alexametrics
30.3 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Harus Reklamasi Lahan Dulu

BABAT – Pengembangan obyek wisata bekas galian C Puncak Wangi Babat belum bisa direalisasikan segera. Sebab, persoalan izin masih sebatas konsultasi.

‘’Selain dana, kita masih perlu konsultasi mengenai izin bekas galian tersebut,” ujar Camat Babat, Mulkan.

Menurut dia, secara potensi, Puncak Wangi memiliki daya pikat sendiri. Kawasan tersebut bisa menjadi obyek wisata buatan. Apalagi, ada telaga di dekat Puncak Wangi. Meskipun, sampai sekarang kondisinya tidak terawat.

Dia pernah menanyakan masalah izin ke pemkab. Namun, kewenangan kawasan tersebut ternyata ada di Pemprov Jatim.

Saat ini, Puncak Wangi menjadi jujukan pecinta olahraga sepeda. Lokasinya yang menantang membuat mereka penasaran untuk menjelajah. Jika ada sedikit perbaikan, maka Mulkan optimistis Puncak Wangi akan menjadi obyek wisata di wilayah barat. Saat ini masih dilakukan pengurukan untuk akses jalannya.  Sedangkan pengembangan wisata masih dikomunikasikan dengan instansi terkait. “Kalau mau dikembangkan pasti, tapi kita konsultasikan dulu termasuk izinnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Merasa Dibatalkan Sepihak

Dikonfirmasi terpisah, Asisten Ekonomi Pembangunan Setda Lamongan, Faiz Junaidi, mengatakan, secara prinsip, bisa saja Puncak Wangi dikembangkan menjadi wisata. Namun, harus dipastikan apakah sudah sesuai rencana pelaksanaan reklamasi lahan seperti yang tertuang dalam izin lingkungan dan izin pertambangannya. Sebab, sesuai data bagian perekonomian, izin tambang di Puncak Wangi berlaku sampai 2020. Hanya kegiatan sementara berhenti, karena ajuan izin dan pemanfaatan lahan tidak sesuai. 

Faiz menuturkan, kegiatan tambang itu berhenti karena kemauan dari pemohon izin. Dia belum menerima laporan kelanjutan kegiatan. Hanya untuk dimanfaatkan sebagai obyek wisata sepertinya belum bisa. Sebab, harus dilakukan reklamasi lahan untuk menyesuaikan izin lingkungannya. “Kalau langsung dimanfaatkan akan beresiko, dan izin ini diterbitkan langsung oleh provinsi, daerah hanya memantau saja,” jelasnya.

Baca Juga :  Server Sirekap Down, Rekap Kecamatan Dimulai Besok

BABAT – Pengembangan obyek wisata bekas galian C Puncak Wangi Babat belum bisa direalisasikan segera. Sebab, persoalan izin masih sebatas konsultasi.

‘’Selain dana, kita masih perlu konsultasi mengenai izin bekas galian tersebut,” ujar Camat Babat, Mulkan.

Menurut dia, secara potensi, Puncak Wangi memiliki daya pikat sendiri. Kawasan tersebut bisa menjadi obyek wisata buatan. Apalagi, ada telaga di dekat Puncak Wangi. Meskipun, sampai sekarang kondisinya tidak terawat.

Dia pernah menanyakan masalah izin ke pemkab. Namun, kewenangan kawasan tersebut ternyata ada di Pemprov Jatim.

Saat ini, Puncak Wangi menjadi jujukan pecinta olahraga sepeda. Lokasinya yang menantang membuat mereka penasaran untuk menjelajah. Jika ada sedikit perbaikan, maka Mulkan optimistis Puncak Wangi akan menjadi obyek wisata di wilayah barat. Saat ini masih dilakukan pengurukan untuk akses jalannya.  Sedangkan pengembangan wisata masih dikomunikasikan dengan instansi terkait. “Kalau mau dikembangkan pasti, tapi kita konsultasikan dulu termasuk izinnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Baru Unggah 11 Persen Data Coblosan

Dikonfirmasi terpisah, Asisten Ekonomi Pembangunan Setda Lamongan, Faiz Junaidi, mengatakan, secara prinsip, bisa saja Puncak Wangi dikembangkan menjadi wisata. Namun, harus dipastikan apakah sudah sesuai rencana pelaksanaan reklamasi lahan seperti yang tertuang dalam izin lingkungan dan izin pertambangannya. Sebab, sesuai data bagian perekonomian, izin tambang di Puncak Wangi berlaku sampai 2020. Hanya kegiatan sementara berhenti, karena ajuan izin dan pemanfaatan lahan tidak sesuai. 

Faiz menuturkan, kegiatan tambang itu berhenti karena kemauan dari pemohon izin. Dia belum menerima laporan kelanjutan kegiatan. Hanya untuk dimanfaatkan sebagai obyek wisata sepertinya belum bisa. Sebab, harus dilakukan reklamasi lahan untuk menyesuaikan izin lingkungannya. “Kalau langsung dimanfaatkan akan beresiko, dan izin ini diterbitkan langsung oleh provinsi, daerah hanya memantau saja,” jelasnya.

Baca Juga :  Kuasai Resep Berbagai Negara

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/