alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Ibu Lima Anak Produksi Miras 

SUKODADI – Tempat produksi minuman keras (miras) kembali digerebek petugas Polres Lamongan. senin (28/5) siang, rumah milik Noer Hayati, 39, warga Desa Sukolilo, Kecamatan Sukodadi, yang digunakan memroduksi miras, digerebek petugas.

Saat penggerebekan, petugas menemukan 250 botol kemasan minuman keras berbentuk arak siap edar. Di hadapan petugas, Noer Hayati mengatakan, dirinya memroduksi minuman keras sekitar dua minggu. Dia mengklaim miras tersebut belum sempat dijual. 

‘’Sebenarnya uang hasil penjualan ini untuk menghidupi lima anak saya, karena suami sudah tidak menafkahi lagi,’’ ujarnya sambil matanya berkaca – kaca.

Pembuatan miras itu tidaklah terlalu sulit. Beberapa bahan yang sudah diracik dimasukkan ke drum biru. Selama sekitar seminggu racikan itu direndam dengan ditutup plastic.

Setelah itu, bahan tersebut direbus selama dua jam menggunakan dua kompor gas. Proses dilanjutkan penyulingan. Minuman keras yang dihasilkan kemudian dikemas. ‘’Semua ini saya belajar dari temanyang ada di Tuban untuk melakukan produksi,’’ ujarnya. 

Nandor, ketua RT setempat, mengaku tidak mengetahui sama sekali adanya pembuatan miras di rumah tersebut. Alasannya, tidak ada tanda – tanda keramaian pembuatan miras. Warga sekitar juga tak mencium bau miras. ‘’Warga di sekitar tidak mengeluhkan bau tak segar saat produksi minuman arak,’’ katanya. 

Baca Juga :  Tangkap Terduga Teroris, Empat di Bojonegoro, Se-Jatim Ada 20

Rumah ketua RT hanya sekitar 100 meter dari lokasi penggeberekan. Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku sudah mencium bau tak sedap sebelum puasa lalu. Namun, dia tak pernah menanyakan kepada warga lainnya. Dia awalnya mengira bau itu bau cat rumah. 

‘’Tapi lama kelamaan, mencium bau itu semakin lama kepala merasa pusing,’’ katanya.

Kapolres Lamongan, AKBP Feby Dapat Perlindungan Hutagalung, mengatakan, anggotanya mendapatkan informasi terkait bau tak sedap di salah satu rumah. Setelah dilakukan penyelidikan, rumah tersebut ternyata untuk produksi minuman keras berbentuk arak. 

‘’Jadi tersangka melakukan produksi di belakang rumah. Ada beberapa alat untuk produksi jenis minuman arak,’’ ujarnya. Satu drum rendaman bahan miras, lanjut dia, menghasilkan sekitar 39 botol berukuran 1,5 liter.   Keuntungannya, sekitar Rp 600 ribu lebih setiap penjualan. Wilayah pemasarannya, Lamongan dan sekitarnya.

Baca Juga :  Wisata Masih Tutup, Siasati Buka Kafe

‘’Dari hasil penggerebekan ini, akan dilakukan pengembangan apakah ada pelaku lainnya yang ikut serta melakukan produksi minuman keras. Karena beberapa alat dan barang dari wilayah Tuban, dari salah satu temannya,’’ imbuhnya.

Menurut Kapolres, tersangka dikenakan pasal 137 ayat 1 jo pasal 77 ayat 1 Undang – Undang RI No 18 Tahun 2012 tentang pangan. Ancaman hukuman pidananya, penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 10  miliar. Dari kasus ini, barang bukti yang diamankan 2 kompor gas, 1 box profil tank, 3 unit drum berisikan baceman bahan arak 200 liter, 3 unit drum kosong kapasitas masing – masing 200 liter, 2  plastik besar gula merah 10 kg, dan 10  sak berisi 250 botol arak siap edar. 

Seperti diberitakan, sebuah rumah di Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, juga pernah digerebek petugas (23/5) karena dijadikan tempat produksi miras. Saat penggerebekan, petugas menemukan 18 drum bahan pembuatan miras  jenis arak. Berdasarkan penyelidikan polisi, rumah itu milik Janah.

