alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Spv Oppo Akui Hukuman Sales Oppo, Katanya Sudah Ada Sebelum Dia Masuk

TUBAN – Hukuman tak lazim yang dijatuhkan kepada sales smartphone merek Oppo, seperti diberitakan Jawa Pos Radar Tuban, Rabu (27/2) mendapat respons dari berbagai kalangan masyarakat. Jajaran supervisor dan trainer Oppo yang bernaung di bawah PT. World Innovate Telecomunication (WIT) pun ikut angkat bicara. Dwi Prawoto Hadi, supervisor (spv) yang dilaporkan ke polisi terkait dugaan hukuman tak manusiawi tersebut  mengakui hukuman-hukuman tersebut.

Mulai lari belasan kilometer, makan pare mentah, belimbing wuluh, jeruk nipis, cabai, bawang putih, mengunyah terasi, dan garam yang diberlakukan untuk sales yang tidak penuh target. ‘’Sebelum saya masuk ke Oppo, hukuman seperti itu sudah ada untuk memacu semangat para marketing,’’ tutur dia kepada Jawa Pos Radar Tuban. 

Pria kelahiran Lamongan itu mengatakan, seluruh promotor atau sales yang tak penuh target menerima hukuman tersebut dengan lapang dada. Tak satu pun yang merasa keberatan, kecuali Gemilang yang melapor ke polisi. Dia menganggap hukuman tersebut merupakan konsekuensi bagian pemasaran agar terus terpacu dan bersemangat dalam menjual produknya. ‘’Semua promotor menjalani hukuman dengan have fun, yang keberatan ya cuma satu orang itu saja,’’ tegas dia.

Baca Juga :  Akibat Kebakaran, ¬†Cheers Ditaksir Rugi Rp 300 Juta¬†

Meski demikian, Dwi merespons baik laporan polisi atas dugaan hukuman tak wajar itu sebagai bahan evaluasi dirinya. Meski diklaim hanya memberatkan satu sales, dia berjanji akan merevisi hukuman tersebut. 

Seperti diberitakan Jawa Pos Radar Tuban, demi mencapai target penjualan, hukuman tak manusiawi diduga diterapkan supervisor dan trainer terhadap sales smartphone merek Oppo yang bernaung di bawah PT WIT. Hukumannya mulai lari belasan kilometer, makan pare mentah, belimbing wuluh, jeruk nipis, cabai, bawang putih, mengunyah terasi, dan garam diberlakukan untuk seluruh sales atau bagian pemasaran jika tak memenuhi target. Hukuman tersebut diberlakukan nyaris setiap hari.

Persekusi yang diduga dilakukan  supervisor dan trainer Oppo terhadap puluhan sales di wilayah Tuban dan sekitarnya itu berlangsung sejak dua setengah tahun terakhir. 

Kasus ini Selasa (26/2) lalu terungkap setelah Gemilang Indra Yuliarti, salah satu korban hukuman tak manusiawi itu melapor ke Unit IV Satreskrim Polres Tuban. 

Baca Juga :  Pekan Yang Sangat Melegakan, Tuban Berpotensi Kembali ke Zona Kuning

Gemilang bergabung dengan tim pemasaran Oppo sejak Oktober 2016. Ketentuan saat itu, sales yang tidak memenuhi target penjualan mendapat hukuman squat jump, push up, dan hukuman lain yang masih dinilai wajar. 

Selain hukuman fisik, sejumlah sales diminta makan makanan tak lazim. Seperti belimbing wuluh, jeruk nipis, pare mentah, cabai, bawang putih, garam, hingga terasi. Jika supervisor tidak berada di Tuban, hukuman tersebut harus direkam format video dengan ponsel dan dilaporkan melalui grup media sosial yang berisi seluruh anggota tim. 

Hukuman tersebut nyaris diberikan setiap hari. Jika diakumulasi, kata Gemilang, rata-rata tiap minggu ada 4 hingga 5 kali hukuman tak masuk akal yang diberikan. Tidak ada yang berani memberontak, meski beberapa sales harus keracunan hingga sakit setelah mengonsumsi makanan tak lazim tersebut. 

Selain hukuman tak manusiawi, terkadang supervisor dan jajaran pimpinan area tersebut memberlakukan denda mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu. Seluruhnya dikumpulkan para supervisor dengan alasan untuk uang kas.

