alexametrics
27.1 C
Bojonegoro
Saturday, September 24, 2022

“Budaya” Judi, Dulu dan Kini

- Advertisement -

PERBINCANGAN judi bagi masyarakat di berbagai tataran sudah menjadi sesuatu yang lumrah dan tidak asing diperdebatkan. Judi darat (konvensional)  sejak dulu sejatinya sudah menjadi “hiburan/klangenan” di tengah susahnya kehidupan masyarakat akar rumput (grassroot) dan minimnya hiburan. Judi yang kemudian tidak saja dimaknai sebagai klangenan/hiburan,  tapi lebih sebagai laku gambling permainan nasib antara keberuntungan dan kerugian. Sebut saja judi tradisional semisal sabung ayam,  permainan dadu, hingga permainan kartu yang begitu digemari banyak kalangan.

Meski pada awalnya judi dilarang,  namun saat orde baru berjaya, judi menjadi hal yang dilegalkan. Judi berupa undian berhadiah resmi  yang diberi nama Lotre Buntut  dikelola oleh Yayasan Rehabilitasi Sosial, adalah judi populer yang digemari oleh petani, buruh dan pedagang kecil.

Jenis perjudian lainnya adalah Nalo (Nasional Lotre). Meski pernah menjadi masalah pro-kontra karena dilegalkannya jenis judi tersebut, pada realitanya di tengah masyarakat tetap berlangsung bahkan pemerintah menangguk keuntungan besar hingga dapat membangun infrastruktur yang dibutuhkan saat itu.

Pada tahun delapan puluhan, menjadi era kejayaan perjudian dengan hadirnya Sumbangan Sosial Berhadiah (SSB) dan Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB) yang dikelola Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial (YDBKS) dan Badan Usaha Undian Harapan dengan omzet tidak kurang satu triliun rupiah.

Baca Juga :  Tepergok Curi Helm, Nenek Menangis 

Meski legalitas judi tersebut mendapatkan opini minor di tengah masyarakat,  namun judi terus dilestarikan dengan berbagai dalih. Semisal untuk memajukan olah raga, muncul perjudian dengan akronim Porkas (Pekan Olahraga dan Ketangkasan) yang kemudian bermetamorfosa menjadi Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah (KSOB)

- Advertisement -

Meski eksistensi judi yang dilegalkan pemerintah akhirnya dilarang secara resmi oleh pemerintah melalui Menteri Sosial di depan DPR atas desakan masyarakat. Hal tersebut tak menghilangkan aneka jenis perjudian, karena  kemudian muncul judi Togel (Toto Gelap) yang masih tetap digemari masyarakat meski ilegal keberadaannya.

Di era digital judi semakin merajalela melalui game online (baca: judi terselubung) hingga menjamurnya situs judi online yang dikelola bak perusahaan karena dilengkapi marketing hingga customer service.

Kini Siber Bateskim Polri sungguh kewalahan menanggulangi berbagai jenis judi yang sejatinya dilarang sejak terbitnya Peraturan Pemerintan Nomor 9 Tahun 1981.  Betapa ruang virtual telah dijejali judi online yang didesain menarik secara visual. Fiture permainan multiple device yang beragam begitu membethot minat penjudi dibandingkan judi konvensional yang harus datang ke lokasi.

Begitu menarik meski untuk menjadi member permainan judi semacam togel,  sabung ayam, e-sport, slot,  hingga table game, pemilik akun harus melakukan transaksi deposit berupa pulsa yang tidak sedikit. Terlebih gencarnya promo, menggiurkannya bonus, hingga jackpot jumbo semakin membuat orang jadi kecanduan.

Baca Juga :  Belum Bebas Stunting

Walaupun perjudian online dengan berbagai platform mudah terdeteksi oleh tim siber, namun agen, bandar besar justru makin merajalela begitu juga pecandu semakin masif  dengan triliunan uang taruhan. Bahkan seiring merebaknya kasus Joshua Hutabarat yang melibatkan Ferdy Sambo (mantan Kadiv Provam) disinyalir oknum-oknum kepolisian terlibat dalam bisnis perjudian virtual.

Kenapa dulu hingga kini perjudian darat hingga virtual tetap “membudaya” pun tak takut berbagai sanksi yang menjeratnya, termasuk ancaman Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUIET).

Barangkali benar opini para pakar,  bahwa judi bukan semata perkara kalah-menang. Mengutip Mark Griffits seorang psikolog dan spisialis perilaku kecanduan di Nottingham Trent University. Bahwa penjudi punya banyak motivasi atas kebiasaan mereka. Bahkan ketika kalah berjudi sekalipun mereka masih menghasilkan adrenalin dan endorfin.

