alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

NJOP Industri Dipukul Rata

Harga nilai jual obyek pajak (NJOP) tanah di tiap kecamatan berbeda, melihat potensinya masing – masing. Namun,  Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) memukul rata NJOP lahan yang digunakan industri di Lamongan. ‘’Kita tetapkan sama semua, Rp 464 ribu per meter (m) sejak tahun lalu,’’ tutur Kabid Penetapan Dasar Pajak, Matali, kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (28/1).

Padahal, NJOP tanah satu desa memiliki nilai yang berbeda-beda. Menurut Matali, itu tak bisa menjadi dasar NJOP lahan yang digunakan industri. ‘’Iya memang satu kelurahan atau desa saja berbeda-beda di tiap titiknya. Tapi ada pertimbangan lain, NJOP industri disamaratakan,’’ katanya. 

Keputusan itu, lanjut dia, berdasarkan dari penggunaan lahan sebagai industri yang memiliki asas manfaat tinggi. Setelah dilakukan koordinasi bersama, diputuskan dimanapun letaknya nilainya tetap sama.

Baca Juga :  SUKSES GELARĀ  SETIA HATI TERATE CUP 2019

‘’Kita putuskan disamakan terlebih dulu agar lebih memudahkan untuk melakukan pehitungan,’’ ujar Matali saat dikonfirmasi via ponsel.  Selain itu, keputusan menyamaratakan NJOP lahan industri juga berdasar pada analisa yang dilakukan di lapangan. Dengan NJOP yang tak terlalu tinggi, maka berpotensi menarik investor baru masuk.

‘’Kita berkomunikasi dengan investor yang baru masuk. Beberapa membandingkan dengan NJOP lahan di daerah ring satu. Jadi kita ambil nilai yang pas NJOP industri di Lamongan,’’ ujarnya.   Menggeliatnya industri, kata Matali, berpengaruh pada harga pasaran tanah yang melambung tinggi.

Namun, hal itu cukup wajar. Alasannya, seluruh wilayah di Lamongan harga pasaran tanah jauh lebih tinggi dibanding NJOP. ‘’Kita pun tak bisa menyesuaikan NJOP dengan harga pasaran. Karena kalau disesuaikan bakal memberatkan di perhitungan pajaknya,’’ tuturnya. 

Baca Juga :  Serapan Pekerja Proyek JTB Perlu Akomodir Kebutuhan Warga

Harga nilai jual obyek pajak (NJOP) tanah di tiap kecamatan berbeda, melihat potensinya masing – masing. Namun,  Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) memukul rata NJOP lahan yang digunakan industri di Lamongan. ‘’Kita tetapkan sama semua, Rp 464 ribu per meter (m) sejak tahun lalu,’’ tutur Kabid Penetapan Dasar Pajak, Matali, kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (28/1).

Padahal, NJOP tanah satu desa memiliki nilai yang berbeda-beda. Menurut Matali, itu tak bisa menjadi dasar NJOP lahan yang digunakan industri. ‘’Iya memang satu kelurahan atau desa saja berbeda-beda di tiap titiknya. Tapi ada pertimbangan lain, NJOP industri disamaratakan,’’ katanya. 

Keputusan itu, lanjut dia, berdasarkan dari penggunaan lahan sebagai industri yang memiliki asas manfaat tinggi. Setelah dilakukan koordinasi bersama, diputuskan dimanapun letaknya nilainya tetap sama.

Baca Juga :  Tulis Pesugihan Pocong 50 Meter Tumbal Supeno, Disidang

‘’Kita putuskan disamakan terlebih dulu agar lebih memudahkan untuk melakukan pehitungan,’’ ujar Matali saat dikonfirmasi via ponsel.  Selain itu, keputusan menyamaratakan NJOP lahan industri juga berdasar pada analisa yang dilakukan di lapangan. Dengan NJOP yang tak terlalu tinggi, maka berpotensi menarik investor baru masuk.

‘’Kita berkomunikasi dengan investor yang baru masuk. Beberapa membandingkan dengan NJOP lahan di daerah ring satu. Jadi kita ambil nilai yang pas NJOP industri di Lamongan,’’ ujarnya.   Menggeliatnya industri, kata Matali, berpengaruh pada harga pasaran tanah yang melambung tinggi.

Namun, hal itu cukup wajar. Alasannya, seluruh wilayah di Lamongan harga pasaran tanah jauh lebih tinggi dibanding NJOP. ‘’Kita pun tak bisa menyesuaikan NJOP dengan harga pasaran. Karena kalau disesuaikan bakal memberatkan di perhitungan pajaknya,’’ tuturnya. 

Baca Juga :  Targetkan Semua Guru Lolos PPPK

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Delapan Incumbent Kalah Suara

PT DESI Bakal Dilarang Beroperasi

Matangkan Persiapan

Rudjito – Zaenuri Divonis 4 Tahun


/