alexametrics
28.7 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Muncul Fakta Baru Pemalsuan Sertifikat Munaqosah

TUBAN – Indikasi pemalsuan piagam penghargaan untuk persyaratan mendaftar di SMPN 1 Tuban belum selesai, kini muncul kasus baru. Kali ini terkait dugaan pemalsuan sertifikat munaqosah Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Tuban. Kasus ini terendus setelah sejumlah orang tua mengungkapkannya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Dari informasi mereka, wartawan koran ini mencoba menelusuri beberapa nama yang dalam website PPDB yang dinyatakan bersertifikat lulus munaqosah, namun faktanya tidak sesuai (tidak lulus). Salah satunya siswa berinisial MDP dari SDN Latsari Tuban. Dalam rekapitulasi hasil munaqosah TPQ se-Kabupaten Tuban, dia dinyatakan tidak lulus oleh TPQ Al Huda dan hanya mendapat nilai D. Namun, pada data website tertulis bersertifikat lulus munaqosah dari lembaga tersebut. Hingga kemarin (29/9) sore, nama siswa ini masih bertengger dalam 15 besar daftar siswa yang diterima di SMPN 1 Tuban.

Setali tiga uang dengan siswa berinisial KSW. Siswa tersebut juga dinyatakan tidak lulus dan mendapat nilai D oleh TPQ Al Huda. Namun, di website PPDB tertulis bersertifikat lulus munaqosah dari LPTQ Tuban. KSW hingga kemarin sore masih bertengger pada peringkat 50 besar daftar siswa baru SMPN 1 Tuban.

Hal yang sama juga terjadi pada nama-nama calon siswa lain di SMPN 1 Tuban dari sejumlah sekolah unggulan di Bumi Wali.

Dugaan kecurangan tersebut diperkuat dengan pernyataan Diana Novi Rosalinda, salah satu orang tua pendaftar. Dia mengatakan, data yang tidak sesuai antara fakta dan website PPDB tersebut perlu dipertanyakan. Apakah siswa tersebut memalsu sertifikat munaqosah atau panitia PPDB yang kembali kecolongan? Menurut dia, jika benar sertifikat dipalsukan, tentu calon siswa yang diuntungkan harus dianulir. ‘’Ini baru yang ketahuan, kalau dicari lagi mungkin ada lainnya,’’ keluh dia.

Baca Juga :  Kuota PPDB Offline Hanya 5 Persen

Sekarang ini, wanita yang tinggal di Perum Tuban Akbar ini bersama orang tua pendaftar lain masih menelusuri data siswa yang dinyatakan lulus munaqosah.

Novi mengatakan, ujian munaqosah hanya sekali setahun. Jika siswa dinyatakan tidak lulus, maka tidak ada ujian susulan atau remidi. Karena itu, sangat janggal kalau dalam data dinyatakan tidak lulus munaqosah, namun siswa yang memiliki sertifikat tersebut  mengklaim mendapatkan tanda kelulusan ujian tersebut setelah mengikuti ujian susulan. ‘’Kalau kecurangan seperti ini dibiarkan terjadi, kasihan anak-anak yang dididik orang tuanya untuk jujur,’’ tambahnya.

Salah satu orang tua pendaftar dari Kecamatan Semanding juga mengungkapkan siswa berinisial PAK dari SDN Latsari diketahuinya tidak lulus munaqosah. Namun, dalam daftar siswa yang diterima dinyatakan lulus dan berada di peringkat 40 besar. ”Saya punya buktinya. Bisa dicek,” tambah dia.

Perlu diketahui, munaqosah adalah kebijakan Pemkab Tuban untuk mendorong generasi muda rabani yang lebih memahami agama Islam. Siswa  yang bisa membaca Alquran dengan baik dan memahami nilai keagamaan lainnya dinyatakan lulus dan mempunyai poin 800. Namun, jika siswa tersebut hanya bisa mengaji tanpa tartil yang baik hanya mendapatkan poin 400. Bagi yang tidak bisa mengaji sama sekali, mereka tidak mendapatkan poin.

Baca Juga :  SMPN 1 Tuban Borong Prestasi Hardiknas 2021

Kepala SMPN 1 Tuban Mukmanan mengatakan, siswa dinyatakan lulus atau tidak tercantum pada sertifikat munaqosah. Jika data website dinyatakan siswa bersertifikat lulus munaqosah, berarti dia sudah mengumpulkan sertifikat lulus. Sebaliknya, jika siswa tidak lulus munaqosah, maka secara otomatis data dalam website tertulis tidak lulus. ‘’Data di website itu sesuai dengan sertifikat yang dikumpulkan waktu pendaftaran,’’ terang dia.

Terkait indikasi pemalsuan data munaqosah, Mukmanan mengaku akan mengecek lebih lanjut. Sebab, dirinya tidak memegang data siapa saja siswa yang dinyatakan lulus atau tidak oleh LPTQ Tuban.

Di bagian lain, dia menegaskan mustahil panitia mengecek validitas satu per satu sertifikat munaqosah. ‘’Saya tidak punya data siapa saja yang lulus munaqosah, jadi yang masuk di website itu berdasarkan data dari orang tua siswa,’’ tuturnya.

Kalau dugaan pemalsuan sertifikat munaqosah itu benar, mantan kepala SMPN 1 Singgahan ini sangat menyayangkan aksi nekat orang tua yang memaksakan anaknya masuk di sekolah favorit dengan cara curang. Dia pun berkomitmen jika ada kecurangan pada data para calon siswa tersebut akan diberi sanksi seperti GPL. Mukmanan juga berjanji akan menindaklanjuti dugaan kecurangan tersebut.

