alexametrics
23.5 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Awalnya Bingung Diterima Kuliah di Malaysia dan Tiongkok

DITERIMA kuliah di dua universitas di luar negeri tentu mengejutkan. Namun, Sonia Arinta akhirnya memutuskan kuliah di Tiongkok jurusan perminyakan. Nantinya, dia ingin kembali ke tanah kelahiran untuk mengabdi.

Langkah kaki Sonia Arinta Wahyunus pasti namun malu-malu. Peraih beasiswa Yangzhou Polytechnic Institute ini suaranya ramah dan murah senyum. Jabatan tangannya erat. Memakai busana batik umum ia memasuki lobi kantor Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Wajahnya memakai riasan tipis. Tidak seperti kali pertama bertemu Sonia, panggilan akrabnya ketika di sekolahnya. Saat itu dengan suara berbisik, ia tidak malu meminta nomor handphone Jawa Pos Radar Bojonegoro. Memakai pakaian sekolah dan berkerudung putih. Tanpa riasan sama sekali.

Duduk bersebelahan, Sonia menceritakan kegiatannya setelah lulus sekolah. ’’Sekarang bantu-bantu di Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Bojonegoro. Sambil menunggu keberangkatan kuliah luar negeri. Persiapan sudah selesai, tinggal tunggu visa saja,’’ ucapnya pelan.

Baca Juga :  Di-Warning Tak Picu Masalah

Alumni MAN 1 Model Bojonegoro ini aktif di beberapa aktivitas organisasi. Seperti Forum Anak Bojonegoro (Fabo), kader siaga kependudukan MAN 1 Model Bojonegoro, dan anggota OSIS.

Dia menceritakan proses lika-liku memperoleh beasiswa ke luar negeri. Berkali-kali ditolak sebagai penerima beasiswa. Hingga dia berpikir dirinya belum pantas menerima beasiswa. ’’Sempat merasa bahwa saya memang tidak layak studi ke luar negeri. Akhirnya berbagai dukungan orang tua, bapak ibu guru, dan teman-teman, saya mencoba mendaftar beasiswa ke luar negeri,’’ ucap Sonia.

Posisi duduknya rapi dengan kaki menyamping, Sonia mengatakan juga mendapat informasi dari salah satu teman sudah studi ke luar negeri. ’’Akhirnya saya memberanikan diri lagi mendaftar. Berbagai tes saya lalui. Mulai wawancara, pembuatan esai,’’ ucap perempuan asal Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu itu.

Wajahnya semringah ketika menceritakan mendapatkan e-mail dari Tiongkok. E-mail seperti masa depan gemilang. Namun, dia terkejut. Tiba-tiba dia kembali mendapat kabar, jika diterima di salah satu universitas di Malaysia. Sama-sama melalui program beasiswa.

Baca Juga :  Tujuh RTLH Milik Warga Tanjungharjo Kini Layak Dihuni

Dengan bersemangat, Sonia mengatakan lebih memutuskan untuk mengambil studi di Tiongkok dengan mengambil jurusan perminyakan. ’’Nanti kalau sudah lulus biar bisa berkecimpung dan membangun Bojonegoro,’’ ucap alumni jurusan ilmu pengetahuan alam (IPA) ini.

Pertimbangannya, ungkap Sonia, karena Bojonegoro adalah kota penghasil minyak. Tentu, menjadi jujukan pertama pilihan studinya. Dia sebetulnya anak kedua dari dua bersaudara. Namun, kakaknya meninggal dunia enam tahun lalu.

Dari dua bersaudara menjadi anak semata wayang. Tekadnya berhasil semakin besar. Sebagai anak satu-satunya dari orang tuanya, ia memegang penuh tanggung jawab. Gadis 18 tahun ini begitu memiliki tekad dalam pendidikan. Terlebih berupaya tidak membebankan biaya pendidikan pada orang tuanya.

Ia berharap, dengan mendapatkan beasiswa studi menjadi titik awal keberhasilannya membahagiakan orang tua. Apalagi kelak memiliki kesempatan membangun tanah kelahiran tercinta.

