alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Makin Hidupkan Iklim E-Sport

Indonesian Football eLeague (IFeleague) 1 mulai digulirkan besok (31/1). Persela merekrut Sakti Aulia Sulistyo sebagai pro player tim di ajang kompetisi virtual yang memertandingkan klub – klub Liga 1 tersebut.

Sakti Aulia Sulistyo merupakan player muda dari Magelang, Jawa Tengah. Pemain kelahiran  Magelang, 28 Juli 1997 itu sudah kenyang pengalaman.
Sebelum bergabung dengan Persela, Sakti pernah membela beberapa klub dalam kompetisi game Pro Evolution Soccer (PES) tersebut. Di antaranya, Raja Esport, SBO Esport, Persikabo Esport, Xavier Esport (Ratchaburi Mitr Phol Thailand).
Dia juga pernah meraih sejumlah prestasi nasional dan internasional. Tahun lalu misalnya. Sakti menunjukkan kemahirannya di level nasional dengan menjuarai  Indonesia Gaming League dan Liga PES. Tahun ini, dia meraih runner-up Open World Finals 2021 dan runner-up GSB E-CUP Thailand 2021.
Dilihat dari latar belakangnya, sejak kecil Sakti termasuk salah satu anak yang kecanduan game. Ketika usianya 5 tahun, dia terbiasa main Nintendo dan PS1. Kegemarannya bermain game itu tidak mendapatkan restu orang tua. Sakti kerap harus mencuri waktu agar dapat bermain game di rental PS yang disewakan per jam.
Dia memutuskan terjun ke dunia game sejak PES 2018. Yakni, saat kualifikasi Asian Games di Jakarta. Dia tidak ingin setengah-setengah.  Sakti mencari informasi tentang komunitas atau wadah yang bisa membantu dalam memfasilitasi perkembangan kemampuannya tersebut. Perjalanannya menemui titik terang ketika bertemu sebuah agensi. Setelah bernaung di agen tersebut, Sakti bisa mengikuti kejuaraan sampai ke kancah internasional.
“Alhamdulillah, saya tergabung di salah satu komunitas yang membantu menyalurkan kemampuan bermain game. Sampai akhirnya bisa dikenal dimana-mana dan menghasilkan pundi-pundi uang,” terangnya.
Ketika e-sport ramai diperbincangkan, Sakti berusaha memelajarinya. Merasa kurang berpengalaman dan jam terbangnya minim, dia kembali berusaha mencari komunitas yang bisa menambah wawasannya. Dari komunitas teman – temannya tersebut, Sakti banyak belajar sampai sekarang.
Dia termotivasi karena melihat anak-anak yang masih sekolah, bisa berpenghasilan. Padahal, Sakti merasa lebih dewasa.
“Intinya game ini harus memberikan dampak positif sehingga saya terus berusaha supaya orang tua juga mengizinkan,” tutur mahasiswa semester akhir S2 Jurusan Managemen Proyek Konstruksi Sipil di UGM Jogjakarta itu.
Orang tuanya yang mengetahui dirinya bergabung dengan esport, akhirnya mendukung. “Selama itu positif dan tidak mengganggu pendidikan, orang tua mendukung,”  imbuhnya.
Jelang berkompetisi IFeleague 1, Sakti meningkatkan porsi latihan. Minimal sehari, dia menyisihkan waktu dua jam untuk latihan mandiri. Tidak ada gaming house atau latihan bersama. Masing-masing player harus memiliki semangat meningkatkan kompetensinya.
Koordinator E-Sport Persela Rizal Jamhari mengatakan, tahun ini Persela mengambil bagian kompetisi virtual tersebut. Manajemen Persela menaruh harapan besar untuk bisa menang. Apalagi, kompetisi ini diakui PSSI dan PT LIB, serta diikuti sebagian besar klub Liga 1.
Menurut dia, Persela ingin menorehkan sejarah yang baik pada keikutsertaan yang pertama ini. “Kita mau buat iklim E-Sport di Lamongan ini semakin hidup dan mendukung dunia sepak bola Lamongan dengan membuat even internal,” terangnya.

