alexametrics
24 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Lulusan PAI Sempat Disapa Sarjana Limbah

NIHILNYA modal, tak menyurutkan semangat Munib untuk berusaha. Belajar secara otodidak dan mengambil ilmu dari pedagang asongan. Kini, hasil olahan limbahnya mampu mengundang daya tarik pembeli.

Bus-Bus parkir berjajar di Kebun Belimbing kemarin (30/3). Pengunjung bergegas masuk ke lokasi wisata di tepi Sungai Bengawan Solo turut Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu itu. Melewati pintu masuk terlihat beragam stan penjual pernak-pernik didominasi anak SD memilih.

Setelah melihat dekat, stan tersebut dijaga seorang pemuda asal Kecamatan Temayang, yakni Abdul Munib. Empat tahun lamanya, dia berjualan pernak-pernik di Kebun Belimbing. Mulai papan nama berbahan kayu, gelang, kalung, hingga bunga berbahan plastik.

Menariknya, karya lulusan pendidikan agama islam (PAI) STAI Bojonegoro ini berbahan limbah atau sampah tak digunakan. Botol, kantong plastik, dan kayu bekas, dia sulapnya menjadi pernak-pernik aksesori.

Minimnya perhatian masyarakat akan sampah plastik menjadi inspirasinya membuat aksesori. “Bojonegoro sudah tergolong darurat sampah plastik. Karena itu, saya pungut ketika melihat sampah atau limbah berterbaran di jalan,” kata pria 30 tahun itu.

Baca Juga :  Jaga Lokajaya biar Tetap Perawan 

Sebelum menutup stan di Kebun Belimbing, setiap harinya Munib menyempatkan diri memungut sampah berserakan. Terkadang juga mengambil limbah di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah dan TPK.

“Saya juga tidak memiliki modal mendirikan usaha. Karena itu, mencoba memanfaatkan limbah menjadi sesuatu mampu dijual,” jelasnya.

Sejak 2007 berusaha membuat aksesori secara otodidak. Dia mengaku tak pernah mengenyam pelatihan-pelatihan yang disediakan pemkab. “Sedikit banyak belajar dari pedagang aksesori asongan di jalanan. Mereka yang menambah pengetahuan saya,” ucap dia.

Munib kerap mendapat kecaman dari orang-orang sekitar, mulai karya jelek, simpel, dan tidak menjual. Namun, Munib tak menghiraukan dan cukup menjawab kecaman tersebut dengan karya. “Bahkan di kampung halaman saya juga kerap dipanggil sarjana limbah atau sampah,” imbuhnya.

Hal itu setelah stannya terlihat tumpukan limbah plastik, kayu, dan ranting pohon. Sekilas stannya terlihat berantakan. Namun, bahan-bahan tersebut dapat diubahnya menjadi pernak-pernik bagus. “Di rumah juga begitu banyak limbah sampah untuk segera diolah,” kata dia.

Seiring berjalannya waktu, karyanya mulai dilirik orang-orang sekitar. Buah tangan ajaibnya yang paling diminati, yakni bunga berbahan plastik. Dalam pembuatannya, dia membutuhkan bahan plastik, besi kawat, korek api, dan lem. “Tapi sekarang stoknya sedang habis dan saya masih belum membuat lagi. Memang produk itu yang paling laku,” tambah dia.

Baca Juga :  Kini Penggarap Sawah Bisa Akses KPM, Target Perlu Tepat Sasaran

Sering kali pembicaraan terpotong karena maraknya pengunjung mampir. Papan nama seukuran gantungan kunci hingga besar dijualnya. Munib juga mampu menyematkan nama pada papan sesuai permintaan. Terlihat pula, alat yang digunakan menulis pun hasil dari tangan ajaibnya. Bukanlah peralatan elektronik canggih pada umumnya.

“Alat menulisnya ini hanya berbahan kayu, kawat, dan charge HP,” jelasnya.

Munib mengaku masih terus belajar dan bereksperimen memunculkan karya kerajinan. Tentunya dengan bahan dari limbah atau sampah. Imajinasi menjadi senjata utamanya. Karya unik tak hanya menjadi daya tarik pembeli.

Sebab, metode berjualan Munib kocak dan gayeng merupakan nilai plus sebagai pengusaha. Tak jarang, dia bergurau dengan pembeli untuk mencairkan suasana. Munib masih mempunyai keinginan dan berencana membuka galeri karya berbahan limbah atau sampah. Dia hendak menunjukkan kepada masyarakat, bahwa modal besar tak menjamin kesuksesan.