DITERIMA kuliah di dua universitas di luar negeri tentu mengejutkan. Namun, Sonia Arinta akhirnya memutuskan kuliah di Tiongkok jurusan perminyakan. Nantinya, dia ingin kembali ke tanah kelahiran untuk mengabdi.

Langkah kaki Sonia Arinta Wahyunus pasti namun malu-malu. Peraih beasiswa Yangzhou Polytechnic Institute ini suaranya ramah dan murah senyum. Jabatan tangannya erat. Memakai busana batik umum ia memasuki lobi kantor Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Wajahnya memakai riasan tipis. Tidak seperti kali pertama bertemu Sonia, panggilan akrabnya ketika di sekolahnya. Saat itu dengan suara berbisik, ia tidak malu meminta nomor handphone Jawa Pos Radar Bojonegoro. Memakai pakaian sekolah dan berkerudung putih. Tanpa riasan sama sekali.

Duduk bersebelahan, Sonia menceritakan kegiatannya setelah lulus sekolah. ’’Sekarang bantu-bantu di Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Bojonegoro. Sambil menunggu keberangkatan kuliah luar negeri. Persiapan sudah selesai, tinggal tunggu visa saja,’’ ucapnya pelan.

Baca Juga :  DPRD dan Pemkab Gaspol Tuntaskan RTRW

Alumni MAN 1 Model Bojonegoro ini aktif di beberapa aktivitas organisasi. Seperti Forum Anak Bojonegoro (Fabo), kader siaga kependudukan MAN 1 Model Bojonegoro, dan anggota OSIS.

Dia menceritakan proses lika-liku memperoleh beasiswa ke luar negeri. Berkali-kali ditolak sebagai penerima beasiswa. Hingga dia berpikir dirinya belum pantas menerima beasiswa. ’’Sempat merasa bahwa saya memang tidak layak studi ke luar negeri. Akhirnya berbagai dukungan orang tua, bapak ibu guru, dan teman-teman, saya mencoba mendaftar beasiswa ke luar negeri,’’ ucap Sonia.

Posisi duduknya rapi dengan kaki menyamping, Sonia mengatakan juga mendapat informasi dari salah satu teman sudah studi ke luar negeri. ’’Akhirnya saya memberanikan diri lagi mendaftar. Berbagai tes saya lalui. Mulai wawancara, pembuatan esai,’’ ucap perempuan asal Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu itu.

Wajahnya semringah ketika menceritakan mendapatkan e-mail dari Tiongkok. E-mail seperti masa depan gemilang. Namun, dia terkejut. Tiba-tiba dia kembali mendapat kabar, jika diterima di salah satu universitas di Malaysia. Sama-sama melalui program beasiswa.

Baca Juga :  Dapil Bertambah, Peta Politik Berubah

Dengan bersemangat, Sonia mengatakan lebih memutuskan untuk mengambil studi di Tiongkok dengan mengambil jurusan perminyakan. ’’Nanti kalau sudah lulus biar bisa berkecimpung dan membangun Bojonegoro,’’ ucap alumni jurusan ilmu pengetahuan alam (IPA) ini.

Pertimbangannya, ungkap Sonia, karena Bojonegoro adalah kota penghasil minyak. Tentu, menjadi jujukan pertama pilihan studinya. Dia sebetulnya anak kedua dari dua bersaudara. Namun, kakaknya meninggal dunia enam tahun lalu.

Dari dua bersaudara menjadi anak semata wayang. Tekadnya berhasil semakin besar. Sebagai anak satu-satunya dari orang tuanya, ia memegang penuh tanggung jawab. Gadis 18 tahun ini begitu memiliki tekad dalam pendidikan. Terlebih berupaya tidak membebankan biaya pendidikan pada orang tuanya.

Ia berharap, dengan mendapatkan beasiswa studi menjadi titik awal keberhasilannya membahagiakan orang tua. Apalagi kelak memiliki kesempatan membangun tanah kelahiran tercinta.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/