alexametrics
23.6 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Tahu dari Televisi, Tempuh 45 Km untuk Belajar

Lama menggantungkan hidup dari lahan persil Perhutani, sejumlah petani di Desa Banyuurip, Kecamatan Senori mulai ingin mengubah nasibnya dengan belajar menjadi petani sayur hidroponik. Berikut kisah mereka.

ditulis oleh : YUDHA SATRIA ADITAMA, Tuban

SEBUAH mini bus parkir di sisi timur bahu Jalan Teuku Umar. Tak lama setelah bus berhenti, puluhan orang keluar dari bus dan langsung menuju pekarangan sebuah rumah di Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban.

Jaraknya sekitar 50 meter (m). Yang dituju adalah kebun sayur hidroponik. Lokasinya persis di seberang jalan depan kantor dinas kependudukan dan catatan sipil (disdukcapil). 

Mereka adalah warga Desa Banyuurip, Kecamatan Senori. Ya, tujuan mereka menempuh jarak lebih dari 45 kilometer (km) dari tempat tinggalnya bukan tanpa alasan.

Mereka yang sehari-harinya sebagai petani penggarap lahan persil milik Perhutani itu ingin mengubah nasib.

Sebagian yang datang merupakan mantan pekerja sumur tua. Selebihnya pedagang dengan pendapatan yang minim. 

Ketika masuk pekarangan, mereka disambut seorang remaja berperawakan kecil. Dia adalah Ahmad Habiburrohman, pembudidaya sayur hidroponik di Tuban sekaligus narasumber yang mengajari cara budidaya sayuran tanpa perlu lahan dan air dalam jumlah besar.

Antusiasme mereka begitu besar. Setelah dijelaskan singkat tentang hidroponik oleh pria yang akrab disapa Habib itu, sejumlah petani langsung berebut melemparkan sejumlah pertanyaan. 

Baca Juga :  Pendonor Menurun, Per Hari Butuh 100 Kantong Darah

Karena orientasinya untuk memenuhi kebutuhan hidup, yang ditanyakan tak jauh dari laba penjualan setiap panen.

Selebihnya, menanyakan pasar penjualan. Habib menjelaskan, bisnis hidroponik skala paling kecil saja bisa menghasilkan Rp 3-5 juta per bulan.

‘’Dengan lahan sempit saja bapak-ibu bisa memproduksi 70 kilogram sayur per bulan,’’ terang Habib.

Para petani semakin antusias ketika pembudidaya sayur hidro menjelaskan bila modal awalnya hanya sekitar Rp 3 juta.

Dengan nominal tersebut, petani sudah bisa mendapatkan instalasi untuk budidaya, bibit, dan pupuk. Beli keperluan instalasi pun tak perlu jauh.

Bisa ke toko material dan supermarket di Tuban. ‘’Jadi tidak perlu lagi lahan yang luas, karena bisa digarap di halaman rumah,’’ tambah mahasiswa Unirow Tuban itu.

Habib adalah salah satu petani sayur hidroponik di Tuban. Hasil tanamannya diminati banyak mall, resto, kafe, hingga hotel-hotel besar.

Di Tuban, pasar sayuran hidroponik sudah masuk  swalayan dan resto. Permintaan pun sangat tinggi.

Di sisi lain, harga sayur hidroponik lebih mahal dari sayur lahan tanah. ‘’Rata-rata sayur hidro harganya Rp 15 ribu per kilogram,’’ tutur remaja kelahiran Sale, Rembang, Jateng itu.

Baca Juga :  Spektakuler, Jawa Timur Semakin Berkemajuan Dan Berkeunggulan

Suwarno, perangkat Desa Banyuurip yang menyertai rombongan tersebut termasuk petani lahan persil. Kepada Jawa Pos Radar Tuban, dia mengaku  bisa menikmati panen dalam jangka waktu dua bulan sekali.

Itu pun jika sayuran yang ditanam tidak dirusak hewan liar atau gagal panen karena cuaca. Dia bersama warga lain mengaku ingin belajar hidroponik setelah tahu dari televisi.

Berikutnya, dia mencoba ke Tuban untuk belajar langsung ke ahlinya. ‘’Ingin punya nasib lebih baik,’’ tuturnya. Bendahara desa ini mengatakan, dia dan petani lain tak bisa bergantung hidup kepada lahan Perhutani.

Menurut Warno, dia tidak tahu hingga kapan lahan milik pemerintah itu bisa ditanami. Tidak tertutup kemungkinan, jika industrialisasi terus berkembang, dia bersama petani yang lain tidak bisa lagi mempunyai lahan untuk digarap. ‘’Semoga usaha kami belajar ini tidak sia-sia,’’ ujar pria bertubuh kurus itu.

Setelah belajar di kebun hidroponik Latsari, rombongan melanjutkan perjalanan ke kebun hidroponik di Perumnas Tasikmadu.

Selama sehari penuh, mereka belajar sekaligus praktik langsung. Perjalanan tersebut mereka tutup dengan berkunjung ke sejumlah swalayan di Tuban untuk membuktikan bahwa sayur hidroponik sudah mengisi rak penjualan.

