah dua kali tidak memenuhi panggilan kejari, Sunah akhirnya mendatangi kantor lembaga penegak hukum tersebut Selasa (29/8). Setelah menjalani pemeriksaan, Sunah kemudian ditahan dan dititipkan di Lapas Lamongan. Penyidik beralasan tersangka akan menghambat proses hukum.

Baca Juga :  Pengacara Belum Bersikap

Dalam kasus ini, penyidik menjerat tersangka dengan pasal 12 huruf (e) dan pasal 11 Undang Undang No 20 Tahun 2001. Saat menjabat sebagai manajer BOS 2012-2016, tersangka diduga menyalahgunakan jabatannya. Ancaman hukumannya, minimal 3 tahun penjara. 

Selain Sunah, kasus dugaan penyelewengan dana BOS ini juga menyeret  Asmungi, 53, kepala UPT Disdik Kecamatan Modo. Kasus itu menjeratnya saat dia menjabat kepala UPT Disdik Kecamatan Ngimbang.

Asmungi juga dinyatakan Kejari Lamongan terseret kasus lainnya. Yakni dugaan pemotongan dana tunjangan profesi pendidik (TPP) dan gaji PNS guru se-Kecamatan Ngimbang. Sejak Selasa (9/8) Asmungi dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Lamongan. Meski ada dua orang yang terlibat, kejari memisahkan berkas perkara keduanya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/