alexametrics
30.7 C
Bojonegoro
Monday, May 16, 2022

Rutin Kenalkan Bahasa Isyarat, Ingin Setara Bermasyarakat

Bahasa isyarat masih terdengar asing. Namun, Gerkatin Bojonegoro kerap mengampanyekan bahasa isyarat, agar warga difabel, terutama tunarungu, juga diberi kesempatan bisa bergaul di tengah masyarakat. 

——————————————-

BHAGAS DANI PURWOKO, Bojonegoro

——————————————–

MATAHARI menyembul dengan mesra dari ufuk timur, menyinari jalanan aspal Alun-Alun Bojonegoro yang basah akibat sisa hujan semalam.

Banyak muda-mudi, anak-anak, suami-istri, serta orang-orang lansia melebur jadi satu berduyun-duyun berolahraga tanpa komando. 

Ada yang berlarian, bersepeda, jalan-jalan, bahkan ada yang melaju kencang dengan sepatu roda. 

Namun, ada pemandangan berbeda di depan Masjid Darussalam Bojonegoro, sekitar 10 orang sedang sibuk menggerakkan tangan sambil berhadapan tanpa mengeluarkan suara sekalipun.

Terlihat mereka berkomunikasi gayeng, walaupun masih banyak orang yang bingung ketika lalu lalang di depan mereka.

Tetapi, ada beberapa pengunjung car free day (CFD) juga ingin singgah sejenak menanyakan kegiatan yang sedang mereka lakukan. 

Hal yang sama dirasakan oleh wartawan koran ini, menanyakan kegiatan apa yang sedang mereka lakukan. Ketika mendekat, disambut senyuman ramah dari mereka.

Ada satu perempuan bilang bahwa mereka sedang mengenalkan bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) kepada para pengunjung CFD. Perempuan itu juga satu-satunya yang bisa berkomunikasi secara vebal.

Ternyata, dia memang penerjemah bahasa isyarat dari kawan-kawan dari organisasi Gerakan untuk Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Bojonegoro. 

Perempuan itu bernama Ririn Indah Lestari. Dia merupakan sosok yang ramah dan telaten menyambungkan pertanyaan wartawan koran ini kepada kawan-kawan penyandang tunarungu dari Gerkatin Bojonegoro.

Perempuan asal Desa Prambatan, Kecamatan Balen, itu pun mengawali obrolan dengan memperkenalkan Ketua Gerkatin Bojonegoro, yakni Meta Fauzia Alfiani.

Sang ketua mengatakan, Gerkatin Bojonegoro didirikan pada 25 Desember 2016. Mereka berkegiatan setiap dua minggu sekali di depan Masjid Darussalam Bojonegoro saat CFD.

Baca Juga :  SPP Gratis Untuk SMA-SMK Bakal Dicairkan Lagi?

”Kami biasanya berkumpul sejak pukul 06.00, lalu menyosialisasikan Bisindo kepada pengunjung CFD,” ujarnya. 

Pada pertemuan kemarin (29/10), bertepatan ada kunjungan dari perwakilan Gerkatin Provinsi Jawa Timur yakni Fathan Kurniawan dan Sapto Prambono.

”Kunjungan tersebut ingin melihat kegiatan-kegiatan positif yang sedang dilaksanakan oleh kawan-kawan Gerkatin Bojonegoro,” tutur perempuan kelahiran 19 September 1994 itu.

Tujuan utama didirikannya Gerkatin Bojonegoro tentu sesuai dengan visi utama Gerkatin pusat, yakni mencapai kesamaan kesempatan dalam semua aspek kehidupan dan penghidupan.

Sebab, kawan-kawan Gerkatin tidak ada istilah orang normal, mereka menyebutnya hearing.

”Tidak ada perbedaan, penyandang tunarungu tidak menyebut orang lain yang bisa mendengar dan bicara itu orang normal, melainkan kawan-kawan hearing.

Contohnya seperti saya ini, dianggap mereka kawan hearing,” jelasnya.

Sejak awal berdiri hingga sekarang, jumlah anggota Gerkatin Bojonegoro mencapai 40 orang.

Mereka aktif berkoordinasi via grup WhatsApp. Pencarian anggota juga berdasarkan jaringan pertemanan saat menimba ilmu di sekolah luar biasa. 

Penyandang tunarungu tidak bisa dipandang sebelah mata. Tidak pantas untuk didiskriminasi. Sebab, kerap kali banyak orang masih keliru menganggap penyandang tuna rungu itu tunawicara.

”Memang kerap susah dibedakan, karena orang awam melihat orang berbicara dengan bahasa isyarat dianggap bisu, padahal mereka tunarungu,” tuturnya. 

Selain itu, para anggota Gerkatin Bojonegoro juga mampu berkreasi, bahkan rata-rata berprofesi sebagai perajin. ”Sebagian besar anggota Gerkatin Bojonegoro ialah perajin.

