alexametrics
32.6 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Suka Duka Sungalim, Tim Pemulasaran Jenazah Covid-19 Dinkes Bojonegoro

Radar Bojonegoro – Sungalim tampak sibuk di kantornya ketika ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro, minggu lalu. Lelaki asli Desa Ngujo, Kecamatan Kalitidu, itu bekerja sebagai staf di bidang Pencegahan dan Penelusuran Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro.

Sejak terjadi pandemi Covid-19, Sungalim mendapatkan tugas tambahan. Yakni, sebagai tim pemulasaran jenazah Covid-19 kabupaten. Tugas tidak biasa. Tidak semua orang mau melakukannya. Mengingat risiko terpapar Covid-19 juga tinggi.

Namun, penunjukan itu sama sekali tidak berat baginya. Bukan karena mengangap remeh. Namun, itu adalah sebuah tanggung jawab. Saat semua orang ketakutan dengan jenazah Covid-19, ia yang maju di depan.

Mengurus jenazah. Mulai mengafani, mensalati, hingga menguburkan jenazah itu. ‘’Semua itu harus dilakukan oleh tim,’’ tuturnya. Sejak pandemi Covid -19 melanda pada Maret lalu, Sungalim sudah aktif menangani Covid.

Yakni, menelusuri hingga mene mukan penderita Covid-19. Karena keaktifanya itu, dia kemudian ditunjuk sebagai tim pemulasaran jenazah Covid-19. Menjadi petugas pemulasaran jenazah bukanlah perkara mudah. Salah menerapkan prosedur bisa terinfeksi. Standar operasional prosedur (SOP) harus benarbenar ditaati. Memakai baju hazmat lengkap.

Baca Juga :  Anak 10 Tahun Kecanduan HP

‘’Tanpa APD kita tidak bisa melakukan pemulasaran,’’ jelas pria kelahiran 1970 itu. Prosedur pemulasaran jenazah Covid-19 dilakukan beberapa tahap. Pertama, jenazah harus disemprot disinfektan terlebih dulu. Kemudian, jenazah dibungkus kain kafan. Setelah itu, dibungkus plastik. Usai, dibungkus plastik dimasukan ke dalam kantong mayat. Jika ada bisa dimasukkan peti.

‘’Semua itu harus dilakukan agar jenazah Covid-19 aman. Tidak menularkan pada mereka yang menguburkan,’’ tuturnya. Menurut Sungalim, banyak masyarakat masih takut pada jenazah Covid-19. Bahkan, ketakutan yang berlebihan. Pernah suatu ketika, warga satu kampung tidak ada yang datang saat penguburan jenazah Covid-19. Mereka takut tertular. Hal itu wajar karena Covid-19 memang cepat menular.

‘’Sebenarnya mereka tidak perlu khawatir berlebihan. Asalkan tetap menerapkan protokol kesehatan, tetap aman,’’ tuturnya. Tidak adanya warga yang membantu pemakaman tidak membuat tim pemulasaran jenazah kerepotan. Mereka sudah dilatih untuk siap segala kondisi. Mulai menggali kubur hingga menguburkan pernah dilakukan sendiri oleh tim.

Baca Juga :  Debit Waduk Pacal Tinggal Separo

Meski demikian, masih ada satu dua desa masih menolak penguburan jenazah sesuai protokol kesehatan. Mereka ingin menerapkan pemakaman seperti biasa. ‘’Ini yang terus kami sosialisasikan. Jenazah Covid-19 harus dimakamkan sesuai protokol. Jika tidak bisa menularkan,’’ jelasnya.

Semua pelatihan pemulasaran jenazah itu diperoleh Sungalim dari pelatihan singkat. Secara daring dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Beberapa kali pelatihan bergegas dipraktikkan.

Siap bertugas di luar, namun Sungalim mendapati tantangan harus izin kepada istri dan keluarganya. Menjelaskan kepada keluarga dengan tugas baru sebagai tim pemulasaran jenazah bukan perkara mudah. Sungalim sampai harus menyembunyikannya selama beberapa bulan. Namun, lama-lama dia menjelaskan tugas itu kepada anak dan istrinya.

‘’Alhamdulillah mereka menerima,’’ jelasnya dengan senyum. Berkat keaktifannya itu, pada HUT ke75 Kemerdekaan RI, Bupati Anna Mu’awanah memberikan penghargaan sebagai tenaga pemulasaran jenazah. Dia ASN satu-satunya yang menerima penghargaan itu.