TUBAN – Hukuman tak lazim yang dijatuhkan kepada sales smartphone merek Oppo, seperti diberitakan Jawa Pos Radar Tuban, Rabu (27/2) mendapat respons dari berbagai kalangan masyarakat. Jajaran supervisor dan trainer Oppo yang bernaung di bawah PT. World Innovate Telecomunication (WIT) pun ikut angkat bicara. Dwi Prawoto Hadi, supervisor (spv) yang dilaporkan ke polisi terkait dugaan hukuman tak manusiawi tersebut  mengakui hukuman-hukuman tersebut.

Mulai lari belasan kilometer, makan pare mentah, belimbing wuluh, jeruk nipis, cabai, bawang putih, mengunyah terasi, dan garam yang diberlakukan untuk sales yang tidak penuh target. ‘’Sebelum saya masuk ke Oppo, hukuman seperti itu sudah ada untuk memacu semangat para marketing,’’ tutur dia kepada Jawa Pos Radar Tuban. 

Pria kelahiran Lamongan itu mengatakan, seluruh promotor atau sales yang tak penuh target menerima hukuman tersebut dengan lapang dada. Tak satu pun yang merasa keberatan, kecuali Gemilang yang melapor ke polisi. Dia menganggap hukuman tersebut merupakan konsekuensi bagian pemasaran agar terus terpacu dan bersemangat dalam menjual produknya. ‘’Semua promotor menjalani hukuman dengan have fun, yang keberatan ya cuma satu orang itu saja,’’ tegas dia.

Baca Juga :  Musim Kemarau, Sumber Air PDAM Menyusut

Meski demikian, Dwi merespons baik laporan polisi atas dugaan hukuman tak wajar itu sebagai bahan evaluasi dirinya. Meski diklaim hanya memberatkan satu sales, dia berjanji akan merevisi hukuman tersebut. 

Seperti diberitakan Jawa Pos Radar Tuban, demi mencapai target penjualan, hukuman tak manusiawi diduga diterapkan supervisor dan trainer terhadap sales smartphone merek Oppo yang bernaung di bawah PT WIT. Hukumannya mulai lari belasan kilometer, makan pare mentah, belimbing wuluh, jeruk nipis, cabai, bawang putih, mengunyah terasi, dan garam diberlakukan untuk seluruh sales atau bagian pemasaran jika tak memenuhi target. Hukuman tersebut diberlakukan nyaris setiap hari.

Persekusi yang diduga dilakukan  supervisor dan trainer Oppo terhadap puluhan sales di wilayah Tuban dan sekitarnya itu berlangsung sejak dua setengah tahun terakhir. 

Kasus ini Selasa (26/2) lalu terungkap setelah Gemilang Indra Yuliarti, salah satu korban hukuman tak manusiawi itu melapor ke Unit IV Satreskrim Polres Tuban. 

Baca Juga :  Serba Serbi Tuban, Ternyata Ini Jalan Terpanjang di Bumi Ronggolawe!

Gemilang bergabung dengan tim pemasaran Oppo sejak Oktober 2016. Ketentuan saat itu, sales yang tidak memenuhi target penjualan mendapat hukuman squat jump, push up, dan hukuman lain yang masih dinilai wajar. 

Selain hukuman fisik, sejumlah sales diminta makan makanan tak lazim. Seperti belimbing wuluh, jeruk nipis, pare mentah, cabai, bawang putih, garam, hingga terasi. Jika supervisor tidak berada di Tuban, hukuman tersebut harus direkam format video dengan ponsel dan dilaporkan melalui grup media sosial yang berisi seluruh anggota tim. 

Hukuman tersebut nyaris diberikan setiap hari. Jika diakumulasi, kata Gemilang, rata-rata tiap minggu ada 4 hingga 5 kali hukuman tak masuk akal yang diberikan. Tidak ada yang berani memberontak, meski beberapa sales harus keracunan hingga sakit setelah mengonsumsi makanan tak lazim tersebut. 

Selain hukuman tak manusiawi, terkadang supervisor dan jajaran pimpinan area tersebut memberlakukan denda mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu. Seluruhnya dikumpulkan para supervisor dengan alasan untuk uang kas.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/