alexametrics
28.3 C
Bojonegoro
Tuesday, May 17, 2022

Tanpa Kenaikan Cukai, Pendapatan Negara Tetap Meningkat

BOJONEGORO – Pendapatan negara dari cukai tembakau terus meningkat. Salah satu parameternya adalah hasil pungutan pajak atau bea tembakau di di kabupaten penghasil bahan baku rokok tersebut, seperti di Kabupaten Bojonegoro.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Bojonegoro Winarko mengatakan, pendapatan cukai tembakau di Bojonegoro hingga 21 Juni lalu atau enam bulan terakhir

tercatat sebesar Rp 392 miliar. Tahun ini (2019), cukai tembakau dari Kota Ladre ditarget Rp 841 miliar. Dengan capaian pertengahan tahun tersebut, dia optimistis tahun ini menyentuh target.

Baca Juga :  Terlewat Musim, Petani Tembakau Merugi

Winarko menjelaskan, perolehan cukai tembakau di Bojonegoro dari 2014 hingga 2019 terus merangkak naik. Itu membuktikan konsumsi rokok di Kabupaten Bojonegoro setiap tahunnya selalu meningkat.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktoral Jenderal Bea Cukai (DJBC) Jatim 1 Muhammad Purwantoro menambahkan, total cukai tembakau se-Jawa Timur kurang lebih mencapai Rp 80 triliun. Rinciannya, penerimaan cukai kantor wilayah (kanwil) 1 sebesar Rp 50 triliun lebih. Sementara kanwil 2 di Malang kurang lebih sebesar Rp 40 triliun.
Sementara, target cukai 2019 hanya meningkat sekitar 3-4 rupiah. Dia menjelaskan, peningkatan cukai yang tidak terlalu signifikan disebabkan karena tidak adanya kenaikan tarif cukai tembakau tahun ini. ‘’Otomatis peningkatan capaian penerimaan cukai tembakau 2019 ini menentukan rokok yang diproduksi dan berkurangnya rokok ilegal,’’ terangnya.
Pencapaian cukai tembakau dinilai lebih sulit terjangkau jika rokok ilegal terus beredar. Hal ini dapat mengganggu program pemerintah dalam mengendalikan konsumsi tembakau.
Di sisi lain, Humas Bea Cukai Iwan Nugroho mengatakan, produk rokok spesifik sudah memiliki pelanggan. ‘’Kalaupun ada sejumlah batasan, konsumsi melalui area atau umur tidak berkurang. Sehingga target yang ingin dicapai selalu terealisasikan,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Khofifah Dorong Kawasan Bromo Masuk Proyek Strategis Nasional

BOJONEGORO – Pendapatan negara dari cukai tembakau terus meningkat. Salah satu parameternya adalah hasil pungutan pajak atau bea tembakau di di kabupaten penghasil bahan baku rokok tersebut, seperti di Kabupaten Bojonegoro.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Bojonegoro Winarko mengatakan, pendapatan cukai tembakau di Bojonegoro hingga 21 Juni lalu atau enam bulan terakhir

tercatat sebesar Rp 392 miliar. Tahun ini (2019), cukai tembakau dari Kota Ladre ditarget Rp 841 miliar. Dengan capaian pertengahan tahun tersebut, dia optimistis tahun ini menyentuh target.

Baca Juga :  Gandeng Bea Cukai, Pemkab Geber Operasi Rokok dan Tembakau Ilegal

Winarko menjelaskan, perolehan cukai tembakau di Bojonegoro dari 2014 hingga 2019 terus merangkak naik. Itu membuktikan konsumsi rokok di Kabupaten Bojonegoro setiap tahunnya selalu meningkat.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktoral Jenderal Bea Cukai (DJBC) Jatim 1 Muhammad Purwantoro menambahkan, total cukai tembakau se-Jawa Timur kurang lebih mencapai Rp 80 triliun. Rinciannya, penerimaan cukai kantor wilayah (kanwil) 1 sebesar Rp 50 triliun lebih. Sementara kanwil 2 di Malang kurang lebih sebesar Rp 40 triliun.
Sementara, target cukai 2019 hanya meningkat sekitar 3-4 rupiah. Dia menjelaskan, peningkatan cukai yang tidak terlalu signifikan disebabkan karena tidak adanya kenaikan tarif cukai tembakau tahun ini. ‘’Otomatis peningkatan capaian penerimaan cukai tembakau 2019 ini menentukan rokok yang diproduksi dan berkurangnya rokok ilegal,’’ terangnya.
Pencapaian cukai tembakau dinilai lebih sulit terjangkau jika rokok ilegal terus beredar. Hal ini dapat mengganggu program pemerintah dalam mengendalikan konsumsi tembakau.
Di sisi lain, Humas Bea Cukai Iwan Nugroho mengatakan, produk rokok spesifik sudah memiliki pelanggan. ‘’Kalaupun ada sejumlah batasan, konsumsi melalui area atau umur tidak berkurang. Sehingga target yang ingin dicapai selalu terealisasikan,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Telat Menanam, 2.052 Hektare Tembakau Belum Selesai Panen

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/