alexametrics
24 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Ibu Sempat Melarang, Nekat Berlatih hingga Meraih Emas

ERNI Yulianti Sofia Afjad termasuk gadis yang menyukai tantangan. Dia memilih menjadi atlet tinju, meski olahraga ini identic dengan laki-laki. Sempat dilarang ibunya. Dia tetap nekat berlatih hingga orang tuanya merestui.

wajah bahagia tampak di raut Erni Yulianti Sofia Afjad, 17, saat ditemui di kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Blora. Di usia yang masih belia, ternyata mampu menorehkan medali emas di Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Tinju Amatir Jawa Tengah di Solo.

Torehan emas itu ternyata bukan kali pertama. Erni, sapaannya, selama berkarir menjadi atlet tinju kerap meraih juara. Dia mulai berlatih tinju kelas dua SMP hingga kini duduk di bangku SMA 11 Semarang. Dan, sejak itu sudah tiga kali mengikuti kejuaraan tinju.

Mulai 2017 lalu kejuaraan perdananya di kejuaraan provinsi (kejurprov) dengan mendapatkan perak. Lalu, pada 2018 mengikuti kejuaraan nasional (kejurnas) dan meraih emas. ’’Alhamdulillah kemarin dapat emas lagi,” ujarnya dengan senyum.

Baca Juga :  Berbondong-bondong Cairkan THR

Dari semua perolehannya itu, menurut Erni, tidaklah instan. Awal dia memilih ikut tinju sempat ditentang orang tuanya. ’’Ibu awalnya sempat melarang, kenapa cewek ikut tinju?’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Ibunya mengaku khawatir jika anak gadisnya sampai terluka. Selain itu, selama ini tinju identik dengan laki-laki. Selama ini juga tidak ada petinju wanita di Blora. ’’Tapi lama kelamaan akhirnya ibu sepakat,’’ ungkap Erni dengan nada optimistis.

Erni sebenarnya sudah menyadari selama ini peminat tinju sangat sedikit. Bahkan, di Blora sendiri hanya ada dua petinju wanita. Dan, atlet tersebut sudah tidak aktif lagi.

Hingga akhirnya, Erni memilih olahraga yang identik kelincahan tangan ini karena diajak pelatih tinjunya. Sebelumnya, dirinya memilih atletik.

Baca Juga :  Data Pedagang Migor Diserahkan Bulog Blora

Kali pertama mengikuti tinju, dirinya tidak menampik sempat merasakan takut. Ketika mulai latih tanding, Erni sempat takut jika terkena pukulan. Nah, kekhawatiran itu ternyata benar terjadi. Saat latihan, dia terkena bogeman. ’’Ya pertama-tama sakit,’’ ungkapnya dengan tersenyum.

Nah, setelah berkali-kali terkena pukulan, Erni mengaku saat ini sudah menikmatinya. Berkali-kali terkena pukulan, kini tidak merasakan sakit. Justru merasa tertantang. Sekarang, dia menyadari jika terkena pukulan, berarti itu merupakan kesalahannya. Berarti salah mengatur gerakan.

Semakin ke sini, dia justru menikmati pertandingan tinju. ’’Apalagi saat memukul lawan itu sangat menyenagkan,’’ imbuhnya.

Kegigihannya berlatih, mengantarkan Erni mendapatkan piagam. Erni pun mendapatkan beasiswa di SMA 11 Semarang yang saat ini menjadi Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Semarang. Saat ini dirinya terus berkonsentrasi menggeluti atlet tinju.

’’Paling senang ketika bisa mengangkat derajat orang tua,’’ ujar dia.

ERNI Yulianti Sofia Afjad termasuk gadis yang menyukai tantangan. Dia memilih menjadi atlet tinju, meski olahraga ini identic dengan laki-laki. Sempat dilarang ibunya. Dia tetap nekat berlatih hingga orang tuanya merestui.

wajah bahagia tampak di raut Erni Yulianti Sofia Afjad, 17, saat ditemui di kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Blora. Di usia yang masih belia, ternyata mampu menorehkan medali emas di Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Tinju Amatir Jawa Tengah di Solo.

Torehan emas itu ternyata bukan kali pertama. Erni, sapaannya, selama berkarir menjadi atlet tinju kerap meraih juara. Dia mulai berlatih tinju kelas dua SMP hingga kini duduk di bangku SMA 11 Semarang. Dan, sejak itu sudah tiga kali mengikuti kejuaraan tinju.

Mulai 2017 lalu kejuaraan perdananya di kejuaraan provinsi (kejurprov) dengan mendapatkan perak. Lalu, pada 2018 mengikuti kejuaraan nasional (kejurnas) dan meraih emas. ’’Alhamdulillah kemarin dapat emas lagi,” ujarnya dengan senyum.

Baca Juga :  Data Pedagang Migor Diserahkan Bulog Blora

Dari semua perolehannya itu, menurut Erni, tidaklah instan. Awal dia memilih ikut tinju sempat ditentang orang tuanya. ’’Ibu awalnya sempat melarang, kenapa cewek ikut tinju?’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Ibunya mengaku khawatir jika anak gadisnya sampai terluka. Selain itu, selama ini tinju identik dengan laki-laki. Selama ini juga tidak ada petinju wanita di Blora. ’’Tapi lama kelamaan akhirnya ibu sepakat,’’ ungkap Erni dengan nada optimistis.

Erni sebenarnya sudah menyadari selama ini peminat tinju sangat sedikit. Bahkan, di Blora sendiri hanya ada dua petinju wanita. Dan, atlet tersebut sudah tidak aktif lagi.

Hingga akhirnya, Erni memilih olahraga yang identik kelincahan tangan ini karena diajak pelatih tinjunya. Sebelumnya, dirinya memilih atletik.

Baca Juga :  Usai Kebakaran, Pedagang Dilarang Bangun Kios

Kali pertama mengikuti tinju, dirinya tidak menampik sempat merasakan takut. Ketika mulai latih tanding, Erni sempat takut jika terkena pukulan. Nah, kekhawatiran itu ternyata benar terjadi. Saat latihan, dia terkena bogeman. ’’Ya pertama-tama sakit,’’ ungkapnya dengan tersenyum.

Nah, setelah berkali-kali terkena pukulan, Erni mengaku saat ini sudah menikmatinya. Berkali-kali terkena pukulan, kini tidak merasakan sakit. Justru merasa tertantang. Sekarang, dia menyadari jika terkena pukulan, berarti itu merupakan kesalahannya. Berarti salah mengatur gerakan.

Semakin ke sini, dia justru menikmati pertandingan tinju. ’’Apalagi saat memukul lawan itu sangat menyenagkan,’’ imbuhnya.

Kegigihannya berlatih, mengantarkan Erni mendapatkan piagam. Erni pun mendapatkan beasiswa di SMA 11 Semarang yang saat ini menjadi Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Semarang. Saat ini dirinya terus berkonsentrasi menggeluti atlet tinju.

’’Paling senang ketika bisa mengangkat derajat orang tua,’’ ujar dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/