Baca Juga :  Balita Diserang Topeng Monyet, Pengawasan Orangtua Harus Lebih Ekstra

Indonesian Football eLeague (IFeleague) 1 mulai digulirkan besok (31/1). Persela merekrut Sakti Aulia Sulistyo sebagai pro player tim di ajang kompetisi virtual yang memertandingkan klub – klub Liga 1 tersebut.

Sakti Aulia Sulistyo merupakan player muda dari Magelang, Jawa Tengah. Pemain kelahiran  Magelang, 28 Juli 1997 itu sudah kenyang pengalaman.
Sebelum bergabung dengan Persela, Sakti pernah membela beberapa klub dalam kompetisi game Pro Evolution Soccer (PES) tersebut. Di antaranya, Raja Esport, SBO Esport, Persikabo Esport, Xavier Esport (Ratchaburi Mitr Phol Thailand).
Dia juga pernah meraih sejumlah prestasi nasional dan internasional. Tahun lalu misalnya. Sakti menunjukkan kemahirannya di level nasional dengan menjuarai  Indonesia Gaming League dan Liga PES. Tahun ini, dia meraih runner-up Open World Finals 2021 dan runner-up GSB E-CUP Thailand 2021.
Dilihat dari latar belakangnya, sejak kecil Sakti termasuk salah satu anak yang kecanduan game. Ketika usianya 5 tahun, dia terbiasa main Nintendo dan PS1. Kegemarannya bermain game itu tidak mendapatkan restu orang tua. Sakti kerap harus mencuri waktu agar dapat bermain game di rental PS yang disewakan per jam.
Dia memutuskan terjun ke dunia game sejak PES 2018. Yakni, saat kualifikasi Asian Games di Jakarta. Dia tidak ingin setengah-setengah.  Sakti mencari informasi tentang komunitas atau wadah yang bisa membantu dalam memfasilitasi perkembangan kemampuannya tersebut. Perjalanannya menemui titik terang ketika bertemu sebuah agensi. Setelah bernaung di agen tersebut, Sakti bisa mengikuti kejuaraan sampai ke kancah internasional.
“Alhamdulillah, saya tergabung di salah satu komunitas yang membantu menyalurkan kemampuan bermain game. Sampai akhirnya bisa dikenal dimana-mana dan menghasilkan pundi-pundi uang,” terangnya.
Ketika e-sport ramai diperbincangkan, Sakti berusaha memelajarinya. Merasa kurang berpengalaman dan jam terbangnya minim, dia kembali berusaha mencari komunitas yang bisa menambah wawasannya. Dari komunitas teman – temannya tersebut, Sakti banyak belajar sampai sekarang.
Dia termotivasi karena melihat anak-anak yang masih sekolah, bisa berpenghasilan. Padahal, Sakti merasa lebih dewasa.
“Intinya game ini harus memberikan dampak positif sehingga saya terus berusaha supaya orang tua juga mengizinkan,” tutur mahasiswa semester akhir S2 Jurusan Managemen Proyek Konstruksi Sipil di UGM Jogjakarta itu.
Orang tuanya yang mengetahui dirinya bergabung dengan esport, akhirnya mendukung. “Selama itu positif dan tidak mengganggu pendidikan, orang tua mendukung,”  imbuhnya.
Jelang berkompetisi IFeleague 1, Sakti meningkatkan porsi latihan. Minimal sehari, dia menyisihkan waktu dua jam untuk latihan mandiri. Tidak ada gaming house atau latihan bersama. Masing-masing player harus memiliki semangat meningkatkan kompetensinya.
Koordinator E-Sport Persela Rizal Jamhari mengatakan, tahun ini Persela mengambil bagian kompetisi virtual tersebut. Manajemen Persela menaruh harapan besar untuk bisa menang. Apalagi, kompetisi ini diakui PSSI dan PT LIB, serta diikuti sebagian besar klub Liga 1.
Menurut dia, Persela ingin menorehkan sejarah yang baik pada keikutsertaan yang pertama ini. “Kita mau buat iklim E-Sport di Lamongan ini semakin hidup dan mendukung dunia sepak bola Lamongan dengan membuat even internal,” terangnya.

Baca Juga :  Kepala Manyung Diburu Pemilik Warung

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/