alexametrics
29.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Demi SMPN 1 Tuban, Palsukan Piagam

TUBAN – Dunia pendidikan Tuban kembali tercoreng dengan ulah oknum orang tua siswa yang diduga memalsukan piagam olimpiade olahraga siswa nasional (O2SN) kabupaten untuk penunjang poin mendaftar di SMPN 1 Tuban.

Tak tanggung-tanggung, orang tua siswa berinisial GPL tersebut diindikasi memalsukan dua piagam sekaligus. Yakni, piagam juara dua kejuaraan lompat jauh putri dan juara tiga lari 200 meter putri. Dalam dua piagam tersebut disebutkan event tersebut berakhir Mei 2017.

Strategi GPL untuk menyusupkan dua piagam tersebut nyaris mulus. Anak GPL yang tercatat sebagai siswa salah satu sekolah dasar negeri (SDN) di Kelurahan Sendangharjo, Kecamatan Tuban tersebut sempat menduduki puncak peringkat. Kasus tersebut terungkap setelah salah satu orang tua pendaftar lainnya curiga dengan nilai tinggi prestasi GPL yang mencapai 600 poin. Padahal, setahu dia, GPL tidak pernah ikut kompetisi nonakademis. Nilai tersebut bisa diliat di website tuban.siap-ppdb.com.

Di sinilah kasus tersebut mencuat dan sempat memicu keributan di depan loket SMPN 1 Tuban . Sejumlah orang tua yang juga mendaftarkan prestasi anaknya protes karena buah hatinya tergeser dan gagal diterima di sekolah di Jalan RM Suryo tersebut. ‘’Kok bisa piagam palsu disahkan dan bisa masuk? Sementara anak saya yang asli berkompetisi dan juara malah tergeser,’’ protes Mustofa, orang tua siswa asal Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding tersebut.

Baca Juga :  Minta Maaf, Orang Tua GPL Langsung Kabur

Tak terima dengan keputusan tersebut, Mustofa ditemani sejumlah orang tua pendaftar lainnya menemui Kepala SMPN 1 Tuban Mukmanan. Kepada mereka, Mukmanan mengakui sudah mendapat laporan terkait dugaan piagam palsu tersebut. Dan, sekolah langsung mengambil langkah dengan memberikan surat panggilan kepada orang tua siswa pendaftar. ‘’Sudah kami panggil lewat kepala SDN untuk memberi klarifikasi. Tapi, hingga saat ini belum ada kabar,’’ terang dia kepada sejumlah orang tua pendaftar yang disertai wartawan koran ini.

Mantan kepala SMPN 1 Singgahan ini juga mengaku akan mengambil langkah tegas. Berdasarkan instruksi Dinas Pendidikan (Disdik) Tuban, kata Mukmanan, orang tua murid diminta membuat pengakuan sekaligus permintaan maaf secara tertulis kepada pihak yang dirugikan. Bukan hanya itu.

Dia juga diminta untuk mencabut berkas agar tidak mendaftar di SMPN 1 Tuban. ‘’Kami sudah konfirmasi kepada kepala SDN tersebut (asal siswa). Hasilnya, GPL memang tidak pernah ikut lomba seperti yang tertulis pada piagam,’’ jelasnya.

Dalam kasus pemalsuan piagam tersebut, Mukmanan menyebut SMPN 1 Tuban juga sebagai korban yang dirugikan. Sebab, setelah muncul kabar tak sedap tersebut, beberapa orang tua beranggapan masuk di sekolah favorit cukup dengan piagam palsu.

Baca Juga :  Khusus SDN Kebonsari 1, 10 Persen Bebas Usia dan Zona

Mukmanan juga sangat menyesalkan egoisme orang tua sang anak. ‘’Kalau sudah begini, kasihan anaknya,’’ ucap dia yang berjanji mengusut tuntas.

Mantan kepala SMPN 2 Bangilan ini menegaskan masuk SMPN 1 Tuban harus sesuai prosedur yang berlaku. Dia berkomitmen segala pelanggaran penerimaan siswa didik baru (PPDB) harus ditindak dan diberikan sanksi yang berlaku. Jika sudah masuk tindak kriminalitas, dia menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwajib untuk diproses sebagaimana mestinya. ‘’Kami tidak peduli siswa itu anak siapa dan orang tuanya bekerja apa, selama ada pelanggaran ya harus ditindak sesuai prosedur,’’ tegas dia.

Mukmanan memastikan panitia PPDB di SMPN 1 Tuban sudah berusaha meminimalisasi kejadian serupa agar tidak terulang. Yakni, bagi siswa yang mengikutkan prestasinya, wajib memenuhi syarat membawa piagam asli dan surat keterangan prestasi dari kepala sekolah.

Syarat wajib yang baru disusulkan rabu (28/6) itu juga menjadi pergunjingan para orang tua. Sebab, banyak orang tua kesulitan mendapat surat keterangan kepala sekolah karena hampir seluruh SDN libur pasca ujian akhir sekolah (UAS).

