alexametrics
25.4 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Keluarga Minta Dipulangkan 

LAMONGAN, Radar Lamongan – Mat Suwarsono dan Uswatun Khasanah, pasangan suami istri (pasutri) asal Desa Bulutigo, Kecamatan Laren,  cemas. Sebab, putri sulungnya Siti Mizabul Izabah yang mengenyam perkuliahan di Hubei University of Science terisolasi di asrama di Kota Xianning, Provinsi Hubei, Tiongkok. Isolasi itu dilakukan imbas dari merebaknya virus korona di Kota Wuhan. 

”Berharap pemerintah memberikan perhatian untuk segera mengevakuasi dan memulangkan ke Indonesia,” harap Mat. 

Pria 45 tahun itu mengatakan, setiap hari masih berkomunikasi dengan putrinya. Selasa malam (28/1), Mat Suwarsono juga berkomunikasi dengan Siti.

‘’Komunikasi masih bisa. Tapi kabar dari anak saya, sekarang di sana terisolasi akibat virus korona,” imbuh Mat. 

Dia menjelaskan, putrinya terisolasi di asrama. Logistik makanan sulit didapatkan. Hal itulah yang membuat Mat khawatir terhadap kondisi putrinya. 

”Komunikasi semalam, putri saya hanya mengandalkan makanan mi instan, yang hanya cukup untuk dua hari ke depan,” imbuhnya. 

Mat mengaku mentransfer uang kepada putrinya awal bulan. Putrinya tidak mengeluhkan kekurangan uang. Namun, kesulitan mendapatkan bahan makanan karena seluruh toko tutup. 

”Saya mengirim uang tiap tanggal 1 sebesar Rp 3 juta,” tuturnya. 

Sementara itu, mata Miftahatin terlihat berkaca-kaca ketika menceritakan kondisi anak laki – lakinya Humaidi Sahid yang sedang menempuh pendidikan S2 di Wuhan. Perempuan paro baya itu khawatir kala mendapatkan informasi dari sanak famili tentang virus yang sedang melanda negara Tirai Bambu tersebut. 

Baca Juga :  Minimal Motor Bisa Melintas Lancar

Karena kesibukannya berjualan, ibu tiga anak ini jarang menonton televisi. Selain itu, komunikasi dengan anak keduanya juga berjalan normal seperti biasa. ‘’Anak saya tidak menunjukkan kesedihan sama sekali ketika kita bertukar kabar melalui saluran telepon. Sehingga saya tidak menaruh curiga,” tutur perempuan asal Kecamatan Solokuro tersebut. 

Setelah mendapatkan informasi dari keponakan, Miftahatin lalu menghubungi anaknya. Ternyata, anaknya dalam kondisi baik-baik saja. Humaidi tinggal di asrama kampus. Mahasiswa tersebut tidak melakukan kegiatan di luar asrama. 

Miftahatin mengatakan, anak laki-lakinya itu sudah 1,5 tahun tinggal di Wuhan. Dia termasuk anak yang cerdas. S1 hanya ditempuh satu tahun. Sekarang pendidikan S2 memasuki semester tiga. Humadi tinggal satu asrama dua temannya Pramesti Ardita Cahyani dan Ayu Winda. 

Pramesti Ardita Cahyani juga mengatakan kondisinya baik-baik saja. Dia dan kedua temannya tidak berada di ruang isolasi. Mereka masih bisa beraktivitas dengan menggunakan masker sesuai saran pemerintah setempat. Pramesti bersama teman-temannya sengaja membatasi aktivitas  di luar asrama karena kondisinya memang belum aman. 

Baca Juga :  Kabel Kedur, Bahayakan Pengguna Jalan 

Menurut dia, kebutuhan logistik masih aman dan tercukupi. Mereka sengaja mengonsumsi makanan seperti sayur dan buah untuk menjaga daya tahan tubuh. “Karena kebetulan sekarang liburan semester jadi kegiatan di luar juga tidak banyak,” katanya. 

Bupati Lamongan Fadeli mengklaim sudah berkomunikasi intensif dengan KBRI dan kementerian. Dia mendapatkan informasi dalam waktu dekat mahasiswa Indonesia akan dipulangkan secara bertahap. 

“Kita usahakan bisa segera pulang untuk pengamanan. Setelah itu baru dipikir tindakan selanjutnya,” ujarnya saat melakukan telekonferensi dengan mahasiswa di Wuhan didampingi Dandim 0812, wakapolres, dan sekkab kemarin (29/1) di guest house Pemkab Lamongan. 

Menurut dia, pemkab berusaha mengumpulkan data secara formal maupun KBRI. Berdasarkan data yang dihimpunnya, ada lima warga Lamongan yang sedang menempuh pendidikan di sana. Tiga di antaranya dalam kondisi aman, satu mahasiswa sudah perjalanan pulang ke Indonesia atas nama Nurul Hikmawati. Sementara satu orang lagi dari Paciran masih belum bisa dihubungi sampai sekarang. 