Ada yang bisa bikin wayang, boneka, pelat nomor, dan sebagainya,” terangnya.

Selain Ririn, di Gerkatin Bojonegoro juga ada penerjemah lain, yaitu Agung Ridwan, namun tidak datang kala itu.

Baca Juga :  Ban Mobil Pecah, Tabrak Empat Motor lalu Mobil Terperosok ke Parit

Dari awal membentuk Gerkatin Bojonegoro, kawan-kawan penyandang tunarungu juga mengajak kawan hearing guna membantu berkomunikasi dengan orang yang masih awam. 

Gerkatin Bojonegoro juga ingin kesetaraan dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakat Bojonegoro.

Mereka pun pelan-pelan mengenalkan Bisindo dengan cara yang menyenangkan, sehingga lebih muda diterima.

”Mengajari Bisindo kepada orang awam itu seru, mereka juga pasti bawa kertas berupa contoh-contoh bahasa isyarat alfabet, lalu kalau sudah paham bisa belajar mengenal isyaratnya sebuah kalimat,” tuturnya.

Semua orang ingin dirangkul oleh Gerkatin Bojonegoro. Karena memang masih banyak orang yang malu atau bahkan menjauh ketika ada penyandang tunarungu yang berusaha berkomunikasi.

Mereka juga mengenalkan bahwa bahasa isyarat tiap kota pasti ada perbedaan sedikit, namun intinya tetap sama. 

Bahasa isyarat memang butuh kesepakatan tersendiri agar bisa kompak dan bisa lancar berkomunikasi. ”Bahasa isyarat itu unik sekali, mereka menyepakati secara lokal sebuah isyarat.

Sehingga, kadang berbeda dengan isyarat kota lain, namun perbedaannya tidak terlalu signifikan,” tuturnya. Begitu pun bahasa, kadang perbedaan ada pada dialek atau aksennya.

Adapun bahasa isyarat nama-nama kota juga unik. Mereka mengisyaratkan nama-nama kota berdasarkan ikon kota itu sendiri.

Seperti halnya Jakarta dengan monasnya, Surabaya dengan hiu dan buayanya, Malang dengan singo edan-nya, dan Bojonegoro dengan Kahyangan Api.

”Mereka sepakat ketika mengisyaratkan nama sebuah kota berdasarkan maskot atau ikon kota itu sendiri,” katanya. C

ontohnya, imbuh dia, kota Malang itu singo edan (Arema) bahasa isyaratnya ialah tiga jari tangan kanan dan kiri mengoles pipi sebelah kanan dan kiri.

Bahasa isyarat masih terdengar asing. Namun, Gerkatin Bojonegoro kerap mengampanyekan bahasa isyarat, agar warga difabel, terutama tunarungu, juga diberi kesempatan bisa bergaul di tengah masyarakat. 

——————————————-

BHAGAS DANI PURWOKO, Bojonegoro

——————————————–

MATAHARI menyembul dengan mesra dari ufuk timur, menyinari jalanan aspal Alun-Alun Bojonegoro yang basah akibat sisa hujan semalam.

Banyak muda-mudi, anak-anak, suami-istri, serta orang-orang lansia melebur jadi satu berduyun-duyun berolahraga tanpa komando. 

Ada yang berlarian, bersepeda, jalan-jalan, bahkan ada yang melaju kencang dengan sepatu roda. 

Namun, ada pemandangan berbeda di depan Masjid Darussalam Bojonegoro, sekitar 10 orang sedang sibuk menggerakkan tangan sambil berhadapan tanpa mengeluarkan suara sekalipun.

Terlihat mereka berkomunikasi gayeng, walaupun masih banyak orang yang bingung ketika lalu lalang di depan mereka.

Tetapi, ada beberapa pengunjung car free day (CFD) juga ingin singgah sejenak menanyakan kegiatan yang sedang mereka lakukan. 

Hal yang sama dirasakan oleh wartawan koran ini, menanyakan kegiatan apa yang sedang mereka lakukan. Ketika mendekat, disambut senyuman ramah dari mereka.

Ada satu perempuan bilang bahwa mereka sedang mengenalkan bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) kepada para pengunjung CFD. Perempuan itu juga satu-satunya yang bisa berkomunikasi secara vebal.

Ternyata, dia memang penerjemah bahasa isyarat dari kawan-kawan dari organisasi Gerakan untuk Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Bojonegoro. 

Perempuan itu bernama Ririn Indah Lestari. Dia merupakan sosok yang ramah dan telaten menyambungkan pertanyaan wartawan koran ini kepada kawan-kawan penyandang tunarungu dari Gerkatin Bojonegoro.

Perempuan asal Desa Prambatan, Kecamatan Balen, itu pun mengawali obrolan dengan memperkenalkan Ketua Gerkatin Bojonegoro, yakni Meta Fauzia Alfiani.