TUBAN – Dunia pendidikan Tuban kembali tercoreng dengan ulah oknum orang tua siswa yang diduga memalsukan piagam olimpiade olahraga siswa nasional (O2SN) kabupaten untuk penunjang poin mendaftar di SMPN 1 Tuban.

Tak tanggung-tanggung, orang tua siswa berinisial GPL tersebut diindikasi memalsukan dua piagam sekaligus. Yakni, piagam juara dua kejuaraan lompat jauh putri dan juara tiga lari 200 meter putri. Dalam dua piagam tersebut disebutkan event tersebut berakhir Mei 2017.

Strategi GPL untuk menyusupkan dua piagam tersebut nyaris mulus. Anak GPL yang tercatat sebagai siswa salah satu sekolah dasar negeri (SDN) di Kelurahan Sendangharjo, Kecamatan Tuban tersebut sempat menduduki puncak peringkat. Kasus tersebut terungkap setelah salah satu orang tua pendaftar lainnya curiga dengan nilai tinggi prestasi GPL yang mencapai 600 poin. Padahal, setahu dia, GPL tidak pernah ikut kompetisi nonakademis. Nilai tersebut bisa diliat di website tuban.siap-ppdb.com.

Di sinilah kasus tersebut mencuat dan sempat memicu keributan di depan loket SMPN 1 Tuban . Sejumlah orang tua yang juga mendaftarkan prestasi anaknya protes karena buah hatinya tergeser dan gagal diterima di sekolah di Jalan RM Suryo tersebut. ‘’Kok bisa piagam palsu disahkan dan bisa masuk? Sementara anak saya yang asli berkompetisi dan juara malah tergeser,’’ protes Mustofa, orang tua siswa asal Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding tersebut.

Baca Juga :  Mas Bupati Melepas Rindu dengan Guru

Tak terima dengan keputusan tersebut, Mustofa ditemani sejumlah orang tua pendaftar lainnya menemui Kepala SMPN 1 Tuban Mukmanan. Kepada mereka, Mukmanan mengakui sudah mendapat laporan terkait dugaan piagam palsu tersebut. Dan, sekolah langsung mengambil langkah dengan memberikan surat panggilan kepada orang tua siswa pendaftar. ‘’Sudah kami panggil lewat kepala SDN untuk memberi klarifikasi. Tapi, hingga saat ini belum ada kabar,’’ terang dia kepada sejumlah orang tua pendaftar yang disertai wartawan koran ini.

Mantan kepala SMPN 1 Singgahan ini juga mengaku akan mengambil langkah tegas. Berdasarkan instruksi Dinas Pendidikan (Disdik) Tuban, kata Mukmanan, orang tua murid diminta membuat pengakuan sekaligus permintaan maaf secara tertulis kepada pihak yang dirugikan. Bukan hanya itu.

Dia juga diminta untuk mencabut berkas agar tidak mendaftar di SMPN 1 Tuban. ‘’Kami sudah konfirmasi kepada kepala SDN tersebut (asal siswa). Hasilnya, GPL memang tidak pernah ikut lomba seperti yang tertulis pada piagam,’’ jelasnya.

Dalam kasus pemalsuan piagam tersebut, Mukmanan menyebut SMPN 1 Tuban juga sebagai korban yang dirugikan. Sebab, setelah muncul kabar tak sedap tersebut, beberapa orang tua beranggapan masuk di sekolah favorit cukup dengan piagam palsu.

Baca Juga :  Per Hari akan Layani 100 Pemohon Paspor

Mukmanan juga sangat menyesalkan egoisme orang tua sang anak. ‘’Kalau sudah begini, kasihan anaknya,’’ ucap dia yang berjanji mengusut tuntas.

Mantan kepala SMPN 2 Bangilan ini menegaskan masuk SMPN 1 Tuban harus sesuai prosedur yang berlaku. Dia berkomitmen segala pelanggaran penerimaan siswa didik baru (PPDB) harus ditindak dan diberikan sanksi yang berlaku. Jika sudah masuk tindak kriminalitas, dia menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwajib untuk diproses sebagaimana mestinya. ‘’Kami tidak peduli siswa itu anak siapa dan orang tuanya bekerja apa, selama ada pelanggaran ya harus ditindak sesuai prosedur,’’ tegas dia.

Mukmanan memastikan panitia PPDB di SMPN 1 Tuban sudah berusaha meminimalisasi kejadian serupa agar tidak terulang. Yakni, bagi siswa yang mengikutkan prestasinya, wajib memenuhi syarat membawa piagam asli dan surat keterangan prestasi dari kepala sekolah.

Syarat wajib yang baru disusulkan rabu (28/6) itu juga menjadi pergunjingan para orang tua. Sebab, banyak orang tua kesulitan mendapat surat keterangan kepala sekolah karena hampir seluruh SDN libur pasca ujian akhir sekolah (UAS).

Artikel Terkait

Most Read

Evaluasi Atlet di Dua Kejuaraan

Ada 17 Petahana Potensi Tumbang

Hadir Pemain Trial dari Kalimantan

Artikel Terbaru


/