alexametrics
30.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Seluruh Pasien RSNU Golput, Ini Penyebabanya

TUBAN – Puluhan pasien Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Tuban akhirnya menjadi golongan putih atau golput menyusul tak terpenuhinya syarat memilih. Ketika petugas KPPS keliling ke ruang-ruang pasien, tak satu pun pasein yang menggunakan hak suaranya.

Menurut pantauan Jawa Pos Radar Tuban, petugas KPPS Mondokan mendatangi rumah sakit di Jalan Letda Sucipto tersebut sekitar pukul 12.00. Ketika datang, petugas tak langsung membawa surat suara dan hanya menanyakan berapa pasien yang menjalani rawat inap. Setelah diketahui jumlahnya lebih dari 20 pasien, petugas lainnya kembali ke TPS untuk mengambil surat suara.

Sekitar 20 menit kemudian, petugas datang dengan surat suara, kotak suara, bilik mini, dan perlengkapan coblosan. Mereka dikawal polisi, panwas, dan linmas. Sejumlah pasien terlihat antusias mencoblos. Namun, karena tidak membawa form A-5 yang merupakan syarat memberikan hak pilih, petugas menolaknya.

Baca Juga :  Wow! Rp 3,3 Miliar Anggaran Panwaskab Belum Cair

Hendi Siswanto, salah satu petugas TPS mengatakan, form A5 dibutuhkan sebagai syarat mencoblos di TPS yang berbeda dengan alamat di KTP pemilih. Sementara form C-6 berlaku jika pasien yang rawat inap tinggal di sekitar Kelurahan Mondokan, sesuai alamat rumah sakit. Karena beberapa pasien yang membawa C-6 tidak tinggal di sekitar rumah sakit, pasien tidak bisa mencoblos. ‘’Di RSNU nihil tidak ada yang mencoblos,’’ terang dia.

Perwakilan RSNU Tuban Wiwik Muanah mengatakan, tidak adanya pasien yang mencoblos cukup beralasan. Sebab, pihak rumah sakit tidak mengetahui adanya form A-5 yang merupakan syarat mencoblos pada alamat yang berbeda. Tidak adanya sosialisasi dari KPUK menjadikan pasien dan pihak rumah sakit minim pengetahuan tentang hal tersebut. ‘’Keluarga pasien dan pihak rumah sakit juga tidak tahu kalau ada syarat tersebut,’’ tegas kepala ruang interna tersebut.

Baca Juga :  Rukadi Digendong Daftar Haji

Menanggapi pernyataan pihak rumah sakit, salah satu petugas TPS justru menyalahkan RSNU. Dia mengatakan minimnya sosialisasi bukan kesalahannya, namun karena pihak rumah sakit tidak mencari sendiri informasi tersebut. ‘’Kita hanya sebagai fasilitator pemilu saja. Seharusnya pemilih yang turut aktif mencari tahu,’’ tutur petugas tersebut. (yud/ds)

TUBAN – Puluhan pasien Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Tuban akhirnya menjadi golongan putih atau golput menyusul tak terpenuhinya syarat memilih. Ketika petugas KPPS keliling ke ruang-ruang pasien, tak satu pun pasein yang menggunakan hak suaranya.

Menurut pantauan Jawa Pos Radar Tuban, petugas KPPS Mondokan mendatangi rumah sakit di Jalan Letda Sucipto tersebut sekitar pukul 12.00. Ketika datang, petugas tak langsung membawa surat suara dan hanya menanyakan berapa pasien yang menjalani rawat inap. Setelah diketahui jumlahnya lebih dari 20 pasien, petugas lainnya kembali ke TPS untuk mengambil surat suara.

Sekitar 20 menit kemudian, petugas datang dengan surat suara, kotak suara, bilik mini, dan perlengkapan coblosan. Mereka dikawal polisi, panwas, dan linmas. Sejumlah pasien terlihat antusias mencoblos. Namun, karena tidak membawa form A-5 yang merupakan syarat memberikan hak pilih, petugas menolaknya.

Baca Juga :  Rukadi Digendong Daftar Haji

Hendi Siswanto, salah satu petugas TPS mengatakan, form A5 dibutuhkan sebagai syarat mencoblos di TPS yang berbeda dengan alamat di KTP pemilih. Sementara form C-6 berlaku jika pasien yang rawat inap tinggal di sekitar Kelurahan Mondokan, sesuai alamat rumah sakit. Karena beberapa pasien yang membawa C-6 tidak tinggal di sekitar rumah sakit, pasien tidak bisa mencoblos. ‘’Di RSNU nihil tidak ada yang mencoblos,’’ terang dia.

Perwakilan RSNU Tuban Wiwik Muanah mengatakan, tidak adanya pasien yang mencoblos cukup beralasan. Sebab, pihak rumah sakit tidak mengetahui adanya form A-5 yang merupakan syarat mencoblos pada alamat yang berbeda. Tidak adanya sosialisasi dari KPUK menjadikan pasien dan pihak rumah sakit minim pengetahuan tentang hal tersebut. ‘’Keluarga pasien dan pihak rumah sakit juga tidak tahu kalau ada syarat tersebut,’’ tegas kepala ruang interna tersebut.

Baca Juga :  Rampungkan Pembahasan Raperda Inisiatif DPRD

Menanggapi pernyataan pihak rumah sakit, salah satu petugas TPS justru menyalahkan RSNU. Dia mengatakan minimnya sosialisasi bukan kesalahannya, namun karena pihak rumah sakit tidak mencari sendiri informasi tersebut. ‘’Kita hanya sebagai fasilitator pemilu saja. Seharusnya pemilih yang turut aktif mencari tahu,’’ tutur petugas tersebut. (yud/ds)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/