Dalam banyak perspektif,  judi adalah laku menyimpang yang dilarang pranata agama. Bukan “budaya” yang terus dilestarikan jaman dulu hingga era sekarang. Saatnya merenungkan kembali potongan tembang budayawan dan sastrawan Raden Ngabehi Ronggowarsito: “Sabegja begjane wong kang lali,  luwih begja wong kang eling klawan waspada”. (*)

PERBINCANGAN judi bagi masyarakat di berbagai tataran sudah menjadi sesuatu yang lumrah dan tidak asing diperdebatkan. Judi darat (konvensional)  sejak dulu sejatinya sudah menjadi “hiburan/klangenan” di tengah susahnya kehidupan masyarakat akar rumput (grassroot) dan minimnya hiburan. Judi yang kemudian tidak saja dimaknai sebagai klangenan/hiburan,  tapi lebih sebagai laku gambling permainan nasib antara keberuntungan dan kerugian. Sebut saja judi tradisional semisal sabung ayam,  permainan dadu, hingga permainan kartu yang begitu digemari banyak kalangan.

Meski pada awalnya judi dilarang,  namun saat orde baru berjaya, judi menjadi hal yang dilegalkan. Judi berupa undian berhadiah resmi  yang diberi nama Lotre Buntut  dikelola oleh Yayasan Rehabilitasi Sosial, adalah judi populer yang digemari oleh petani, buruh dan pedagang kecil.

Jenis perjudian lainnya adalah Nalo (Nasional Lotre). Meski pernah menjadi masalah pro-kontra karena dilegalkannya jenis judi tersebut, pada realitanya di tengah masyarakat tetap berlangsung bahkan pemerintah menangguk keuntungan besar hingga dapat membangun infrastruktur yang dibutuhkan saat itu.

Pada tahun delapan puluhan, menjadi era kejayaan perjudian dengan hadirnya Sumbangan Sosial Berhadiah (SSB) dan Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB) yang dikelola Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial (YDBKS) dan Badan Usaha Undian Harapan dengan omzet tidak kurang satu triliun rupiah.

Baca Juga :  Jeritan Orang Tua

Meski legalitas judi tersebut mendapatkan opini minor di tengah masyarakat,  namun judi terus dilestarikan dengan berbagai dalih. Semisal untuk memajukan olah raga, muncul perjudian dengan akronim Porkas (Pekan Olahraga dan Ketangkasan) yang kemudian bermetamorfosa menjadi Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah (KSOB)

- Advertisement -

Meski eksistensi judi yang dilegalkan pemerintah akhirnya dilarang secara resmi oleh pemerintah melalui Menteri Sosial di depan DPR atas desakan masyarakat. Hal tersebut tak menghilangkan aneka jenis perjudian, karena  kemudian muncul judi Togel (Toto Gelap) yang masih tetap digemari masyarakat meski ilegal keberadaannya.

Di era digital judi semakin merajalela melalui game online (baca: judi terselubung) hingga menjamurnya situs judi online yang dikelola bak perusahaan karena dilengkapi marketing hingga customer service.

Kini Siber Bateskim Polri sungguh kewalahan menanggulangi berbagai jenis judi yang sejatinya dilarang sejak terbitnya Peraturan Pemerintan Nomor 9 Tahun 1981.  Betapa ruang virtual telah dijejali judi online yang didesain menarik secara visual. Fiture permainan multiple device yang beragam begitu membethot minat penjudi dibandingkan judi konvensional yang harus datang ke lokasi.

Begitu menarik meski untuk menjadi member permainan judi semacam togel,  sabung ayam, e-sport, slot,  hingga table game, pemilik akun harus melakukan transaksi deposit berupa pulsa yang tidak sedikit. Terlebih gencarnya promo, menggiurkannya bonus, hingga jackpot jumbo semakin membuat orang jadi kecanduan.

Baca Juga :  Putri Kencana Wungu Pimpin Parade Senja SMKN Palang

Walaupun perjudian online dengan berbagai platform mudah terdeteksi oleh tim siber, namun agen, bandar besar justru makin merajalela begitu juga pecandu semakin masif  dengan triliunan uang taruhan. Bahkan seiring merebaknya kasus Joshua Hutabarat yang melibatkan Ferdy Sambo (mantan Kadiv Provam) disinyalir oknum-oknum kepolisian terlibat dalam bisnis perjudian virtual.

Kenapa dulu hingga kini perjudian darat hingga virtual tetap “membudaya” pun tak takut berbagai sanksi yang menjeratnya, termasuk ancaman Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUIET).

Barangkali benar opini para pakar,  bahwa judi bukan semata perkara kalah-menang. Mengutip Mark Griffits seorang psikolog dan spisialis perilaku kecanduan di Nottingham Trent University. Bahwa penjudi punya banyak motivasi atas kebiasaan mereka. Bahkan ketika kalah berjudi sekalipun mereka masih menghasilkan adrenalin dan endorfin.

Dalam banyak perspektif,  judi adalah laku menyimpang yang dilarang pranata agama. Bukan “budaya” yang terus dilestarikan jaman dulu hingga era sekarang. Saatnya merenungkan kembali potongan tembang budayawan dan sastrawan Raden Ngabehi Ronggowarsito: “Sabegja begjane wong kang lali,  luwih begja wong kang eling klawan waspada”. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

MenPAN-RB Ajak Survei Kepuasan Publik

Proyek RPH Blora, Dinilai Lambat

Dinas PMD Masih Konsultasi dengan Pakar

Dua Kades di Blora Terancam Diberhentikan


/