alexametrics
24 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

”Saya Melawan Hukuman Tak Manusiawi”

GEMILANG Indra Yuliarti, salah satu sales korban hukuman tak manusiawi  yang diberlakukan supervisor dan trainer tempatnya bekerja tahu betul konsekuensi atas pelaporan polisi yang diusung ke mapolres setempat.

Gemilang melaporkan supervisor dan trainer PT. World Innovate Telecomunication (WIT) ke Unit IV  Satreskrim Polres Tuban dengan harapan mencari keadilan dan memutus rantai hukuman di dunia kerja.

Dara berambut panjang ini mengaku beberapa kali mangkir dari hukuman tak manusiawi yang dijatuhkan Dwi Prawoto Hadi, supervisornya.

Ketika teman-teman sekerjanya menjalani hukuman karena tak memenuhi target, Gemilang memilih cuek dan tidak menjalani hukuman apa pun yang diinstruksikan melalui grup media sosial timnya. ‘’Saya melawan hukuman tak manusiawi itu,’’ tegas dia yang mengaku mempunyai pertimbangan matang atas perlawanannya.

Baca Juga :  Tak Ngoyo, Sudah Terima Rp 1 Triliun

Gemilang mengatakan, perlawanannya terhadap peraturan yang melanggar hak asasi manusia (HAM) itu dimulai sejak November 2018. Saat itu, dia yang mulai tak betah dengan perlakuan atasannya mengeluh ke Hari Cahyono, pamannya yang juga pengacara di Mojokerto.

Saat itu, pamannya mendorong untuk lapor ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Timur. ‘’Orang disnaker bilang ke saya, kalau dihukum tidak wajar diabaikan saja,’’ kata dia menjelaskan latar belakang  keberaniannya untuk melawan.

Sejak konsultasi dengan petugas Disnakertrans Jawa Timur, Gemilang nyaris tak pernah menaati hukuman-hukuman yang diberikan. Gemilang pun mengaku sering mendapat gunjingan dari teman kerjanya karena hanya dirinya yang berani melawan.

Baca Juga :  Sektor Wisata Minim, PAD Sisa Rp 72 Miliar

Sebagian sales lain yang tak berani melawan tetap menjalani hukuman jika tak tembus target. ‘’Saya berharap perlawanan saya ini bisa memutus rantai hukuman agar tidak dianggap sebagai budaya yang wajar,’’ kata dia.

Dikonfirmasi terpisah, Kabid Tenaga Kerja Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (Dinas PTSP dan Naker) Tuban Wadiono mengatakan, perpeloncoan di dunia kerja tidak dibenarkan. Termasuk yang terjadi di dalam tim marketing Oppo di Tuban dan sekitarnya. Dia berharap korban yang dirugikan melapor agar perpeloncoan dunia kerja bisa dihapuskan. ‘’Kekerasan dunia kerja tidak dibenarkan. Korban yang merasa dirugikan harus membuat laporan ke kami, baru bisa diproses,’’ tegas dia.

GEMILANG Indra Yuliarti, salah satu sales korban hukuman tak manusiawi  yang diberlakukan supervisor dan trainer tempatnya bekerja tahu betul konsekuensi atas pelaporan polisi yang diusung ke mapolres setempat.

Gemilang melaporkan supervisor dan trainer PT. World Innovate Telecomunication (WIT) ke Unit IV  Satreskrim Polres Tuban dengan harapan mencari keadilan dan memutus rantai hukuman di dunia kerja.

Dara berambut panjang ini mengaku beberapa kali mangkir dari hukuman tak manusiawi yang dijatuhkan Dwi Prawoto Hadi, supervisornya.

Ketika teman-teman sekerjanya menjalani hukuman karena tak memenuhi target, Gemilang memilih cuek dan tidak menjalani hukuman apa pun yang diinstruksikan melalui grup media sosial timnya. ‘’Saya melawan hukuman tak manusiawi itu,’’ tegas dia yang mengaku mempunyai pertimbangan matang atas perlawanannya.

Baca Juga :  Tendang Pemotor, Komplotan Begal Rampas HP

Gemilang mengatakan, perlawanannya terhadap peraturan yang melanggar hak asasi manusia (HAM) itu dimulai sejak November 2018. Saat itu, dia yang mulai tak betah dengan perlakuan atasannya mengeluh ke Hari Cahyono, pamannya yang juga pengacara di Mojokerto.

Saat itu, pamannya mendorong untuk lapor ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Timur. ‘’Orang disnaker bilang ke saya, kalau dihukum tidak wajar diabaikan saja,’’ kata dia menjelaskan latar belakang  keberaniannya untuk melawan.

Sejak konsultasi dengan petugas Disnakertrans Jawa Timur, Gemilang nyaris tak pernah menaati hukuman-hukuman yang diberikan. Gemilang pun mengaku sering mendapat gunjingan dari teman kerjanya karena hanya dirinya yang berani melawan.

Baca Juga :  Sektor Wisata Minim, PAD Sisa Rp 72 Miliar

Sebagian sales lain yang tak berani melawan tetap menjalani hukuman jika tak tembus target. ‘’Saya berharap perlawanan saya ini bisa memutus rantai hukuman agar tidak dianggap sebagai budaya yang wajar,’’ kata dia.

Dikonfirmasi terpisah, Kabid Tenaga Kerja Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (Dinas PTSP dan Naker) Tuban Wadiono mengatakan, perpeloncoan di dunia kerja tidak dibenarkan. Termasuk yang terjadi di dalam tim marketing Oppo di Tuban dan sekitarnya. Dia berharap korban yang dirugikan melapor agar perpeloncoan dunia kerja bisa dihapuskan. ‘’Kekerasan dunia kerja tidak dibenarkan. Korban yang merasa dirugikan harus membuat laporan ke kami, baru bisa diproses,’’ tegas dia.

Artikel Terkait

Most Read

Hanya Pertandingkan 19 Cabor

Ingin Mondok

Akan Ditinjau Komisi C 

Lamongan 1 Lolos, Lamongan 2 Gagal

Artikel Terbaru


/