Sang ketua mengatakan, Gerkatin Bojonegoro didirikan pada 25 Desember 2016. Mereka berkegiatan setiap dua minggu sekali di depan Masjid Darussalam Bojonegoro saat CFD.

Baca Juga :  Nyantol, Sisa Uang Pembangunan RSUD Belum Dikembalikan

”Kami biasanya berkumpul sejak pukul 06.00, lalu menyosialisasikan Bisindo kepada pengunjung CFD,” ujarnya. 

Pada pertemuan kemarin (29/10), bertepatan ada kunjungan dari perwakilan Gerkatin Provinsi Jawa Timur yakni Fathan Kurniawan dan Sapto Prambono.

”Kunjungan tersebut ingin melihat kegiatan-kegiatan positif yang sedang dilaksanakan oleh kawan-kawan Gerkatin Bojonegoro,” tutur perempuan kelahiran 19 September 1994 itu.

Tujuan utama didirikannya Gerkatin Bojonegoro tentu sesuai dengan visi utama Gerkatin pusat, yakni mencapai kesamaan kesempatan dalam semua aspek kehidupan dan penghidupan.

Sebab, kawan-kawan Gerkatin tidak ada istilah orang normal, mereka menyebutnya hearing.

”Tidak ada perbedaan, penyandang tunarungu tidak menyebut orang lain yang bisa mendengar dan bicara itu orang normal, melainkan kawan-kawan hearing.

Contohnya seperti saya ini, dianggap mereka kawan hearing,” jelasnya.

Sejak awal berdiri hingga sekarang, jumlah anggota Gerkatin Bojonegoro mencapai 40 orang.

Mereka aktif berkoordinasi via grup WhatsApp. Pencarian anggota juga berdasarkan jaringan pertemanan saat menimba ilmu di sekolah luar biasa. 

Penyandang tunarungu tidak bisa dipandang sebelah mata. Tidak pantas untuk didiskriminasi. Sebab, kerap kali banyak orang masih keliru menganggap penyandang tuna rungu itu tunawicara.

”Memang kerap susah dibedakan, karena orang awam melihat orang berbicara dengan bahasa isyarat dianggap bisu, padahal mereka tunarungu,” tuturnya. 

Selain itu, para anggota Gerkatin Bojonegoro juga mampu berkreasi, bahkan rata-rata berprofesi sebagai perajin. ”Sebagian besar anggota Gerkatin Bojonegoro ialah perajin.

Ada yang bisa bikin wayang, boneka, pelat nomor, dan sebagainya,” terangnya.

Selain Ririn, di Gerkatin Bojonegoro juga ada penerjemah lain, yaitu Agung Ridwan, namun tidak datang kala itu.

Baca Juga :  Tunjangan Guru Madin Nunggak

Dari awal membentuk Gerkatin Bojonegoro, kawan-kawan penyandang tunarungu juga mengajak kawan hearing guna membantu berkomunikasi dengan orang yang masih awam. 

Gerkatin Bojonegoro juga ingin kesetaraan dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakat Bojonegoro.

Mereka pun pelan-pelan mengenalkan Bisindo dengan cara yang menyenangkan, sehingga lebih muda diterima.

”Mengajari Bisindo kepada orang awam itu seru, mereka juga pasti bawa kertas berupa contoh-contoh bahasa isyarat alfabet, lalu kalau sudah paham bisa belajar mengenal isyaratnya sebuah kalimat,” tuturnya.

Semua orang ingin dirangkul oleh Gerkatin Bojonegoro. Karena memang masih banyak orang yang malu atau bahkan menjauh ketika ada penyandang tunarungu yang berusaha berkomunikasi.

Mereka juga mengenalkan bahwa bahasa isyarat tiap kota pasti ada perbedaan sedikit, namun intinya tetap sama. 

Bahasa isyarat memang butuh kesepakatan tersendiri agar bisa kompak dan bisa lancar berkomunikasi. ”Bahasa isyarat itu unik sekali, mereka menyepakati secara lokal sebuah isyarat.

Sehingga, kadang berbeda dengan isyarat kota lain, namun perbedaannya tidak terlalu signifikan,” tuturnya. Begitu pun bahasa, kadang perbedaan ada pada dialek atau aksennya.

Adapun bahasa isyarat nama-nama kota juga unik. Mereka mengisyaratkan nama-nama kota berdasarkan ikon kota itu sendiri.

Seperti halnya Jakarta dengan monasnya, Surabaya dengan hiu dan buayanya, Malang dengan singo edan-nya, dan Bojonegoro dengan Kahyangan Api.

”Mereka sepakat ketika mengisyaratkan nama sebuah kota berdasarkan maskot atau ikon kota itu sendiri,” katanya. C

ontohnya, imbuh dia, kota Malang itu singo edan (Arema) bahasa isyaratnya ialah tiga jari tangan kanan dan kiri mengoles pipi sebelah kanan dan kiri.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/