alexametrics
23.3 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Piagam Palsu Cederai Atlet Berprestasi

TUBAN – Meski tanpa sertifikat atau piagam prestasi, sebenarnya GPL berpeluang besar masuk SMPN 1 Tuban hanya dengan mengandalkan nilai ujian sekolah (NUS). Berdasarkan data di website online PPDB, NUS yang didapat siswi salah satu SDN di Kelurahan Sendangharjo, Kecamatan Tuban tersebut 276 dengan nilai rata-rata nilai 92. Dengan NUS yang cukup tinggi tersebut, dia masih bisa menduduki peringkat 13-15 jika mengacu data terakhir pendaftaran rabu (28/6) sore.

Tentu, dengan menduduki peringat belasan tersebut, GPL masih dalam angka aman dari 192 pagu yang tersedia di SMPN 1 Tuban. Karena NUS-nya cukup tinggi, begitu dimasukkan data prestasi yang belakangan diketahui palsu tersebut, GPL langsung terkatrol di daftar peringkat papan atas. Tentu, hal itu mencederai para atlet berprestasi yang benar-benar mempunyai piagam kompetisi, namun dinyatakan gugur karena poin yang kurang.

Baca Juga :  Kuota PPDB Offline Hanya 5 Persen

Wakil Ketua Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (Perkemi) Tuban Hari Winarko menyayangkan kecurangan tersebut dan menjadikan anak didiknya tergeser dari SMPN 1 Tuban. Setelah mendapat informasi terkait dugaan piagam palsu tersebut, dia langsung mendorong para orang tua siswa yang dirugikan untuk menindaklanjuti ke ranah hukum. ‘’Ini mencederai atlet yang benar-benar berprestasi. Harus diusut tuntas agar terbongkar pelaku lainnya,’’ tuturnya geram. 

Pria yang juga kepala Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding ini juga mengaku kecewa karena beberapa kali atlet binaannya yang melenggang hingga nasional gagal masuk sekolah favorit karena sertifikatnya tidak diakui. Hingga akhirnya setelah hal tersebut diberitakan Jawa Pos Radar Tuban edisi 1 Juni, piagam kejuaraan kempo diakui dan bisa digunakan sebagai tambahan poin masuk sekolah. ‘’Ini sebagai bukti kalau sertifikat dari O2SN dari pemkab bisa tidak valid karena masih ada celah untuk dipalsukan,’’ terang dia.

Baca Juga :  SMPN 1 Tuban Daftarkan Seluruh Siswa

Hari menegaskan, jika PPDB diputuskan hanya mengakui sertifikat piagam berjenjang dari instansi pemerintahan saja, seharusnya juga ada filter agar panitia tidak mudah kecolongan. Sebab, kasus piagam palsu tersebut benar-benar merugikan atlet yang berprestasi non-akademik. Dia berharap kesalahan tersebut tidak dibiarkan dan berlarut-larut dan membuat down mental atlet. ‘’Beruntung ini ada satu yang ketahuan. Tidak tertutup kemungkinan ada kecurangan lain yang belum ketahuan, ini yang tidak kita harapkan,’’ ungkapnya.

TUBAN – Meski tanpa sertifikat atau piagam prestasi, sebenarnya GPL berpeluang besar masuk SMPN 1 Tuban hanya dengan mengandalkan nilai ujian sekolah (NUS). Berdasarkan data di website online PPDB, NUS yang didapat siswi salah satu SDN di Kelurahan Sendangharjo, Kecamatan Tuban tersebut 276 dengan nilai rata-rata nilai 92. Dengan NUS yang cukup tinggi tersebut, dia masih bisa menduduki peringkat 13-15 jika mengacu data terakhir pendaftaran rabu (28/6) sore.

Tentu, dengan menduduki peringat belasan tersebut, GPL masih dalam angka aman dari 192 pagu yang tersedia di SMPN 1 Tuban. Karena NUS-nya cukup tinggi, begitu dimasukkan data prestasi yang belakangan diketahui palsu tersebut, GPL langsung terkatrol di daftar peringkat papan atas. Tentu, hal itu mencederai para atlet berprestasi yang benar-benar mempunyai piagam kompetisi, namun dinyatakan gugur karena poin yang kurang.

Baca Juga :  Rem Blong, Truk Tabrak TrukĀ 

Wakil Ketua Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (Perkemi) Tuban Hari Winarko menyayangkan kecurangan tersebut dan menjadikan anak didiknya tergeser dari SMPN 1 Tuban. Setelah mendapat informasi terkait dugaan piagam palsu tersebut, dia langsung mendorong para orang tua siswa yang dirugikan untuk menindaklanjuti ke ranah hukum. ‘’Ini mencederai atlet yang benar-benar berprestasi. Harus diusut tuntas agar terbongkar pelaku lainnya,’’ tuturnya geram. 

Pria yang juga kepala Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding ini juga mengaku kecewa karena beberapa kali atlet binaannya yang melenggang hingga nasional gagal masuk sekolah favorit karena sertifikatnya tidak diakui. Hingga akhirnya setelah hal tersebut diberitakan Jawa Pos Radar Tuban edisi 1 Juni, piagam kejuaraan kempo diakui dan bisa digunakan sebagai tambahan poin masuk sekolah. ‘’Ini sebagai bukti kalau sertifikat dari O2SN dari pemkab bisa tidak valid karena masih ada celah untuk dipalsukan,’’ terang dia.

Baca Juga :  SMPN 1 Tuban Borong Prestasi Hardiknas 2021

Hari menegaskan, jika PPDB diputuskan hanya mengakui sertifikat piagam berjenjang dari instansi pemerintahan saja, seharusnya juga ada filter agar panitia tidak mudah kecolongan. Sebab, kasus piagam palsu tersebut benar-benar merugikan atlet yang berprestasi non-akademik. Dia berharap kesalahan tersebut tidak dibiarkan dan berlarut-larut dan membuat down mental atlet. ‘’Beruntung ini ada satu yang ketahuan. Tidak tertutup kemungkinan ada kecurangan lain yang belum ketahuan, ini yang tidak kita harapkan,’’ ungkapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/