Lama menggantungkan hidup dari lahan persil Perhutani, sejumlah petani di Desa Banyuurip, Kecamatan Senori mulai ingin mengubah nasibnya dengan belajar menjadi petani sayur hidroponik. Berikut kisah mereka.

ditulis oleh : YUDHA SATRIA ADITAMA, Tuban

SEBUAH mini bus parkir di sisi timur bahu Jalan Teuku Umar. Tak lama setelah bus berhenti, puluhan orang keluar dari bus dan langsung menuju pekarangan sebuah rumah di Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban.

Jaraknya sekitar 50 meter (m). Yang dituju adalah kebun sayur hidroponik. Lokasinya persis di seberang jalan depan kantor dinas kependudukan dan catatan sipil (disdukcapil). 

Mereka adalah warga Desa Banyuurip, Kecamatan Senori. Ya, tujuan mereka menempuh jarak lebih dari 45 kilometer (km) dari tempat tinggalnya bukan tanpa alasan.

Mereka yang sehari-harinya sebagai petani penggarap lahan persil milik Perhutani itu ingin mengubah nasib.

Sebagian yang datang merupakan mantan pekerja sumur tua. Selebihnya pedagang dengan pendapatan yang minim. 

Ketika masuk pekarangan, mereka disambut seorang remaja berperawakan kecil. Dia adalah Ahmad Habiburrohman, pembudidaya sayur hidroponik di Tuban sekaligus narasumber yang mengajari cara budidaya sayuran tanpa perlu lahan dan air dalam jumlah besar.

Antusiasme mereka begitu besar. Setelah dijelaskan singkat tentang hidroponik oleh pria yang akrab disapa Habib itu, sejumlah petani langsung berebut melemparkan sejumlah pertanyaan. 

Baca Juga :  Spektakuler, Jawa Timur Semakin Berkemajuan Dan Berkeunggulan

Karena orientasinya untuk memenuhi kebutuhan hidup, yang ditanyakan tak jauh dari laba penjualan setiap panen.

Selebihnya, menanyakan pasar penjualan. Habib menjelaskan, bisnis hidroponik skala paling kecil saja bisa menghasilkan Rp 3-5 juta per bulan.

‘’Dengan lahan sempit saja bapak-ibu bisa memproduksi 70 kilogram sayur per bulan,’’ terang Habib.

Para petani semakin antusias ketika pembudidaya sayur hidro menjelaskan bila modal awalnya hanya sekitar Rp 3 juta.

Dengan nominal tersebut, petani sudah bisa mendapatkan instalasi untuk budidaya, bibit, dan pupuk. Beli keperluan instalasi pun tak perlu jauh.

Bisa ke toko material dan supermarket di Tuban. ‘’Jadi tidak perlu lagi lahan yang luas, karena bisa digarap di halaman rumah,’’ tambah mahasiswa Unirow Tuban itu.

Habib adalah salah satu petani sayur hidroponik di Tuban. Hasil tanamannya diminati banyak mall, resto, kafe, hingga hotel-hotel besar.

Di Tuban, pasar sayuran hidroponik sudah masuk  swalayan dan resto. Permintaan pun sangat tinggi.

Di sisi lain, harga sayur hidroponik lebih mahal dari sayur lahan tanah. ‘’Rata-rata sayur hidro harganya Rp 15 ribu per kilogram,’’ tutur remaja kelahiran Sale, Rembang, Jateng itu.

Baca Juga :  Tabur Benih Mundur, Harga Bandeng Naik

Suwarno, perangkat Desa Banyuurip yang menyertai rombongan tersebut termasuk petani lahan persil. Kepada Jawa Pos Radar Tuban, dia mengaku  bisa menikmati panen dalam jangka waktu dua bulan sekali.

Itu pun jika sayuran yang ditanam tidak dirusak hewan liar atau gagal panen karena cuaca. Dia bersama warga lain mengaku ingin belajar hidroponik setelah tahu dari televisi.

Berikutnya, dia mencoba ke Tuban untuk belajar langsung ke ahlinya. ‘’Ingin punya nasib lebih baik,’’ tuturnya. Bendahara desa ini mengatakan, dia dan petani lain tak bisa bergantung hidup kepada lahan Perhutani.

Menurut Warno, dia tidak tahu hingga kapan lahan milik pemerintah itu bisa ditanami. Tidak tertutup kemungkinan, jika industrialisasi terus berkembang, dia bersama petani yang lain tidak bisa lagi mempunyai lahan untuk digarap. ‘’Semoga usaha kami belajar ini tidak sia-sia,’’ ujar pria bertubuh kurus itu.

Setelah belajar di kebun hidroponik Latsari, rombongan melanjutkan perjalanan ke kebun hidroponik di Perumnas Tasikmadu.

Selama sehari penuh, mereka belajar sekaligus praktik langsung. Perjalanan tersebut mereka tutup dengan berkunjung ke sejumlah swalayan di Tuban untuk membuktikan bahwa sayur hidroponik sudah mengisi rak penjualan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/