alexametrics
31.2 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Musim Hujan Datang, Petambak Berburu Nener – Benur

Radar Lamongan – Nener (bibit bandeng) dan benur (bibit udang) menjadi buruan pada petambak di awal musim hujan ini. Masa tabur benih ini membuat penjual nener dan benur panen. Mereka kewalahan memenuhi banyaknya pesanan. ‘’Mulai awal bulan ini sudah mulai banyak pesanan nener dan benur,’’ ujar Ahmad Syairozi, penjual bibit nener dan benur di Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Lamongan kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (28/10).

Dia menjelaskan, permintaan benur lebih tinggi dibandingkan nener. Dalam sehari, permintaan benur mencapai 450 rean. Satu rean berisi sekitar 5.500 bibit. Tingginya permintaan itu membuat harga benur naik drastic. Jika semula Rp 80 ribu per rean, maka kini Rp 120 ribu per rean. ‘’Lima hari sekali naik harga,’’ tutur Rozi.

Baca Juga :  Pemerintah Dorong KUR Klaster Perkuat Daya Tahan UMKM

Karena tingginya permintaan juga, petambak harus inden hingga seminggu untuk bisa mendapatkan benur. ‘’Permintaan banyak, tapi ini stok benurnya yang sulit. Jadi pengembangan telurnya tidak seberapa menjadikan, karena musim kemarau,’’ imbuh Rozi.

Menurut dia, pembeli nener dan benur mengantre mulai pukul 05.00. Dari tujuh kolam benur miliknya, kini hanya satu kolam yang bisa terisi. Rozi memerkirakan, permintaan benur dan nener akan lebih tinggi di awal bulan depan. ‘’Nanti kalau tinggitingginya biasanya jam tiga pagi sudah banyak yang mengantre,’’ ujar Rozi.

Sementara itu, permintaan nener mencapai 200 rean per hari. Tingginya permintaan nener juga membuat harganya Harus Inden hingga Seminggu merangkak naik. Sebelumnya, harga nener Rp 75 ribu per rean. Kini, Rp 85 ribu per rean. ‘’Ini nanti kemungkinan harganya naik terus seiring masuknya musim hujan,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Sering Tak Dengar Suara Dosen

Salah satu pegawai penjualan nener dan benur lainnya, Mukhid menjelaskan, nener dan benur didatangkan dari Bali. Selain permintaan, biasanya harga nener juga dipengaruhi pasar ekspor. Jika keran ekspor dari Bali mulai tinggi, maka harga nener diprediksi bisa tembus Rp 125 ribu per rean. ‘’Kalau nanti harganya sudah di atas seratus ribu, maka berarti ekspor di sana sudah mulai jalan. Karena harganya kan menyesuaikan di sana,’’ ujar Mukhid.

Radar Lamongan – Nener (bibit bandeng) dan benur (bibit udang) menjadi buruan pada petambak di awal musim hujan ini. Masa tabur benih ini membuat penjual nener dan benur panen. Mereka kewalahan memenuhi banyaknya pesanan. ‘’Mulai awal bulan ini sudah mulai banyak pesanan nener dan benur,’’ ujar Ahmad Syairozi, penjual bibit nener dan benur di Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Lamongan kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (28/10).

Dia menjelaskan, permintaan benur lebih tinggi dibandingkan nener. Dalam sehari, permintaan benur mencapai 450 rean. Satu rean berisi sekitar 5.500 bibit. Tingginya permintaan itu membuat harga benur naik drastic. Jika semula Rp 80 ribu per rean, maka kini Rp 120 ribu per rean. ‘’Lima hari sekali naik harga,’’ tutur Rozi.

Baca Juga :  Siapkan Sepuluh Komputer Cadangan

Karena tingginya permintaan juga, petambak harus inden hingga seminggu untuk bisa mendapatkan benur. ‘’Permintaan banyak, tapi ini stok benurnya yang sulit. Jadi pengembangan telurnya tidak seberapa menjadikan, karena musim kemarau,’’ imbuh Rozi.

Menurut dia, pembeli nener dan benur mengantre mulai pukul 05.00. Dari tujuh kolam benur miliknya, kini hanya satu kolam yang bisa terisi. Rozi memerkirakan, permintaan benur dan nener akan lebih tinggi di awal bulan depan. ‘’Nanti kalau tinggitingginya biasanya jam tiga pagi sudah banyak yang mengantre,’’ ujar Rozi.

Sementara itu, permintaan nener mencapai 200 rean per hari. Tingginya permintaan nener juga membuat harganya Harus Inden hingga Seminggu merangkak naik. Sebelumnya, harga nener Rp 75 ribu per rean. Kini, Rp 85 ribu per rean. ‘’Ini nanti kemungkinan harganya naik terus seiring masuknya musim hujan,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Bojonegoro Bus Community : Tetap Tidak Benarkan Sopir Bus Ugal-ugalan

Salah satu pegawai penjualan nener dan benur lainnya, Mukhid menjelaskan, nener dan benur didatangkan dari Bali. Selain permintaan, biasanya harga nener juga dipengaruhi pasar ekspor. Jika keran ekspor dari Bali mulai tinggi, maka harga nener diprediksi bisa tembus Rp 125 ribu per rean. ‘’Kalau nanti harganya sudah di atas seratus ribu, maka berarti ekspor di sana sudah mulai jalan. Karena harganya kan menyesuaikan di sana,’’ ujar Mukhid.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/