alexametrics
26 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Raibnya Sokran

SOKRAN adalah lelaki paruh baya, yang separuh hidupnya dihabiskan untuk mengerjakan kerajinan kayu. Mulai dari almari, pintu, jendela, kursi, dan perabot lain. Jika tidak ada pemesan maka Sokran akan membawa dagangannya keliling dari satu kecamatan ke kecamatan lain menggunakan gerobak.
Setelah berkeliling dengan jalan kaki selama dua hari, Sokran terpaksa membawa pulang pintu buatannya sendiri. Banyak orang yang menawar tapi seenaknya sendiri, jauh dari harga yang dipatok oleh Sokran. Padahal dia hanya mengambil laba 50.000, itu pun kalau dihitung untuk membayar capeknya jalan, keringatnya yang bercucuran, serta sakitnya menahan lapar, tentu tidak akan cukup.
Sokran memarkir gerobaknya di teras, ia segera masuk ke dalam kamar. Menjenguk ibunya yang sudah berbaring tiga tahun di ranjang karena stroke. Sokran mencium tangan ibunya, begitu dalam seakan meminta maaf karena tidak berhasil membawa pulang uang untuk kebutuhan makan. Sedangkan ibunya meliriknya, sambil berlinang air mata.
 “Kok, pintunya di bawa pulang lagi?” tukas Istri Sokran yang tiba-tiba datang.
 “Banyak yang nawar, tapi belum ada yang cocok harganya, Buk.”
 “Kenapa tidak bapak kasihkan saja, ‘kan lumayan. Dari pada pulang, sudah capek nyeret gerobak, tidak bawa uang lagi.”
Istri Sokran pun lantas pergi dari hadapannya.
Perempuan ini dari dulu memang tidak setuju suaminya jual kerajinan, ia sering menyuruh suaminya agar merantau saja ke Malaysia atau Brunei. Seperti tetangganya yang lain, yang sekarang sudah bisa bangun rumah besar-besar.
 “Sinta ke mana, Buk?”
Sokran menghampiri istrinya yang sedang selonjoran di depan televisi.
 “Tadi katanya mau ke kali, cari ikan sama teman-temannya,” jawab istri Sokran sekenanya.
 “Ibuk ini bagaimana toh, Sinta itu perempuan, kenapa dibiarkan main di kali? Kali itu dalam, gimana kalau dia tenggelam?”
 “Bapak tidak usah teriak-teriak, bapak itu tidak becus cari makan, kenapa menyalahkan Sinta yang cari ikan? Toh, lumayan ‘kan, nanti bisa dibuat lauk makan.”
“Kau keterlaluan.”
 “Kamu yang miskinnya keterlaluan.”
Sokran menahan amarahnya, melafalkan istighfar berkali-kali, lalu menjemput anaknya sendiri.
Apa yang Sokran khawatirkan terjadi, dari jauh dia mendengar teriakan minta tolong. Ternyata Sinta hanyut di kali dan tidak ada kawannya yang berani menolongnya.
Sokran pun langsung menyelami kali, timbul tenggelam beberapa kali sampai ia menemukan jasad putrinya yang telah membiru. Segera ia keluarkan semua air dan lumpur dari perut putrinya. Mengecek denyut nadi di pergelangan tangan dan leher, dengan rasa takut yang mencekam.
Nadi Sinta telah berhenti, air mata Sokran mulai mengalir. Dia segera membopong putrinya pulang. Para warga desa langsung riuh, keluar rumah dan berjejer di sepanjang jalan. Memberikan simpati dan iba kepada tukang pengrajin pintu yang tak laku-laku itu. Semua warga geger kecuali istrinya.
Saat pertama kali masuk rumah, yang dilihat adalah istrinya sedang berciuman dan dipangku oleh Karno. Adik kandung Sokran sendiri. Ingin rasanya Sokran muntab dan membanting semua perabotan yang ada, tapi dia sedang berduka.
Sokran membaringkan putrinya di kursi. Ketika melihat Sinta, yang telah kaku. Mata Sokran menyalakan amarah, api cemburu membakar kewarasannya. Dia segera mencengkeram leher adik kandungnya, menyiksanya sampai berdarah-darah, mengumpatnya sampai suaranya serak. Ibunya yang stroke sampai ingin turun tangan memisahkan tetapi gagal, ia terjatuh dari atas ranjang.
Sokran baru habis napasnya, saat kuping adiknya mengeluarkan cairan bercampur darah. Adiknya diam tak merintih. Hari itu, warga mengubur tiga jasad sekaligus. Sinta, Karno, dan ibunya Sokran.
Di atas tiga pusara yang masih basah.
“Apa kau masih mencintai Karno?” tanya Sokran kepada istrinya yang masih terpuruk memegang batu nisan anaknya.
Istri Sokran diam, menyembunyikan mukanya.
 “Aku tahu, kau masih mencintai Karno. Aku akan mengantarmu menyusulnya.”
Dikeluarkanlah sebilah pisau dari lipatan sarungnya, menggoreskan ke leher istrinya. Darah wanita itu mengalir membasahi kuburan anak, Karno, dan ibu mertuanya. Sementara Sokran sejak kejadian itu, dia menghilang.

