alexametrics
31.6 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Penyumbang Tembakau Terbesar di Indonesia

Kini, Bojonegoro merupakan penghasil tembakau jenis virginia terbesar di Indonesia. Tahun ini, produksi tembakau virginia mencapai 7.038 ton, meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu,  3.162 ton.  Sedangkan untuk tembakau jenis jawa, produksi daun kering meningkat signifikan mencapai 3.473 ton.

Dibandingkan tahun lalu, produksinya hanya 1.535 ton. Tembakau jawa ini sering luput dari perhatian.

Sebab, sistem pola tanam salah bisa mengakibatkan produksi tembakau jawa tidak maksimal. 

Selain itu, penjualan tembakau jawa, rata-rata masih diboyong ke Temanggung.

Padahal, harga tembakau jawa ini jauh lebih mahal, di atas Rp 24 ribu per kilogram.

Sehingga, kebanyakan produksi tembakau jawa Bojonegoro banyak di klaim oleh petani luar kota. 

Baca Juga :  Banyak Sarjana Perawat Menganggur

Sementara, tembakau kualitas harganya memang meroket tahun ini. Tembakau jenis virginia RAM harganya tembus Rp 29 ribu per kilogram pada panen tahun ini.

Hal itu dikarenakan kualitas tembakau virginia RAM memang paling baik di antaran lainnya.

Kebutuhan tembakau virginia RAM memang lebih kecil dibandingkan lainnya, produksi tahun ini 6.57 ton. Sedangkan tahun lalu produksinya hanya 2.95 ton. 

Kepala Bidang Tanaman Perkebunan Dinas Pertanian Bojonegoro Imam Wahyudi mengatakan, selama ini Pemkab Bojonegoro hanya fokus kepada kebutuhan tembakau rajangan.

Artinya, Bojonegoro merupakan daerah penghasil tembakau terbesar di Indonesia, baik jenis rajangan, oven ataupun cerutu. 

Hanya, kebutuhan akan tembakau oven dan cerutu sangat sedikit, sehingga perhatian pemerintah terfokus pada rajangan. 

Baca Juga :  Sidang Tuntutan Yuliatin Ditunda

Kebutuhan tembakau rajangan saat ini mencapai 10.600 ton. Kebutuhan tahun ini memang paling tinggi sejak 2011 lalu.

Karena kebutuhan pabrik sedikit dan harga tidak stabil, sehingga selama dua tahun lalu kebutuhan tembakau tidak mencapai 9.000 ton. 

Tetapi, produksi tahun ini dipastikan meningkat signifikan karena petani tidak melakukan pola tanam bersamaan.

Artinya, hingga November masih banyak petani tembakau melakukan panen akhir. ’’Jadi, produksinya sebenarnya melebihi estimasi,” paparnya. 

Kini, Bojonegoro merupakan penghasil tembakau jenis virginia terbesar di Indonesia. Tahun ini, produksi tembakau virginia mencapai 7.038 ton, meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu,  3.162 ton.  Sedangkan untuk tembakau jenis jawa, produksi daun kering meningkat signifikan mencapai 3.473 ton.

Dibandingkan tahun lalu, produksinya hanya 1.535 ton. Tembakau jawa ini sering luput dari perhatian.

Sebab, sistem pola tanam salah bisa mengakibatkan produksi tembakau jawa tidak maksimal. 

Selain itu, penjualan tembakau jawa, rata-rata masih diboyong ke Temanggung.

Padahal, harga tembakau jawa ini jauh lebih mahal, di atas Rp 24 ribu per kilogram.

Sehingga, kebanyakan produksi tembakau jawa Bojonegoro banyak di klaim oleh petani luar kota. 

Baca Juga :  Dilema Tindak Pembuang Sampah

Sementara, tembakau kualitas harganya memang meroket tahun ini. Tembakau jenis virginia RAM harganya tembus Rp 29 ribu per kilogram pada panen tahun ini.

Hal itu dikarenakan kualitas tembakau virginia RAM memang paling baik di antaran lainnya.

Kebutuhan tembakau virginia RAM memang lebih kecil dibandingkan lainnya, produksi tahun ini 6.57 ton. Sedangkan tahun lalu produksinya hanya 2.95 ton. 

Kepala Bidang Tanaman Perkebunan Dinas Pertanian Bojonegoro Imam Wahyudi mengatakan, selama ini Pemkab Bojonegoro hanya fokus kepada kebutuhan tembakau rajangan.

Artinya, Bojonegoro merupakan daerah penghasil tembakau terbesar di Indonesia, baik jenis rajangan, oven ataupun cerutu. 

Hanya, kebutuhan akan tembakau oven dan cerutu sangat sedikit, sehingga perhatian pemerintah terfokus pada rajangan. 

Baca Juga :  Terkandung Zat Aktif untuk Lawan Kanker

Kebutuhan tembakau rajangan saat ini mencapai 10.600 ton. Kebutuhan tahun ini memang paling tinggi sejak 2011 lalu.

Karena kebutuhan pabrik sedikit dan harga tidak stabil, sehingga selama dua tahun lalu kebutuhan tembakau tidak mencapai 9.000 ton. 

Tetapi, produksi tahun ini dipastikan meningkat signifikan karena petani tidak melakukan pola tanam bersamaan.

Artinya, hingga November masih banyak petani tembakau melakukan panen akhir. ’’Jadi, produksinya sebenarnya melebihi estimasi,” paparnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/