Radar Bojonegoro – Sungalim tampak sibuk di kantornya ketika ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro, minggu lalu. Lelaki asli Desa Ngujo, Kecamatan Kalitidu, itu bekerja sebagai staf di bidang Pencegahan dan Penelusuran Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro.

Sejak terjadi pandemi Covid-19, Sungalim mendapatkan tugas tambahan. Yakni, sebagai tim pemulasaran jenazah Covid-19 kabupaten. Tugas tidak biasa. Tidak semua orang mau melakukannya. Mengingat risiko terpapar Covid-19 juga tinggi.

Namun, penunjukan itu sama sekali tidak berat baginya. Bukan karena mengangap remeh. Namun, itu adalah sebuah tanggung jawab. Saat semua orang ketakutan dengan jenazah Covid-19, ia yang maju di depan.

Mengurus jenazah. Mulai mengafani, mensalati, hingga menguburkan jenazah itu. ‘’Semua itu harus dilakukan oleh tim,’’ tuturnya. Sejak pandemi Covid -19 melanda pada Maret lalu, Sungalim sudah aktif menangani Covid.

Yakni, menelusuri hingga mene mukan penderita Covid-19. Karena keaktifanya itu, dia kemudian ditunjuk sebagai tim pemulasaran jenazah Covid-19. Menjadi petugas pemulasaran jenazah bukanlah perkara mudah. Salah menerapkan prosedur bisa terinfeksi. Standar operasional prosedur (SOP) harus benarbenar ditaati. Memakai baju hazmat lengkap.

Baca Juga :  Shodikin Layangkan Kasasi

‘’Tanpa APD kita tidak bisa melakukan pemulasaran,’’ jelas pria kelahiran 1970 itu. Prosedur pemulasaran jenazah Covid-19 dilakukan beberapa tahap. Pertama, jenazah harus disemprot disinfektan terlebih dulu. Kemudian, jenazah dibungkus kain kafan. Setelah itu, dibungkus plastik. Usai, dibungkus plastik dimasukan ke dalam kantong mayat. Jika ada bisa dimasukkan peti.

‘’Semua itu harus dilakukan agar jenazah Covid-19 aman. Tidak menularkan pada mereka yang menguburkan,’’ tuturnya. Menurut Sungalim, banyak masyarakat masih takut pada jenazah Covid-19. Bahkan, ketakutan yang berlebihan. Pernah suatu ketika, warga satu kampung tidak ada yang datang saat penguburan jenazah Covid-19. Mereka takut tertular. Hal itu wajar karena Covid-19 memang cepat menular.

‘’Sebenarnya mereka tidak perlu khawatir berlebihan. Asalkan tetap menerapkan protokol kesehatan, tetap aman,’’ tuturnya. Tidak adanya warga yang membantu pemakaman tidak membuat tim pemulasaran jenazah kerepotan. Mereka sudah dilatih untuk siap segala kondisi. Mulai menggali kubur hingga menguburkan pernah dilakukan sendiri oleh tim.

Baca Juga :  Disbupdar Belum Bisa Realisasikan Museum Budaya Tahun Ini

Meski demikian, masih ada satu dua desa masih menolak penguburan jenazah sesuai protokol kesehatan. Mereka ingin menerapkan pemakaman seperti biasa. ‘’Ini yang terus kami sosialisasikan. Jenazah Covid-19 harus dimakamkan sesuai protokol. Jika tidak bisa menularkan,’’ jelasnya.

Semua pelatihan pemulasaran jenazah itu diperoleh Sungalim dari pelatihan singkat. Secara daring dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Beberapa kali pelatihan bergegas dipraktikkan.

Siap bertugas di luar, namun Sungalim mendapati tantangan harus izin kepada istri dan keluarganya. Menjelaskan kepada keluarga dengan tugas baru sebagai tim pemulasaran jenazah bukan perkara mudah. Sungalim sampai harus menyembunyikannya selama beberapa bulan. Namun, lama-lama dia menjelaskan tugas itu kepada anak dan istrinya.

‘’Alhamdulillah mereka menerima,’’ jelasnya dengan senyum. Berkat keaktifannya itu, pada HUT ke75 Kemerdekaan RI, Bupati Anna Mu’awanah memberikan penghargaan sebagai tenaga pemulasaran jenazah. Dia ASN satu-satunya yang menerima penghargaan itu.

Artikel Terkait

Most Read

Persikaba Menunggu Keajaiban

Korsleting, Warung dan Rumah Terbakar

Skill Pecatur Stagnan

Artikel Terbaru


/