alexametrics
26.4 C
Bojonegoro
Thursday, May 19, 2022

11 SMAN Kekurangan Siswa, Ada 565 Bangku Kosong

Radar Bojonegoro – Proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMAN sudah berakhir. Jalur zonasi sebagai tahap akhir sudah rampung. Hasilnya, ternyata belum membahagiakan. Ada 565 bangku kosong. Itu setelah 11 SMAN pagu siswa belum terisi penuh.

Pagu jalur zonasi sebanyak 20 SMAN se Bojonegoro sebanyak 2.854 siswa. Namun, hingga batas akhir pendaftaran, hanya terisi 2.289 siswa atau 80 persen. Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) Jawa Timur Wilayah Bojonegoro-Tuban meminta SMAN harus evaluasi. Termasuk perlunya strategi agar pagu bisa terpenuhi.

Pada jalur zonasi ini hanya sembilan SMAN yang mampu memenuhi pagu. Antara lain SMAN 1 Bojonegoro, SMAN 2 Bojonegoro, SMAN 4 Bojonegoro, SMAN Baureno, SMAN Kalitidu, SMAN Padangan, SMAN Sumberrejo, SMAN Kedungadem, dan SMAN Ngraho.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) Jawa Timur Wilayah Bojonegoro-Tuban Adi Prayitno mengatakan, jalur zonasi SMAN sudah berakhir. Tahapan PPDB untuk jenjang SMAN juga berkahir. “Berikutnya daftar ulang masih 14-19 Juni,” katanya kemarin (30/5).

Baca Juga :  Tangani 373 Laporan Tawon Ndas, Satu Korban Meninggal

Adi membenarkan ada SMAN yang pagunya tidak terpenuhi. Faktornya tidak ada siswa, jumlah lulusan SMP dan MTs menurun. Sedangkan jumlah SMAN terlalu banyak, sehingga saling berebut siswa. “Hampir di setiap kecamatan ada sekolah negeri. Juga menjamur sekolah swasta,” tuturnya.

Apalagi SMAN maupun SMKN di wilayah perkotaan memiliki rombongan belajar (rombel) besar. Sehingga nantinya perlu evaluasi untuk pemerataan pembelajaran. Menurut Adi, ke depannya SMAN harus mampu mem-branding sekolahnya. Sehingga mampu menyedot calon siswa tidak terbatas dari Kabupetan Bojonegoro. Sebaliknya, SMAN bisa menggeret pendaftar dari luar kota. “Jika SMAN unggulan, dari manamana akan mendaftar,” ujarnya.

Kacabdisdik mengingatkan agar semua SMA negeri maupun swasta harus ada upaya berburu siswa yang belum sekolah. Jangan sampai terdapat lulusan SMP dan MTs tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. “Diajak dan dirayu untuk sekolah untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) Bojonegoro. Ketika ada hambatan, biaya bisa dikonsultasikan ke cabdin,” ujar mantan Kacabdisdik Nganjuk itu.

Baca Juga :  Gadis ini Bangga akan Wisata Bojonegoro

Adi meminta jangan sampai terjadi selisih paham antar SMAN terkait PPDB. Tujuan utama PPDB ini mengakomodir kepentingan anak bangsa dalam menempuh pendidikan. “Berebut hingga terjadi gesekan,” terangnya.

Disinggung PPDB susulan jenjang SMAN? Adi menegaskan secara aturan belum ada. Sedangkan, untuk SMKN masih ada jalur prestasi nilai akademik dengan pagu mencapai 65 persen. Sehingga mungkin pendaftar belum memilih sekolah, mendaftar jalur terkahir PPDB SMKN tersebut. “Tidak ada komplain dari wali siswa,” klaimnya. (irv)

Radar Bojonegoro – Proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMAN sudah berakhir. Jalur zonasi sebagai tahap akhir sudah rampung. Hasilnya, ternyata belum membahagiakan. Ada 565 bangku kosong. Itu setelah 11 SMAN pagu siswa belum terisi penuh.

Pagu jalur zonasi sebanyak 20 SMAN se Bojonegoro sebanyak 2.854 siswa. Namun, hingga batas akhir pendaftaran, hanya terisi 2.289 siswa atau 80 persen. Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) Jawa Timur Wilayah Bojonegoro-Tuban meminta SMAN harus evaluasi. Termasuk perlunya strategi agar pagu bisa terpenuhi.

Pada jalur zonasi ini hanya sembilan SMAN yang mampu memenuhi pagu. Antara lain SMAN 1 Bojonegoro, SMAN 2 Bojonegoro, SMAN 4 Bojonegoro, SMAN Baureno, SMAN Kalitidu, SMAN Padangan, SMAN Sumberrejo, SMAN Kedungadem, dan SMAN Ngraho.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) Jawa Timur Wilayah Bojonegoro-Tuban Adi Prayitno mengatakan, jalur zonasi SMAN sudah berakhir. Tahapan PPDB untuk jenjang SMAN juga berkahir. “Berikutnya daftar ulang masih 14-19 Juni,” katanya kemarin (30/5).

Baca Juga :  Antibodi Pendonor Rendah, Stok Plasma Konvalesen Kosong

Adi membenarkan ada SMAN yang pagunya tidak terpenuhi. Faktornya tidak ada siswa, jumlah lulusan SMP dan MTs menurun. Sedangkan jumlah SMAN terlalu banyak, sehingga saling berebut siswa. “Hampir di setiap kecamatan ada sekolah negeri. Juga menjamur sekolah swasta,” tuturnya.

Apalagi SMAN maupun SMKN di wilayah perkotaan memiliki rombongan belajar (rombel) besar. Sehingga nantinya perlu evaluasi untuk pemerataan pembelajaran. Menurut Adi, ke depannya SMAN harus mampu mem-branding sekolahnya. Sehingga mampu menyedot calon siswa tidak terbatas dari Kabupetan Bojonegoro. Sebaliknya, SMAN bisa menggeret pendaftar dari luar kota. “Jika SMAN unggulan, dari manamana akan mendaftar,” ujarnya.

Kacabdisdik mengingatkan agar semua SMA negeri maupun swasta harus ada upaya berburu siswa yang belum sekolah. Jangan sampai terdapat lulusan SMP dan MTs tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. “Diajak dan dirayu untuk sekolah untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) Bojonegoro. Ketika ada hambatan, biaya bisa dikonsultasikan ke cabdin,” ujar mantan Kacabdisdik Nganjuk itu.

Baca Juga :  Kolaborasi Babinkantibmas dan Pengusaha Muda Kelurahan Banaran, Babat

Adi meminta jangan sampai terjadi selisih paham antar SMAN terkait PPDB. Tujuan utama PPDB ini mengakomodir kepentingan anak bangsa dalam menempuh pendidikan. “Berebut hingga terjadi gesekan,” terangnya.

Disinggung PPDB susulan jenjang SMAN? Adi menegaskan secara aturan belum ada. Sedangkan, untuk SMKN masih ada jalur prestasi nilai akademik dengan pagu mencapai 65 persen. Sehingga mungkin pendaftar belum memilih sekolah, mendaftar jalur terkahir PPDB SMKN tersebut. “Tidak ada komplain dari wali siswa,” klaimnya. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/