alexametrics
32.7 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Geger, Notaris Reza Ditemukan Meninggal

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Rumah notaris Reza Perveez Kalia di Jalan Untung Suropati, Kelurahan Sumbang, Kecamatan Bojonegoro kemarin (28/9) pagi dipasang police line.

Sejak pukul 08.00, polisi berpakaian preman dan dinas terlihat keluar-masuk rumah notaris berusia 56 tahun itu. Hanya petugas Inafis Polres Bojonegoro dan sejumlah keluarganya yang boleh masuk.

Ya, aparat hukum polres setempat dituntut mengungkap meninggalnya Reza yang mendadak ketika tengah menghadapi kasus hukum. Kasus tersebut terkait tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istrinya Vedhasari Puspita.

Perlu diketahui, kasus tersebut terjadi Mei 2019. Atas perbuatannya, Reza divonis pidana penjara selama dua bulan penjara. Statusnya tahanan rumah. 

Atas vonis yang diketuk pada 18 September lalu itu, dia mengajukan banding. Bersamaan langkah banding, Reza tengah menjalani proses perceraian dengan istrinya.

Sejumlah warga setempat kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro mengungkapkan kekagetan atas meninggalnya sang notaris senior tersebut. Sebab, sebelumnya Reza tidak dalam kondisi sakit. Salah satu warga yang keberatan namanya dikorankan mengatakan, asisten rumah tangga (ART) notaris itu yang kali pertama mengetahui meninggalnya Reza.

Baca Juga :  Sepuluh Parpol Nihil Sumbangan Dana Kampanye¬†

Ketika hendak masuk ke rumah tersebut sekitar pukul 07.00, dia mendapat tempat hunian itu terkunci. Karena tak bisa membuka, ART ini minta tolong penjaga rumah tersebut untuk membukakan. ”Ketika masuk, Pak Reza didapati tengah tidur di kamar. Dibangunkan tidak bisa, ternyata badannya sudah kaku,” ujar dia.

Di rumah tersebut, Reza hanya tinggal  bersama anak bungsunya yang masih berusia sekolah dasar (SD).

Penyebab meninggalnya notaris itu  masih diselidiki. Selain olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi juga membawa jasadnya ke RSUD dr Sosodoro Djatikoesoemo untuk divisum.

Di rumah duka, sejumlah orang terdekat maupun keluarga Reza enggan diwawancarai wartawan koran ini.

Kapolres Bojonegoro AKBP Ary Fadli meminta media untuk bersabar menunggu hasil visum et repertum dari RSUD. Menurut dia, berdasarkan pengamatan kasat mata, tidak terlihat tanda-tanda penganiayaan. ”Untuk pastinya tunggu hasil visumnya ya, apabila dari pemeriksaan visum luar sudah cukup, kami tidak perlu otopsi jenazah,” tegasnya.
Kapolres memperkirakan Reza  meninggal karena sakit. Sebab, berdasar keterangan keluarga, dia memiliki riwayat penyakit darah tinggi dan lambung.

Baca Juga :  DPC HANURA : OPTIMIS RAIH KURSI PIMPINAN DEWAN

Dikonfirmasi terpisah, Kasatreskrim Polres Bojonegoro AKP Rifaldhy Hangga Putra tak banyak berkomentar, apalagi menduga-duga penyebab kematian Reza. ”Kita masih mendalami pemeriksaan ART yang kali pertama menemukan  korban meninggal,” kata dia.

Humas Pengadilan Negeri (PN) Bojonegoro Isdaryanto mengatakan, sudah menerima kabar meninggalnya Reza. Namun, pihaknya masih menunggu surat resmi dari penasihat hukum terdakwa terkait surat kematian Reza. Menurut dia, jaksa penuntut umum mengagendakan mengirim berkas banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya pada Selasa (1/10).

Melalui sambungan telepon, Vedhasari Puspita mengatakan tengah berada di rumah duka. Dia mengaku mendapat kabar meninggalnya Reza sekitar pukul 09.00. Sepengetahuannya, kondisi Reza pada Jumat lalu sehat dan masih kerja di kantor.

Meski sempat berseteru, dia mengaku merasa sedih atas meninggalnya Reza. Terkait penyebab kematiannya, dia tak mau berspekulasi terlalu jauh.