TUBAN – Indikasi pemalsuan piagam penghargaan untuk persyaratan mendaftar di SMPN 1 Tuban belum selesai, kini muncul kasus baru. Kali ini terkait dugaan pemalsuan sertifikat munaqosah Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Tuban. Kasus ini terendus setelah sejumlah orang tua mengungkapkannya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Dari informasi mereka, wartawan koran ini mencoba menelusuri beberapa nama yang dalam website PPDB yang dinyatakan bersertifikat lulus munaqosah, namun faktanya tidak sesuai (tidak lulus). Salah satunya siswa berinisial MDP dari SDN Latsari Tuban. Dalam rekapitulasi hasil munaqosah TPQ se-Kabupaten Tuban, dia dinyatakan tidak lulus oleh TPQ Al Huda dan hanya mendapat nilai D. Namun, pada data website tertulis bersertifikat lulus munaqosah dari lembaga tersebut. Hingga kemarin (29/9) sore, nama siswa ini masih bertengger dalam 15 besar daftar siswa yang diterima di SMPN 1 Tuban.

Setali tiga uang dengan siswa berinisial KSW. Siswa tersebut juga dinyatakan tidak lulus dan mendapat nilai D oleh TPQ Al Huda. Namun, di website PPDB tertulis bersertifikat lulus munaqosah dari LPTQ Tuban. KSW hingga kemarin sore masih bertengger pada peringkat 50 besar daftar siswa baru SMPN 1 Tuban.

Hal yang sama juga terjadi pada nama-nama calon siswa lain di SMPN 1 Tuban dari sejumlah sekolah unggulan di Bumi Wali.

Dugaan kecurangan tersebut diperkuat dengan pernyataan Diana Novi Rosalinda, salah satu orang tua pendaftar. Dia mengatakan, data yang tidak sesuai antara fakta dan website PPDB tersebut perlu dipertanyakan. Apakah siswa tersebut memalsu sertifikat munaqosah atau panitia PPDB yang kembali kecolongan? Menurut dia, jika benar sertifikat dipalsukan, tentu calon siswa yang diuntungkan harus dianulir. ‘’Ini baru yang ketahuan, kalau dicari lagi mungkin ada lainnya,’’ keluh dia.

Baca Juga :  Mas Bupati Melepas Rindu dengan Guru

Sekarang ini, wanita yang tinggal di Perum Tuban Akbar ini bersama orang tua pendaftar lain masih menelusuri data siswa yang dinyatakan lulus munaqosah.

Novi mengatakan, ujian munaqosah hanya sekali setahun. Jika siswa dinyatakan tidak lulus, maka tidak ada ujian susulan atau remidi. Karena itu, sangat janggal kalau dalam data dinyatakan tidak lulus munaqosah, namun siswa yang memiliki sertifikat tersebut  mengklaim mendapatkan tanda kelulusan ujian tersebut setelah mengikuti ujian susulan. ‘’Kalau kecurangan seperti ini dibiarkan terjadi, kasihan anak-anak yang dididik orang tuanya untuk jujur,’’ tambahnya.

Salah satu orang tua pendaftar dari Kecamatan Semanding juga mengungkapkan siswa berinisial PAK dari SDN Latsari diketahuinya tidak lulus munaqosah. Namun, dalam daftar siswa yang diterima dinyatakan lulus dan berada di peringkat 40 besar. ”Saya punya buktinya. Bisa dicek,” tambah dia.

Perlu diketahui, munaqosah adalah kebijakan Pemkab Tuban untuk mendorong generasi muda rabani yang lebih memahami agama Islam. Siswa  yang bisa membaca Alquran dengan baik dan memahami nilai keagamaan lainnya dinyatakan lulus dan mempunyai poin 800. Namun, jika siswa tersebut hanya bisa mengaji tanpa tartil yang baik hanya mendapatkan poin 400. Bagi yang tidak bisa mengaji sama sekali, mereka tidak mendapatkan poin.

Baca Juga :  Minta Maaf, Orang Tua GPL Langsung Kabur

Kepala SMPN 1 Tuban Mukmanan mengatakan, siswa dinyatakan lulus atau tidak tercantum pada sertifikat munaqosah. Jika data website dinyatakan siswa bersertifikat lulus munaqosah, berarti dia sudah mengumpulkan sertifikat lulus. Sebaliknya, jika siswa tidak lulus munaqosah, maka secara otomatis data dalam website tertulis tidak lulus. ‘’Data di website itu sesuai dengan sertifikat yang dikumpulkan waktu pendaftaran,’’ terang dia.

Terkait indikasi pemalsuan data munaqosah, Mukmanan mengaku akan mengecek lebih lanjut. Sebab, dirinya tidak memegang data siapa saja siswa yang dinyatakan lulus atau tidak oleh LPTQ Tuban.

Di bagian lain, dia menegaskan mustahil panitia mengecek validitas satu per satu sertifikat munaqosah. ‘’Saya tidak punya data siapa saja yang lulus munaqosah, jadi yang masuk di website itu berdasarkan data dari orang tua siswa,’’ tuturnya.

Kalau dugaan pemalsuan sertifikat munaqosah itu benar, mantan kepala SMPN 1 Singgahan ini sangat menyayangkan aksi nekat orang tua yang memaksakan anaknya masuk di sekolah favorit dengan cara curang. Dia pun berkomitmen jika ada kecurangan pada data para calon siswa tersebut akan diberi sanksi seperti GPL. Mukmanan juga berjanji akan menindaklanjuti dugaan kecurangan tersebut.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/