alexametrics
26 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Terjadi Lagi, Pemakaman Prokes Sempat Ditolak Keluarga Pasien Covid

Radar Bojonegoro – Ketegangan sempat terjadi di instalasi gawat darurat (IGD) RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro kemarin (29/12). Keluarga pasien meninggal menolak ditangani sesuai protokol kesehatan Covid-19. Mereka ingin jenazah dibawa pulang sendiri dan dimakamkan secara normal. Padahal, hasil rapid test pasien itu reaktif.

Hal itu membuat pihak RSUD harus minta tolong gugus tugas kabupaten untuk menyakinkan pihak keluarga. Humas RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Thomas Djaja menjelaskan, pasien meninggal itu asal Desa Kemamang, Kecamatan Balen. Dia masuk ke IGD RSUD setempat Selasa (28/12) pagi, dengan keluhan sakit ginjal.

Saat penanganan pihak medis melakukan rapid test pada pasien. Hasilnya, reaktif. Kemudian, melanjutkan dengan swab tes PCR untuk hasil yang lebih akurat. Saat hasil test swab PCR tersebut belum keluar, pasien meninggal dunia.

Baca Juga :  Bermuara ke yang Besar Juga

Pihak RSUD kemudian melakukan penanganan sesuai protokol kesehatan. Pihak keluarga menolak. Mereka beranggapan pasien tidak sakit karena positif korona, melainkan karena gagal ginjal. ‘’Kami tidak mau ambil risiko. Sebab, hasil rapid test reaktif, dikhawatirkan terjadi penularan yang lebih luas,’’ ujar Thomas.

Thomas menambahkan, setelah pihak keluarga pasien diyakinkan tim gugus tugas, terdiri dari tim medis RSUD, dinas kesehatan, dan TNI-Polri, akhirnya menerima pemakaman sesuai protokol Covid-19. Jenazah akhirnya dimakamkan sesuai protokol kesehatan, dimasukan ke dalam peti untuk dibawa ke pemakaman. ‘’Disalati boleh. Tapi harus di dalam peti,’’ tandasnya.

Menurut Thomas, selama ini memang banyak masyarakat belum memahami masalah seperti itu. Padahal, tindakan seperti itu diambil untuk kehatihatian. ‘’Kami tidak mau ambil risiko,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Terserempet Truk, Warga Klangon Tewas

Apalagi, lanjutnya, penularan Covid-19 saat ini sedang tinggi. Saat ini tempat perawatan pasien Covid-19 di RSUD masih tersedia. Dari 40 bed yang terpakai sebanyak 28. Itu berbeda dengan kondisi beberapa hari lalu sempat penuh.

‘’Beberapa hari lalu penuh. Posisi hari ini hanya 28 yang terpakai,’’ jelasnya. Meski demikian, kata dia, tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di Bojonegoro juga cukup tinggi. Hingga kini ada 856 pasien sembuh dari total 1.209 kasus positif.

Penyembuhan itu juga dari berbagai cara. Namun, yang paling banyak kesembuhan adalah dengan terapi plasma darah. Sayangnya di Bojonegoro belum ada alat yang bisa mengambil plasma darah pasien positif yang sembuh itu. ‘’Kami mintakan dari Surabaya,’’ pungkasnya.

Radar Bojonegoro – Ketegangan sempat terjadi di instalasi gawat darurat (IGD) RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro kemarin (29/12). Keluarga pasien meninggal menolak ditangani sesuai protokol kesehatan Covid-19. Mereka ingin jenazah dibawa pulang sendiri dan dimakamkan secara normal. Padahal, hasil rapid test pasien itu reaktif.

Hal itu membuat pihak RSUD harus minta tolong gugus tugas kabupaten untuk menyakinkan pihak keluarga. Humas RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Thomas Djaja menjelaskan, pasien meninggal itu asal Desa Kemamang, Kecamatan Balen. Dia masuk ke IGD RSUD setempat Selasa (28/12) pagi, dengan keluhan sakit ginjal.

Saat penanganan pihak medis melakukan rapid test pada pasien. Hasilnya, reaktif. Kemudian, melanjutkan dengan swab tes PCR untuk hasil yang lebih akurat. Saat hasil test swab PCR tersebut belum keluar, pasien meninggal dunia.

Baca Juga :  Tuban Turun Status PPKM Level 2

Pihak RSUD kemudian melakukan penanganan sesuai protokol kesehatan. Pihak keluarga menolak. Mereka beranggapan pasien tidak sakit karena positif korona, melainkan karena gagal ginjal. ‘’Kami tidak mau ambil risiko. Sebab, hasil rapid test reaktif, dikhawatirkan terjadi penularan yang lebih luas,’’ ujar Thomas.

Thomas menambahkan, setelah pihak keluarga pasien diyakinkan tim gugus tugas, terdiri dari tim medis RSUD, dinas kesehatan, dan TNI-Polri, akhirnya menerima pemakaman sesuai protokol Covid-19. Jenazah akhirnya dimakamkan sesuai protokol kesehatan, dimasukan ke dalam peti untuk dibawa ke pemakaman. ‘’Disalati boleh. Tapi harus di dalam peti,’’ tandasnya.

Menurut Thomas, selama ini memang banyak masyarakat belum memahami masalah seperti itu. Padahal, tindakan seperti itu diambil untuk kehatihatian. ‘’Kami tidak mau ambil risiko,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Bekuk 10 Tersangka Curanmor

Apalagi, lanjutnya, penularan Covid-19 saat ini sedang tinggi. Saat ini tempat perawatan pasien Covid-19 di RSUD masih tersedia. Dari 40 bed yang terpakai sebanyak 28. Itu berbeda dengan kondisi beberapa hari lalu sempat penuh.

‘’Beberapa hari lalu penuh. Posisi hari ini hanya 28 yang terpakai,’’ jelasnya. Meski demikian, kata dia, tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di Bojonegoro juga cukup tinggi. Hingga kini ada 856 pasien sembuh dari total 1.209 kasus positif.

Penyembuhan itu juga dari berbagai cara. Namun, yang paling banyak kesembuhan adalah dengan terapi plasma darah. Sayangnya di Bojonegoro belum ada alat yang bisa mengambil plasma darah pasien positif yang sembuh itu. ‘’Kami mintakan dari Surabaya,’’ pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/