Menurut Vedhasari, selama sepuluh tahun lebih berumah tangga dengan Reza, pria bertubuh tinggi besar itu memiliki riwayat sakit darah tinggi dan lambung. ”Entah serangan jantung atau apa saya juga tidak tahu, tapi saya sedih tahu jenazahnya akan diotopsi,” pungkasnya.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Rumah notaris Reza Perveez Kalia di Jalan Untung Suropati, Kelurahan Sumbang, Kecamatan Bojonegoro kemarin (28/9) pagi dipasang police line.

Sejak pukul 08.00, polisi berpakaian preman dan dinas terlihat keluar-masuk rumah notaris berusia 56 tahun itu. Hanya petugas Inafis Polres Bojonegoro dan sejumlah keluarganya yang boleh masuk.

Ya, aparat hukum polres setempat dituntut mengungkap meninggalnya Reza yang mendadak ketika tengah menghadapi kasus hukum. Kasus tersebut terkait tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istrinya Vedhasari Puspita.

Perlu diketahui, kasus tersebut terjadi Mei 2019. Atas perbuatannya, Reza divonis pidana penjara selama dua bulan penjara. Statusnya tahanan rumah. 

Atas vonis yang diketuk pada 18 September lalu itu, dia mengajukan banding. Bersamaan langkah banding, Reza tengah menjalani proses perceraian dengan istrinya.

Sejumlah warga setempat kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro mengungkapkan kekagetan atas meninggalnya sang notaris senior tersebut. Sebab, sebelumnya Reza tidak dalam kondisi sakit. Salah satu warga yang keberatan namanya dikorankan mengatakan, asisten rumah tangga (ART) notaris itu yang kali pertama mengetahui meninggalnya Reza.

Baca Juga :  Amir Daftar, Dandi Mundur

Ketika hendak masuk ke rumah tersebut sekitar pukul 07.00, dia mendapat tempat hunian itu terkunci. Karena tak bisa membuka, ART ini minta tolong penjaga rumah tersebut untuk membukakan. ”Ketika masuk, Pak Reza didapati tengah tidur di kamar. Dibangunkan tidak bisa, ternyata badannya sudah kaku,” ujar dia.

Di rumah tersebut, Reza hanya tinggal  bersama anak bungsunya yang masih berusia sekolah dasar (SD).

Penyebab meninggalnya notaris itu  masih diselidiki. Selain olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi juga membawa jasadnya ke RSUD dr Sosodoro Djatikoesoemo untuk divisum.

Di rumah duka, sejumlah orang terdekat maupun keluarga Reza enggan diwawancarai wartawan koran ini.

Kapolres Bojonegoro AKBP Ary Fadli meminta media untuk bersabar menunggu hasil visum et repertum dari RSUD. Menurut dia, berdasarkan pengamatan kasat mata, tidak terlihat tanda-tanda penganiayaan. ”Untuk pastinya tunggu hasil visumnya ya, apabila dari pemeriksaan visum luar sudah cukup, kami tidak perlu otopsi jenazah,” tegasnya.
Kapolres memperkirakan Reza  meninggal karena sakit. Sebab, berdasar keterangan keluarga, dia memiliki riwayat penyakit darah tinggi dan lambung.

Baca Juga :  Desa Sudah, Pernah Disinggahi Pedagang Tionghoa

Dikonfirmasi terpisah, Kasatreskrim Polres Bojonegoro AKP Rifaldhy Hangga Putra tak banyak berkomentar, apalagi menduga-duga penyebab kematian Reza. ”Kita masih mendalami pemeriksaan ART yang kali pertama menemukan  korban meninggal,” kata dia.

Humas Pengadilan Negeri (PN) Bojonegoro Isdaryanto mengatakan, sudah menerima kabar meninggalnya Reza. Namun, pihaknya masih menunggu surat resmi dari penasihat hukum terdakwa terkait surat kematian Reza. Menurut dia, jaksa penuntut umum mengagendakan mengirim berkas banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya pada Selasa (1/10).

Melalui sambungan telepon, Vedhasari Puspita mengatakan tengah berada di rumah duka. Dia mengaku mendapat kabar meninggalnya Reza sekitar pukul 09.00. Sepengetahuannya, kondisi Reza pada Jumat lalu sehat dan masih kerja di kantor.

Meski sempat berseteru, dia mengaku merasa sedih atas meninggalnya Reza. Terkait penyebab kematiannya, dia tak mau berspekulasi terlalu jauh.

Menurut Vedhasari, selama sepuluh tahun lebih berumah tangga dengan Reza, pria bertubuh tinggi besar itu memiliki riwayat sakit darah tinggi dan lambung. ”Entah serangan jantung atau apa saya juga tidak tahu, tapi saya sedih tahu jenazahnya akan diotopsi,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/