alexametrics
30.6 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Agitya Kristantoko, Petani Milenial Kembangkan Pertanian Singkong

MENCARI pemuda di Bojonegoro konsentrasi di bidang pertanian cukup langka. Namun, di Desa Ngraseh, Kecamatan Dander, terdapat duta petani milenial dari Kementan. Dia adalah Agistya Kristantoko.

Tyok sapaan akrabnya ini bergerak sebagai petani milenial karena prihain dengan minimnya pemuda di Bojonegoro bersedia bercocok tanam. Padahal, sejarah telah mencaat, petani pahlawan pangan.

‘’Berawal dari keresahan pemuda rerata malu jadi petani,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Tyok menceritakan mayoritas pemuda saat ini melihat pekerjaan petani sebagai pekerjaan murahan. Dia mencontohkan, banyak alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) ketika lulus bukan mengembangkan petani, sebaliknya memilih bekerja di bank dan menjadi karyawan swasta. Padahal, saat menuntut ilmu di kampus, mereka belajar tentang berbagai teori dan pengembangan pertanian.

Baca Juga :  Hari-Hari Terakhir Bupati Lamongan, Fadeli Menjelang Purna Tugas

Apalagi bagi mahasiswa bukan dari jurusan pertanian, dipastikan memilih pekerjaan di luar agraria. Padahal, mayoritas pemuda sekarang ini, mereka menuntut ilmu itu dibiayai orang tuanya dari pertanian. ‘’Termasuk saya,’’ ungkapnya sambil tersenyum.

Alumni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu mengakui ia dibesarkan dari keluarga petani. Namun ketika kuliah justru tidak mengambiil bidang pertanian. Bahkan setelah lulus kuliah, dia sempat meniti karirnya di Universitas Ciputra Surabaya.

Karena panggilan hati dan dorongan orang tua untuk mengembangkan pertanian, dengan berat hati, ia memilih pulang kampung. Dan mengembangkan bisnis olahan singkong. ‘’Saat baru pulang, banyak tetangga meledek, sekolah tinggi kok jadi petani,’’ kenangnya.

Ungkapan dari tetangga itu justru menjadi pelecutnya. Justru ia akan membuktikan jika petani itu bukan pekerjaan murahan. Sehingga, Tyok mengembangkan bisnis keluarganya mengolah singkong dari lahan sekitar rumahnya.

Baca Juga :  Polres Selidiki Kasus Keluarga Tewas Akibat Listrik Jebakan Tikus

Tekad kuat, Tyok mengembangkan lahan di desanya itu ditanami singkong. Pemilihan itu cukup beraalasan, karena dataran tinggi dan dekat hutan. Sehingga, lebih cocok ditanami singkong dibanding tanaman lainnya. 

Hasilnya, saat ini setiap hari mampu memproduksi 100 kilogram singkong. Dengan diolah berbagai jenis produk singkong. Seperti keripik, rengginan, dan berbagai jenis olahan lainnya. Tak cukup di situ, dia sekarang juga mengembangkan edukasi untuk generasi petani.

‘’Sekarang sudah merekrut sekitar 12 karyawan,’’ ujarnya optimistis.

Pengalamannya di desa memberdayakan petani menjadi modal untuk mempromosikan petani milenial di kancah nasional. Bermodal pengalaman itu, dia akhirnya ditetapkan Kementan sebagai duta petani milenial. (*/rij)

MENCARI pemuda di Bojonegoro konsentrasi di bidang pertanian cukup langka. Namun, di Desa Ngraseh, Kecamatan Dander, terdapat duta petani milenial dari Kementan. Dia adalah Agistya Kristantoko.

Tyok sapaan akrabnya ini bergerak sebagai petani milenial karena prihain dengan minimnya pemuda di Bojonegoro bersedia bercocok tanam. Padahal, sejarah telah mencaat, petani pahlawan pangan.

‘’Berawal dari keresahan pemuda rerata malu jadi petani,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Tyok menceritakan mayoritas pemuda saat ini melihat pekerjaan petani sebagai pekerjaan murahan. Dia mencontohkan, banyak alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) ketika lulus bukan mengembangkan petani, sebaliknya memilih bekerja di bank dan menjadi karyawan swasta. Padahal, saat menuntut ilmu di kampus, mereka belajar tentang berbagai teori dan pengembangan pertanian.

Baca Juga :  Mulai Puncak Pengiriman Barang

Apalagi bagi mahasiswa bukan dari jurusan pertanian, dipastikan memilih pekerjaan di luar agraria. Padahal, mayoritas pemuda sekarang ini, mereka menuntut ilmu itu dibiayai orang tuanya dari pertanian. ‘’Termasuk saya,’’ ungkapnya sambil tersenyum.

Alumni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu mengakui ia dibesarkan dari keluarga petani. Namun ketika kuliah justru tidak mengambiil bidang pertanian. Bahkan setelah lulus kuliah, dia sempat meniti karirnya di Universitas Ciputra Surabaya.

Karena panggilan hati dan dorongan orang tua untuk mengembangkan pertanian, dengan berat hati, ia memilih pulang kampung. Dan mengembangkan bisnis olahan singkong. ‘’Saat baru pulang, banyak tetangga meledek, sekolah tinggi kok jadi petani,’’ kenangnya.

Ungkapan dari tetangga itu justru menjadi pelecutnya. Justru ia akan membuktikan jika petani itu bukan pekerjaan murahan. Sehingga, Tyok mengembangkan bisnis keluarganya mengolah singkong dari lahan sekitar rumahnya.

Baca Juga :  Hari-Hari Terakhir Bupati Lamongan, Fadeli Menjelang Purna Tugas

Tekad kuat, Tyok mengembangkan lahan di desanya itu ditanami singkong. Pemilihan itu cukup beraalasan, karena dataran tinggi dan dekat hutan. Sehingga, lebih cocok ditanami singkong dibanding tanaman lainnya. 

Hasilnya, saat ini setiap hari mampu memproduksi 100 kilogram singkong. Dengan diolah berbagai jenis produk singkong. Seperti keripik, rengginan, dan berbagai jenis olahan lainnya. Tak cukup di situ, dia sekarang juga mengembangkan edukasi untuk generasi petani.

‘’Sekarang sudah merekrut sekitar 12 karyawan,’’ ujarnya optimistis.

Pengalamannya di desa memberdayakan petani menjadi modal untuk mempromosikan petani milenial di kancah nasional. Bermodal pengalaman itu, dia akhirnya ditetapkan Kementan sebagai duta petani milenial. (*/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/