alexametrics
24.8 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

2.657 Sarjana Menganggur

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Sebanyak 2.657 sarjana di Kota Ledre menganggur. Angka cukup besar menandakan minimnya lapangan pekerjaan. Lulusan sarjana kini perlu didongkrak untuk membuka lapangan pekerjaan atau menjadi entrepreneur.

Sebanyak 2.657 sarjana itu berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan (Dinperinaker) Bojonegoro. Data itu hingga April 2019. 

Firdausi Nuzula, salah satu mahasiswa yang sudah memiliki bisnis kecil-kecilan mengatakan, seorang sarjana memang seharusnya bisa membuka lapangan pekerjaan. Walaupun belum bisa diperuntukkan bagi orang lain, setidaknya untuk diri sendiri.

Dia menjelaskan, terkadang mahasiswa masih terbuai dengan zona nyaman. Dalam artian, masih bekerja dengan orang lain. Atau masih terobsesi ingin menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Namun, menurut dia, cara mendongkrak lulusan sarjana untuk bisa menciptakan lapangan kerja harus ditanamkan pada diri masing-masing. Bisa bermanfaat bagi orang lain dan harus membuka mata karena masih banyak sekali orang-orang yang membutuhkan pekerjaan. Bukan hanya untuk mencari profit semata.

Baca Juga :  Tiga Jalan Protokol Ditutup, Manuto Dirumah!

’’Dari situlah nanti akan muncul ide-ide atau gagasan yang membuat kita berani membuka lapangan kerja,’’ jelasnya.

‘’Seperti yang kita tahu, membuka lapangan kerja itu tidak mudah. Risikonya sangat besar. Belum lagi kalau kita belum berpengalaman. Bisa-bisa malah didemo sama para karyawan,’’ lanjut dia.

Firda bersyukur saat ini mulai mengambil langkah pemberdayaan masyarakat. ’’Karena saya bergelut di rajut. Saya mencoba menularkan kebiasaan merajut kepada tetangga. Dan alhamdulillah respons sangat bagus. Apalagi rajut bisa dikerjakan di mana saja dan kapan saja tanpa mengganggu kewajiban utama,’’ terangnya.

Namun, dia menekankan harus pandai memilih pekerjaan apa yang bisa dilakukan membantu orang lain tanpa membuat mereka lalai kewajiban utamanya. ‘’Sekarang banyak juga ibu-ibu bekerja di pabrik. Dari pekerjaan itu bisa mendapatkan uang untuk beli susu. Tapi kewajiban mereka memperhatikan anak-anak mereka menjadi berkurang,’’ katanya.

Baca Juga :  Mantan Kades Pragelan Ditahan

Sementara itu, Muhammad Soberi, dosen bisnis Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Cendekia mengatakan, lulusan sarjana perlu meningkatkan kompetensi diri. Seperti menambah pengalaman magang ke pengusaha-pengusaha yang diminati mahasiswa.

Selain itu, dari segi tenaga pendidik perlu mendampingi mahasiswa dalam lomba kewirausahaan. Seperti mengikuti business plan competition (BPC) sebagai langkah awal mahasiswa memiliki bekal bidang yang ingin digeluti.

Apalagi mengikuti perlombaan bisnis sangat berguna sebagai modal mahasiswa saat terjun untuk membuka lapangan kerja.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Sebanyak 2.657 sarjana di Kota Ledre menganggur. Angka cukup besar menandakan minimnya lapangan pekerjaan. Lulusan sarjana kini perlu didongkrak untuk membuka lapangan pekerjaan atau menjadi entrepreneur.

Sebanyak 2.657 sarjana itu berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan (Dinperinaker) Bojonegoro. Data itu hingga April 2019. 

Firdausi Nuzula, salah satu mahasiswa yang sudah memiliki bisnis kecil-kecilan mengatakan, seorang sarjana memang seharusnya bisa membuka lapangan pekerjaan. Walaupun belum bisa diperuntukkan bagi orang lain, setidaknya untuk diri sendiri.

Dia menjelaskan, terkadang mahasiswa masih terbuai dengan zona nyaman. Dalam artian, masih bekerja dengan orang lain. Atau masih terobsesi ingin menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Namun, menurut dia, cara mendongkrak lulusan sarjana untuk bisa menciptakan lapangan kerja harus ditanamkan pada diri masing-masing. Bisa bermanfaat bagi orang lain dan harus membuka mata karena masih banyak sekali orang-orang yang membutuhkan pekerjaan. Bukan hanya untuk mencari profit semata.

Baca Juga :  Dukungan PKS Tak Terpengaruh Pilgub

’’Dari situlah nanti akan muncul ide-ide atau gagasan yang membuat kita berani membuka lapangan kerja,’’ jelasnya.

‘’Seperti yang kita tahu, membuka lapangan kerja itu tidak mudah. Risikonya sangat besar. Belum lagi kalau kita belum berpengalaman. Bisa-bisa malah didemo sama para karyawan,’’ lanjut dia.

Firda bersyukur saat ini mulai mengambil langkah pemberdayaan masyarakat. ’’Karena saya bergelut di rajut. Saya mencoba menularkan kebiasaan merajut kepada tetangga. Dan alhamdulillah respons sangat bagus. Apalagi rajut bisa dikerjakan di mana saja dan kapan saja tanpa mengganggu kewajiban utama,’’ terangnya.

Namun, dia menekankan harus pandai memilih pekerjaan apa yang bisa dilakukan membantu orang lain tanpa membuat mereka lalai kewajiban utamanya. ‘’Sekarang banyak juga ibu-ibu bekerja di pabrik. Dari pekerjaan itu bisa mendapatkan uang untuk beli susu. Tapi kewajiban mereka memperhatikan anak-anak mereka menjadi berkurang,’’ katanya.

Baca Juga :  Bergabung dengan Jaringan Hotel Kasyara

Sementara itu, Muhammad Soberi, dosen bisnis Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Cendekia mengatakan, lulusan sarjana perlu meningkatkan kompetensi diri. Seperti menambah pengalaman magang ke pengusaha-pengusaha yang diminati mahasiswa.

Selain itu, dari segi tenaga pendidik perlu mendampingi mahasiswa dalam lomba kewirausahaan. Seperti mengikuti business plan competition (BPC) sebagai langkah awal mahasiswa memiliki bekal bidang yang ingin digeluti.

Apalagi mengikuti perlombaan bisnis sangat berguna sebagai modal mahasiswa saat terjun untuk membuka lapangan kerja.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/