alexametrics
29.8 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Harga Peralatan Medis Selangit, Tokonya Berjarak 45 Km

- Advertisement -

TUBAN – Tak banyak tenaga kesehatan yang rela mengabdi di daerah pelosok luar Jawa dan minim fasilitas. Di antara yang sedikit tersebut salah satunya adalah Eva Prasetya Maulina, 25. Tenaga kesehatan asal Tuban ini setahun terakhir mengabdikan diri di Puskesmas Onembute, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Melalui line telepon, Eva, panggilan akrab Eva Prasetya Maulina bercerita banyak tentang pengabdiannya di daerah pelosok nun jauh di sana  sejak 1 Mei lalu. Dari seberang telepon, dia menceritakan kondisi Puskesmas Onembute, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, tempatnya bertugas yang sangat minim fasilitas dan sumber daya manusia (SDM). ”Namun, saya menikmatinya,” kata dia memulai pembicaraan.

Dara asal Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding ini lulus dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia pada Agustus 2016. Begitu menyelesaikan studi, dia tertarik dengan pengumuman lowongan dari Center for Indonesia’s Strategic Development Intiatives (CISDI).

Dalam pengumuman tersebut, CISDI membuka program Pencerah Nusantara (PN) untuk dokter, perawat, dan tenaga medis yang ingin mengabdi di pelosok. Minimnya layanan kesehatan di berbagai daerah pelosok di luar Jawa sudah diketahuinya dari sejumlah referensi. Dia juga sadar kalau ikut terjun ke sana, berarti konsekwensinya harus ikut menanggung kesengsaraan.

Hal itu tidak membuatnya takut, namun justru tertantang. ”Saya pun memutuskan melamar. Diniati ibadah sekaligus mengabdikan diri,” kata dia yang mengaku sempat minder setelah tahu pendaftar CISDI melalui online lebih dari lima ribu tenaga medis dari seluruh Indonesia.

Baca Juga :  KPK Pantau Anggaran Pendidikan dan Kesehatan

- Advertisement -

Ya, meski mengabdi, CISDI menyediakan gaji selama hidup di pelosok. Dalam menggaji para tenaga medis tersebut, CISDI berafiliasi dengan berbagai organisasi luar negeri. Di antaranya USAID, WHO, dan lembaga peneliti internasional lainnya.

Selama mengabdi, para tenaga dari Pencerah Nusantara tidak sekadar bekerja. Melainkan juga bertugas membenahi manajemen, memberikan edukasi tentang kesehatan, serta membantu tugas tenaga medis setempat. Untuk menembus seleksi CISDI yang jelas-jelas menyalurkan tenaga kesehatan di ”daerah nestapa” ternyata tak mudah.

Dikatakan Eva, setelah mendaftar online, para pelamar dihadapkan pada sejumlah tes dan persyaratan tertentu. Salah satu syaratnya,  indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 3,00 dan wajib lulus maksimal lima tahun. Khusus dokter, bidan, dan perawat wajib memiliki surat tanda registrasi (STR) dan bersedia tidak menikah selama masa pengabdian.

Dari berbagai tes dan persyaratan tersebut hanya 50 orang yang lolos, termasuk Eva. Mereka inilah yang disebar di berbagai kawasan pelosok Nusantara. Antara lain, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi, hingga Papua.

Saat penempatan tugas, Eva mendapat tempat di Puskesmas Onembute. ‘’Saya ditempatkan bersama dokter umum, dokter gigi, bidan, dan dua tenaga ahli kesehatan masyarakat,’’ terang dia. Selama diwawancarai wartawan koran ini, sempat terdengar celoteh teman-teman Eva yang mencoba menggoda untuk mengendurkan syaraf di tengah kepenatan bertugas.

Baca Juga :  Kontribusi Nyata Pemuda Pancasila

Ketika diminta mendiskripsikan kondisi daerah pelosok pedalaman tempatnya bertugas, Eva sempat menahan napas sesaat. Setelah itu, dengan satu tarikan napas, dia mengatakan, ”Jauhhh….,” kata dia.

Jarak dari pusat keramaian terdekat di kota kecamatan saja sekitar 45 kilometer (km). Karena tidak semua peralatan medis tersedia di provinsi ini, jika membutuhkan alat medis tertentu, dia harus membeli online dari sebuah toko peralatan kesehatan di Jakarta. Meski harga online terkadang lebih murah, namun kalau ditambah dengan ongkos kirim plus penjemputan di pusat kota kabupaten, dia mengaku harganya tetap selangit.

”Itu mending daripada di sini yang mahalnya tidak ketulungan,” imbuh dia. Dia memberi gambaran, harga peralatan medis di pusat keramaian yang berjarak puluhan kilometer tadi, harganya bisa tiga kali lipat dari harga online.

Selama beraktivitas di Sulawesi Tenggara, ke mana pun, Eva selalu menggunakan ambulans. ‘’Adanya cuma mobil ini,” kata dia. Setelah itu, sambungan telepon terputus. Wartawan koran ini yang beberapa kali mencoba menghubunginya kembali, terkendala signal sang penerima telepon.