“Kita masih berupaya untuk menghubungi termasuk melalui keluarga. Intinya semua tenang dulu dan mahasiswa yang disana bisa menjaga kesehatan, karena pemerintah terus berusaha melindungi semuanya,” jelasnya. (ind/rka/yan)

LAMONGAN, Radar Lamongan – Mat Suwarsono dan Uswatun Khasanah, pasangan suami istri (pasutri) asal Desa Bulutigo, Kecamatan Laren,  cemas. Sebab, putri sulungnya Siti Mizabul Izabah yang mengenyam perkuliahan di Hubei University of Science terisolasi di asrama di Kota Xianning, Provinsi Hubei, Tiongkok. Isolasi itu dilakukan imbas dari merebaknya virus korona di Kota Wuhan. 

”Berharap pemerintah memberikan perhatian untuk segera mengevakuasi dan memulangkan ke Indonesia,” harap Mat. 

Pria 45 tahun itu mengatakan, setiap hari masih berkomunikasi dengan putrinya. Selasa malam (28/1), Mat Suwarsono juga berkomunikasi dengan Siti.

‘’Komunikasi masih bisa. Tapi kabar dari anak saya, sekarang di sana terisolasi akibat virus korona,” imbuh Mat. 

Dia menjelaskan, putrinya terisolasi di asrama. Logistik makanan sulit didapatkan. Hal itulah yang membuat Mat khawatir terhadap kondisi putrinya. 

”Komunikasi semalam, putri saya hanya mengandalkan makanan mi instan, yang hanya cukup untuk dua hari ke depan,” imbuhnya. 

Mat mengaku mentransfer uang kepada putrinya awal bulan. Putrinya tidak mengeluhkan kekurangan uang. Namun, kesulitan mendapatkan bahan makanan karena seluruh toko tutup. 

”Saya mengirim uang tiap tanggal 1 sebesar Rp 3 juta,” tuturnya. 

Sementara itu, mata Miftahatin terlihat berkaca-kaca ketika menceritakan kondisi anak laki – lakinya Humaidi Sahid yang sedang menempuh pendidikan S2 di Wuhan. Perempuan paro baya itu khawatir kala mendapatkan informasi dari sanak famili tentang virus yang sedang melanda negara Tirai Bambu tersebut. 

Baca Juga :  Tersangka Miliki Sembilan Reseler

Karena kesibukannya berjualan, ibu tiga anak ini jarang menonton televisi. Selain itu, komunikasi dengan anak keduanya juga berjalan normal seperti biasa. ‘’Anak saya tidak menunjukkan kesedihan sama sekali ketika kita bertukar kabar melalui saluran telepon. Sehingga saya tidak menaruh curiga,” tutur perempuan asal Kecamatan Solokuro tersebut. 

Setelah mendapatkan informasi dari keponakan, Miftahatin lalu menghubungi anaknya. Ternyata, anaknya dalam kondisi baik-baik saja. Humaidi tinggal di asrama kampus. Mahasiswa tersebut tidak melakukan kegiatan di luar asrama. 

Miftahatin mengatakan, anak laki-lakinya itu sudah 1,5 tahun tinggal di Wuhan. Dia termasuk anak yang cerdas. S1 hanya ditempuh satu tahun. Sekarang pendidikan S2 memasuki semester tiga. Humadi tinggal satu asrama dua temannya Pramesti Ardita Cahyani dan Ayu Winda. 

Pramesti Ardita Cahyani juga mengatakan kondisinya baik-baik saja. Dia dan kedua temannya tidak berada di ruang isolasi. Mereka masih bisa beraktivitas dengan menggunakan masker sesuai saran pemerintah setempat. Pramesti bersama teman-temannya sengaja membatasi aktivitas  di luar asrama karena kondisinya memang belum aman. 

Baca Juga :  Diperbaiki, Pasar Ikan Tetap di Tengah Kota

Menurut dia, kebutuhan logistik masih aman dan tercukupi. Mereka sengaja mengonsumsi makanan seperti sayur dan buah untuk menjaga daya tahan tubuh. “Karena kebetulan sekarang liburan semester jadi kegiatan di luar juga tidak banyak,” katanya. 

Bupati Lamongan Fadeli mengklaim sudah berkomunikasi intensif dengan KBRI dan kementerian. Dia mendapatkan informasi dalam waktu dekat mahasiswa Indonesia akan dipulangkan secara bertahap. 

“Kita usahakan bisa segera pulang untuk pengamanan. Setelah itu baru dipikir tindakan selanjutnya,” ujarnya saat melakukan telekonferensi dengan mahasiswa di Wuhan didampingi Dandim 0812, wakapolres, dan sekkab kemarin (29/1) di guest house Pemkab Lamongan. 

Menurut dia, pemkab berusaha mengumpulkan data secara formal maupun KBRI. Berdasarkan data yang dihimpunnya, ada lima warga Lamongan yang sedang menempuh pendidikan di sana. Tiga di antaranya dalam kondisi aman, satu mahasiswa sudah perjalanan pulang ke Indonesia atas nama Nurul Hikmawati. Sementara satu orang lagi dari Paciran masih belum bisa dihubungi sampai sekarang. 

“Kita masih berupaya untuk menghubungi termasuk melalui keluarga. Intinya semua tenang dulu dan mahasiswa yang disana bisa menjaga kesehatan, karena pemerintah terus berusaha melindungi semuanya,” jelasnya. (ind/rka/yan)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/