alexametrics
28.3 C
Bojonegoro
Tuesday, May 17, 2022

Angka Kematian Ibu di Lamongan Masuk Kategori Tinggi

Radar Lamongan – Dinas Kesehatan Lamongan mendata enam kasus angka kematian ibu (AKI) Lamongan selama semester pertama tahun ini. Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Lamongan Abdullah Wasian mengatakan, dua tahun lalu, hanya ditemukan tiga kasus AKI di Lamongan. Sehingga, AKI semester pertama ini masuk kategori tinggi.

“Ada kenaikan mulai tahun lalu, tapi kami tim kesehatan sedang berusaha untuk menurunkan resiko tersebut,” ujar pria yang juga menjabat Plt Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Lamongan tersebut.

Wasian menjelaskan, kasus kematian ibu yang terjadi rata-rata disebabkan perdarahan postpartum dan eklampsia. Kasus tersebut sering terjadi pada ibu hamil yang tidak melakukan konsultasi rutin dengan bidan desa maupun dokter kandungan. Karena tim yang membantu persalinan tidak bisa melihat riwayat kondisi ibu, maka saat penanganan kemungkinan terjadi masalah yang di luar kendali.

Baca Juga :  Wagub: Masyarakat Tuban Bisa Jadi Contoh

Jika rutin periksa, maka ibu akan dilakukan pengecekan tekanan darah dan kadar protein urin selama kehamilan. Dalam situasi pandemi, kata Wasian, sebaiknya ibu melakukan pemeriksaan rutin agar kehamilannya terjaga. “Penyebab kematian rata-rata sama, pendarahan dan kelebihan protein urin,” jelasnya.

Dia berharap ibu hamil rutin melakukan pemeriksaan kandungannya. Sehingga, resiko yang bisa memicu kematian ibu maupun bayi dapat diminimalisasi. Menurut Wasian, kasus kematian bayi masih ada penyebab berat badan lahir rendah.

Radar Lamongan – Dinas Kesehatan Lamongan mendata enam kasus angka kematian ibu (AKI) Lamongan selama semester pertama tahun ini. Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Lamongan Abdullah Wasian mengatakan, dua tahun lalu, hanya ditemukan tiga kasus AKI di Lamongan. Sehingga, AKI semester pertama ini masuk kategori tinggi.

“Ada kenaikan mulai tahun lalu, tapi kami tim kesehatan sedang berusaha untuk menurunkan resiko tersebut,” ujar pria yang juga menjabat Plt Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Lamongan tersebut.

Wasian menjelaskan, kasus kematian ibu yang terjadi rata-rata disebabkan perdarahan postpartum dan eklampsia. Kasus tersebut sering terjadi pada ibu hamil yang tidak melakukan konsultasi rutin dengan bidan desa maupun dokter kandungan. Karena tim yang membantu persalinan tidak bisa melihat riwayat kondisi ibu, maka saat penanganan kemungkinan terjadi masalah yang di luar kendali.

Baca Juga :  Proyeksi Uji Coba Lawan Bhayangkara FC

Jika rutin periksa, maka ibu akan dilakukan pengecekan tekanan darah dan kadar protein urin selama kehamilan. Dalam situasi pandemi, kata Wasian, sebaiknya ibu melakukan pemeriksaan rutin agar kehamilannya terjaga. “Penyebab kematian rata-rata sama, pendarahan dan kelebihan protein urin,” jelasnya.

Dia berharap ibu hamil rutin melakukan pemeriksaan kandungannya. Sehingga, resiko yang bisa memicu kematian ibu maupun bayi dapat diminimalisasi. Menurut Wasian, kasus kematian bayi masih ada penyebab berat badan lahir rendah.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/