SUKODADI – Tempat produksi minuman keras (miras) kembali digerebek petugas Polres Lamongan. senin (28/5) siang, rumah milik Noer Hayati, 39, warga Desa Sukolilo, Kecamatan Sukodadi, yang digunakan memroduksi miras, digerebek petugas.

Saat penggerebekan, petugas menemukan 250 botol kemasan minuman keras berbentuk arak siap edar. Di hadapan petugas, Noer Hayati mengatakan, dirinya memroduksi minuman keras sekitar dua minggu. Dia mengklaim miras tersebut belum sempat dijual. 

‘’Sebenarnya uang hasil penjualan ini untuk menghidupi lima anak saya, karena suami sudah tidak menafkahi lagi,’’ ujarnya sambil matanya berkaca – kaca.

Pembuatan miras itu tidaklah terlalu sulit. Beberapa bahan yang sudah diracik dimasukkan ke drum biru. Selama sekitar seminggu racikan itu direndam dengan ditutup plastic.

Setelah itu, bahan tersebut direbus selama dua jam menggunakan dua kompor gas. Proses dilanjutkan penyulingan. Minuman keras yang dihasilkan kemudian dikemas. ‘’Semua ini saya belajar dari temanyang ada di Tuban untuk melakukan produksi,’’ ujarnya. 

Nandor, ketua RT setempat, mengaku tidak mengetahui sama sekali adanya pembuatan miras di rumah tersebut. Alasannya, tidak ada tanda – tanda keramaian pembuatan miras. Warga sekitar juga tak mencium bau miras. ‘’Warga di sekitar tidak mengeluhkan bau tak segar saat produksi minuman arak,’’ katanya. 

Baca Juga :  Kian Banyak Mobil Diminta Putar Balik ke Jateng

Rumah ketua RT hanya sekitar 100 meter dari lokasi penggeberekan. Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku sudah mencium bau tak sedap sebelum puasa lalu. Namun, dia tak pernah menanyakan kepada warga lainnya. Dia awalnya mengira bau itu bau cat rumah. 

‘’Tapi lama kelamaan, mencium bau itu semakin lama kepala merasa pusing,’’ katanya.

Kapolres Lamongan, AKBP Feby Dapat Perlindungan Hutagalung, mengatakan, anggotanya mendapatkan informasi terkait bau tak sedap di salah satu rumah. Setelah dilakukan penyelidikan, rumah tersebut ternyata untuk produksi minuman keras berbentuk arak. 

‘’Jadi tersangka melakukan produksi di belakang rumah. Ada beberapa alat untuk produksi jenis minuman arak,’’ ujarnya. Satu drum rendaman bahan miras, lanjut dia, menghasilkan sekitar 39 botol berukuran 1,5 liter.   Keuntungannya, sekitar Rp 600 ribu lebih setiap penjualan. Wilayah pemasarannya, Lamongan dan sekitarnya.

Baca Juga :  Patung Kongco Catat Rekor Muri

‘’Dari hasil penggerebekan ini, akan dilakukan pengembangan apakah ada pelaku lainnya yang ikut serta melakukan produksi minuman keras. Karena beberapa alat dan barang dari wilayah Tuban, dari salah satu temannya,’’ imbuhnya.

Menurut Kapolres, tersangka dikenakan pasal 137 ayat 1 jo pasal 77 ayat 1 Undang – Undang RI No 18 Tahun 2012 tentang pangan. Ancaman hukuman pidananya, penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 10  miliar. Dari kasus ini, barang bukti yang diamankan 2 kompor gas, 1 box profil tank, 3 unit drum berisikan baceman bahan arak 200 liter, 3 unit drum kosong kapasitas masing – masing 200 liter, 2  plastik besar gula merah 10 kg, dan 10  sak berisi 250 botol arak siap edar. 

Seperti diberitakan, sebuah rumah di Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, juga pernah digerebek petugas (23/5) karena dijadikan tempat produksi miras. Saat penggerebekan, petugas menemukan 18 drum bahan pembuatan miras  jenis arak. Berdasarkan penyelidikan polisi, rumah itu milik Janah.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/