alexametrics
31.9 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Lahan Gagal Panen Belum Terdata

- Advertisement -

KOTA – Luas lahan pertanian yang gagal panen akibat banjir di Lamongan belum bisa dipastikan hingga selasa (27/2). Sebab Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan setempat belum melakukan pendataan. Alasannya, banjir masih berlangsung. ‘’Belum ada (data,Red). Juga belum ada laporan,’’ kata Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Lamongan, Hartiwi kepada Jawa Pos Radar Lamongan selasa (27/2).

Dia mengungkapkan, lahan pertanian yang gagal panen akan mendapat ganti rugi dari APBN. Dengan catatan, petani pemilik lahan pertanian tersebut harus terdaftar sebagai anggota asuransi usaha tani atau sudah mendaftarkan diri di asuransi usaha tani padi (AUTP). ‘’Jika belum masuk dalam AUTP, dipastikan tidak akan mendapatkan ganti rugi dari asuransi,’’ terangnya.

Baca Juga :  Nasib Honorer K2 Masih Mengambang

Menurut dia, ada beberapa kategori lahan pertanian/sawah yang bisa mendapat asuransi. Selain sudah mendaftar di AUTP, juga penyebab gagal panennya harus sesuai ketentuan. Diantaranya disebabkan musibah banjir atau serangan hama. Tingkat gagal panennya minimal tingkat kerusakannya lebih dari 75 persen dari total luas lahan. Lahan pertanian seluas satu hectare akan mendapat klaim asuransi sebesar Rp 6 juta. ‘’Petani harus melaporkan ke petugas,’’ ujar perempuan berkerudung itu.

Dia melanjutkan, setelah dilaporkan ke instansi terkait, dinas akan menindaklanjuti ke lembaga pengelola AUTP, yaitu Asuransi Jasindo yang diberi kewenangan mengelola AUTPD oleh Kementerian Pertanian. ‘’Yang men-survey nanti juga Jasindo,’’ ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, akibat luapan air bengawan solo, lahan pertanian di enam kecamatan di Lamongan tergenang banjir dan terancam gagal panen. Diantaranya Kecamatan Babat, Larena, Karangbinangun, Maduran, Karanggeneng dan Glagah.

Baca Juga :  Longsor Tutupi Saluran Waduk Pacal

KOTA – Luas lahan pertanian yang gagal panen akibat banjir di Lamongan belum bisa dipastikan hingga selasa (27/2). Sebab Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan setempat belum melakukan pendataan. Alasannya, banjir masih berlangsung. ‘’Belum ada (data,Red). Juga belum ada laporan,’’ kata Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Lamongan, Hartiwi kepada Jawa Pos Radar Lamongan selasa (27/2).

Dia mengungkapkan, lahan pertanian yang gagal panen akan mendapat ganti rugi dari APBN. Dengan catatan, petani pemilik lahan pertanian tersebut harus terdaftar sebagai anggota asuransi usaha tani atau sudah mendaftarkan diri di asuransi usaha tani padi (AUTP). ‘’Jika belum masuk dalam AUTP, dipastikan tidak akan mendapatkan ganti rugi dari asuransi,’’ terangnya.

Baca Juga :  Datangi Balai Desa Tanyakan DAK Pendidikan

Menurut dia, ada beberapa kategori lahan pertanian/sawah yang bisa mendapat asuransi. Selain sudah mendaftar di AUTP, juga penyebab gagal panennya harus sesuai ketentuan. Diantaranya disebabkan musibah banjir atau serangan hama. Tingkat gagal panennya minimal tingkat kerusakannya lebih dari 75 persen dari total luas lahan. Lahan pertanian seluas satu hectare akan mendapat klaim asuransi sebesar Rp 6 juta. ‘’Petani harus melaporkan ke petugas,’’ ujar perempuan berkerudung itu.

Dia melanjutkan, setelah dilaporkan ke instansi terkait, dinas akan menindaklanjuti ke lembaga pengelola AUTP, yaitu Asuransi Jasindo yang diberi kewenangan mengelola AUTPD oleh Kementerian Pertanian. ‘’Yang men-survey nanti juga Jasindo,’’ ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, akibat luapan air bengawan solo, lahan pertanian di enam kecamatan di Lamongan tergenang banjir dan terancam gagal panen. Diantaranya Kecamatan Babat, Larena, Karangbinangun, Maduran, Karanggeneng dan Glagah.

Baca Juga :  Longsor Tutupi Saluran Waduk Pacal

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/