Baca Juga :  Kunker Ditunda, DPRD Fokus Awasi Kinerja OPD

*Alief Irfan,
Santri Ponpes Manbail Huda dan lulusan SMO Mitra Karya aktif di dunia literasi. Karyanya dimuat di berbagai media masa dan terbit menjadi beberapa buku.,

SOKRAN adalah lelaki paruh baya, yang separuh hidupnya dihabiskan untuk mengerjakan kerajinan kayu. Mulai dari almari, pintu, jendela, kursi, dan perabot lain. Jika tidak ada pemesan maka Sokran akan membawa dagangannya keliling dari satu kecamatan ke kecamatan lain menggunakan gerobak.
Setelah berkeliling dengan jalan kaki selama dua hari, Sokran terpaksa membawa pulang pintu buatannya sendiri. Banyak orang yang menawar tapi seenaknya sendiri, jauh dari harga yang dipatok oleh Sokran. Padahal dia hanya mengambil laba 50.000, itu pun kalau dihitung untuk membayar capeknya jalan, keringatnya yang bercucuran, serta sakitnya menahan lapar, tentu tidak akan cukup.
Sokran memarkir gerobaknya di teras, ia segera masuk ke dalam kamar. Menjenguk ibunya yang sudah berbaring tiga tahun di ranjang karena stroke. Sokran mencium tangan ibunya, begitu dalam seakan meminta maaf karena tidak berhasil membawa pulang uang untuk kebutuhan makan. Sedangkan ibunya meliriknya, sambil berlinang air mata.
 “Kok, pintunya di bawa pulang lagi?” tukas Istri Sokran yang tiba-tiba datang.
 “Banyak yang nawar, tapi belum ada yang cocok harganya, Buk.”
 “Kenapa tidak bapak kasihkan saja, ‘kan lumayan. Dari pada pulang, sudah capek nyeret gerobak, tidak bawa uang lagi.”
Istri Sokran pun lantas pergi dari hadapannya.
Perempuan ini dari dulu memang tidak setuju suaminya jual kerajinan, ia sering menyuruh suaminya agar merantau saja ke Malaysia atau Brunei. Seperti tetangganya yang lain, yang sekarang sudah bisa bangun rumah besar-besar.
 “Sinta ke mana, Buk?”
Sokran menghampiri istrinya yang sedang selonjoran di depan televisi.
 “Tadi katanya mau ke kali, cari ikan sama teman-temannya,” jawab istri Sokran sekenanya.
 “Ibuk ini bagaimana toh, Sinta itu perempuan, kenapa dibiarkan main di kali? Kali itu dalam, gimana kalau dia tenggelam?”
 “Bapak tidak usah teriak-teriak, bapak itu tidak becus cari makan, kenapa menyalahkan Sinta yang cari ikan? Toh, lumayan ‘kan, nanti bisa dibuat lauk makan.”
“Kau keterlaluan.”
 “Kamu yang miskinnya keterlaluan.”
Sokran menahan amarahnya, melafalkan istighfar berkali-kali, lalu menjemput anaknya sendiri.
Apa yang Sokran khawatirkan terjadi, dari jauh dia mendengar teriakan minta tolong. Ternyata Sinta hanyut di kali dan tidak ada kawannya yang berani menolongnya.
Sokran pun langsung menyelami kali, timbul tenggelam beberapa kali sampai ia menemukan jasad putrinya yang telah membiru. Segera ia keluarkan semua air dan lumpur dari perut putrinya. Mengecek denyut nadi di pergelangan tangan dan leher, dengan rasa takut yang mencekam.
Nadi Sinta telah berhenti, air mata Sokran mulai mengalir. Dia segera membopong putrinya pulang. Para warga desa langsung riuh, keluar rumah dan berjejer di sepanjang jalan. Memberikan simpati dan iba kepada tukang pengrajin pintu yang tak laku-laku itu. Semua warga geger kecuali istrinya.
Saat pertama kali masuk rumah, yang dilihat adalah istrinya sedang berciuman dan dipangku oleh Karno. Adik kandung Sokran sendiri. Ingin rasanya Sokran muntab dan membanting semua perabotan yang ada, tapi dia sedang berduka.
Sokran membaringkan putrinya di kursi. Ketika melihat Sinta, yang telah kaku. Mata Sokran menyalakan amarah, api cemburu membakar kewarasannya. Dia segera mencengkeram leher adik kandungnya, menyiksanya sampai berdarah-darah, mengumpatnya sampai suaranya serak. Ibunya yang stroke sampai ingin turun tangan memisahkan tetapi gagal, ia terjatuh dari atas ranjang.
Sokran baru habis napasnya, saat kuping adiknya mengeluarkan cairan bercampur darah. Adiknya diam tak merintih. Hari itu, warga mengubur tiga jasad sekaligus. Sinta, Karno, dan ibunya Sokran.
Di atas tiga pusara yang masih basah.
“Apa kau masih mencintai Karno?” tanya Sokran kepada istrinya yang masih terpuruk memegang batu nisan anaknya.
Istri Sokran diam, menyembunyikan mukanya.
 “Aku tahu, kau masih mencintai Karno. Aku akan mengantarmu menyusulnya.”
Dikeluarkanlah sebilah pisau dari lipatan sarungnya, menggoreskan ke leher istrinya. Darah wanita itu mengalir membasahi kuburan anak, Karno, dan ibu mertuanya. Sementara Sokran sejak kejadian itu, dia menghilang.

Baca Juga :  Puluhan Ribu Petani Terancam Tak Bisa Membeli Pupuk Bersubsidi

*Alief Irfan,
Santri Ponpes Manbail Huda dan lulusan SMO Mitra Karya aktif di dunia literasi. Karyanya dimuat di berbagai media masa dan terbit menjadi beberapa buku.,

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/