TUBAN – Tak banyak tenaga kesehatan yang rela mengabdi di daerah pelosok luar Jawa dan minim fasilitas. Di antara yang sedikit tersebut salah satunya adalah Eva Prasetya Maulina, 25. Tenaga kesehatan asal Tuban ini setahun terakhir mengabdikan diri di Puskesmas Onembute, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Melalui line telepon, Eva, panggilan akrab Eva Prasetya Maulina bercerita banyak tentang pengabdiannya di daerah pelosok nun jauh di sana  sejak 1 Mei lalu. Dari seberang telepon, dia menceritakan kondisi Puskesmas Onembute, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, tempatnya bertugas yang sangat minim fasilitas dan sumber daya manusia (SDM). ”Namun, saya menikmatinya,” kata dia memulai pembicaraan.

Dara asal Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding ini lulus dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia pada Agustus 2016. Begitu menyelesaikan studi, dia tertarik dengan pengumuman lowongan dari Center for Indonesia’s Strategic Development Intiatives (CISDI).

Dalam pengumuman tersebut, CISDI membuka program Pencerah Nusantara (PN) untuk dokter, perawat, dan tenaga medis yang ingin mengabdi di pelosok. Minimnya layanan kesehatan di berbagai daerah pelosok di luar Jawa sudah diketahuinya dari sejumlah referensi. Dia juga sadar kalau ikut terjun ke sana, berarti konsekwensinya harus ikut menanggung kesengsaraan.

Hal itu tidak membuatnya takut, namun justru tertantang. ”Saya pun memutuskan melamar. Diniati ibadah sekaligus mengabdikan diri,” kata dia yang mengaku sempat minder setelah tahu pendaftar CISDI melalui online lebih dari lima ribu tenaga medis dari seluruh Indonesia.

Baca Juga :  Pertahankan Minum Air Putih

- Advertisement -

Ya, meski mengabdi, CISDI menyediakan gaji selama hidup di pelosok. Dalam menggaji para tenaga medis tersebut, CISDI berafiliasi dengan berbagai organisasi luar negeri. Di antaranya USAID, WHO, dan lembaga peneliti internasional lainnya.

Selama mengabdi, para tenaga dari Pencerah Nusantara tidak sekadar bekerja. Melainkan juga bertugas membenahi manajemen, memberikan edukasi tentang kesehatan, serta membantu tugas tenaga medis setempat. Untuk menembus seleksi CISDI yang jelas-jelas menyalurkan tenaga kesehatan di ”daerah nestapa” ternyata tak mudah.

Dikatakan Eva, setelah mendaftar online, para pelamar dihadapkan pada sejumlah tes dan persyaratan tertentu. Salah satu syaratnya,  indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 3,00 dan wajib lulus maksimal lima tahun. Khusus dokter, bidan, dan perawat wajib memiliki surat tanda registrasi (STR) dan bersedia tidak menikah selama masa pengabdian.

Dari berbagai tes dan persyaratan tersebut hanya 50 orang yang lolos, termasuk Eva. Mereka inilah yang disebar di berbagai kawasan pelosok Nusantara. Antara lain, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi, hingga Papua.

Saat penempatan tugas, Eva mendapat tempat di Puskesmas Onembute. ‘’Saya ditempatkan bersama dokter umum, dokter gigi, bidan, dan dua tenaga ahli kesehatan masyarakat,’’ terang dia. Selama diwawancarai wartawan koran ini, sempat terdengar celoteh teman-teman Eva yang mencoba menggoda untuk mengendurkan syaraf di tengah kepenatan bertugas.

Baca Juga :  KPK Pantau Anggaran Pendidikan dan Kesehatan

Ketika diminta mendiskripsikan kondisi daerah pelosok pedalaman tempatnya bertugas, Eva sempat menahan napas sesaat. Setelah itu, dengan satu tarikan napas, dia mengatakan, ”Jauhhh….,” kata dia.

Jarak dari pusat keramaian terdekat di kota kecamatan saja sekitar 45 kilometer (km). Karena tidak semua peralatan medis tersedia di provinsi ini, jika membutuhkan alat medis tertentu, dia harus membeli online dari sebuah toko peralatan kesehatan di Jakarta. Meski harga online terkadang lebih murah, namun kalau ditambah dengan ongkos kirim plus penjemputan di pusat kota kabupaten, dia mengaku harganya tetap selangit.

”Itu mending daripada di sini yang mahalnya tidak ketulungan,” imbuh dia. Dia memberi gambaran, harga peralatan medis di pusat keramaian yang berjarak puluhan kilometer tadi, harganya bisa tiga kali lipat dari harga online.

Selama beraktivitas di Sulawesi Tenggara, ke mana pun, Eva selalu menggunakan ambulans. ‘’Adanya cuma mobil ini,” kata dia. Setelah itu, sambungan telepon terputus. Wartawan koran ini yang beberapa kali mencoba menghubunginya kembali, terkendala signal sang penerima telepon.

Artikel Terkait

Most Read

Pelaku Pembunuhan Tertangkap?

Tak Perlu Takut, Laporkan Polisi

Majelis Hakim Harus Beri Efek Jera

Artikel Terbaru


/