NIHILNYA modal, tak menyurutkan semangat Munib untuk berusaha. Belajar secara otodidak dan mengambil ilmu dari pedagang asongan. Kini, hasil olahan limbahnya mampu mengundang daya tarik pembeli.

Bus-Bus parkir berjajar di Kebun Belimbing kemarin (30/3). Pengunjung bergegas masuk ke lokasi wisata di tepi Sungai Bengawan Solo turut Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu itu. Melewati pintu masuk terlihat beragam stan penjual pernak-pernik didominasi anak SD memilih.

Setelah melihat dekat, stan tersebut dijaga seorang pemuda asal Kecamatan Temayang, yakni Abdul Munib. Empat tahun lamanya, dia berjualan pernak-pernik di Kebun Belimbing. Mulai papan nama berbahan kayu, gelang, kalung, hingga bunga berbahan plastik.

Menariknya, karya lulusan pendidikan agama islam (PAI) STAI Bojonegoro ini berbahan limbah atau sampah tak digunakan. Botol, kantong plastik, dan kayu bekas, dia sulapnya menjadi pernak-pernik aksesori.

Minimnya perhatian masyarakat akan sampah plastik menjadi inspirasinya membuat aksesori. “Bojonegoro sudah tergolong darurat sampah plastik. Karena itu, saya pungut ketika melihat sampah atau limbah berterbaran di jalan,” kata pria 30 tahun itu.

Baca Juga :  Tangguh, Gadis ini Jago Rias dan Tari

Sebelum menutup stan di Kebun Belimbing, setiap harinya Munib menyempatkan diri memungut sampah berserakan. Terkadang juga mengambil limbah di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah dan TPK.

“Saya juga tidak memiliki modal mendirikan usaha. Karena itu, mencoba memanfaatkan limbah menjadi sesuatu mampu dijual,” jelasnya.

Sejak 2007 berusaha membuat aksesori secara otodidak. Dia mengaku tak pernah mengenyam pelatihan-pelatihan yang disediakan pemkab. “Sedikit banyak belajar dari pedagang aksesori asongan di jalanan. Mereka yang menambah pengetahuan saya,” ucap dia.

Munib kerap mendapat kecaman dari orang-orang sekitar, mulai karya jelek, simpel, dan tidak menjual. Namun, Munib tak menghiraukan dan cukup menjawab kecaman tersebut dengan karya. “Bahkan di kampung halaman saya juga kerap dipanggil sarjana limbah atau sampah,” imbuhnya.

Hal itu setelah stannya terlihat tumpukan limbah plastik, kayu, dan ranting pohon. Sekilas stannya terlihat berantakan. Namun, bahan-bahan tersebut dapat diubahnya menjadi pernak-pernik bagus. “Di rumah juga begitu banyak limbah sampah untuk segera diolah,” kata dia.

Seiring berjalannya waktu, karyanya mulai dilirik orang-orang sekitar. Buah tangan ajaibnya yang paling diminati, yakni bunga berbahan plastik. Dalam pembuatannya, dia membutuhkan bahan plastik, besi kawat, korek api, dan lem. “Tapi sekarang stoknya sedang habis dan saya masih belum membuat lagi. Memang produk itu yang paling laku,” tambah dia.

Baca Juga :  Deklarasikan Pembangunan Zona Integritas

Sering kali pembicaraan terpotong karena maraknya pengunjung mampir. Papan nama seukuran gantungan kunci hingga besar dijualnya. Munib juga mampu menyematkan nama pada papan sesuai permintaan. Terlihat pula, alat yang digunakan menulis pun hasil dari tangan ajaibnya. Bukanlah peralatan elektronik canggih pada umumnya.

“Alat menulisnya ini hanya berbahan kayu, kawat, dan charge HP,” jelasnya.

Munib mengaku masih terus belajar dan bereksperimen memunculkan karya kerajinan. Tentunya dengan bahan dari limbah atau sampah. Imajinasi menjadi senjata utamanya. Karya unik tak hanya menjadi daya tarik pembeli.

Sebab, metode berjualan Munib kocak dan gayeng merupakan nilai plus sebagai pengusaha. Tak jarang, dia bergurau dengan pembeli untuk mencairkan suasana. Munib masih mempunyai keinginan dan berencana membuka galeri karya berbahan limbah atau sampah. Dia hendak menunjukkan kepada masyarakat, bahwa modal besar tak menjamin kesuksesan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/