alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Dengan WHRPG, Tekan Emisi Gas Buang

TUBAN – Proyek Waste Heat Recovery Power Generator (WHRPG) sejak 2014 menjadi salah satu komitmen PT. Semen Indonesia (SI) untuk selalu ramah lingkungan. Kemarin (27/2), proyek yang memanfaatkan gas buang pabrik menjadi listrik tersebut dicek langsung oleh CEO Global Enviromental Center (GEC) Foundation Kunihiro Suga selaku perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup Jepang. Dalam acara tersebut hadir Kepala Bidang Kedeputian Kerjasama Ekonomi Multilateral dan Pembiayaan Kemenko Perekonomian RI Cahyadi.

Tamu istimewa tersebut disambut Direktur Engineering dan Proyek Semen Indonesia Tri Abdi Satrijo, Direktur Utama Semen Gresik M. Saifudin, Direktur Produksi Semen Gresik Joko Sulistyanto, dan Direktur Keuangan Semen Gresik Ginarko Isnubroto. 

Dalam kunjungannya, Kunihiro Suga mengapresiasi proyek yang ramah lingkungan tersebut. Proyek  kerja sama bilateral antara Jepang dan Indonesia tersebut terbukti mengurangi emisi karbondioksida sebesar 122.573 ton per tahun.

Baca Juga :  Berkomitmen Kembangkan Wisata Desa Edukasi Pertanian

Jumlah tersebut setara dengan penanaman pohon trembesi di atas lahan seluas 4.295 hektare. Seperti diketahui, pohon trembesi merupakan pohon terbaik dalam menyerap zat CO2 hingga 28,5 kilogram karbondioksida selama setahun.

Sekretaris Perusahaan SMGR Agung Wiharto mengatakan, proyek WHRPG Semen Indonesia di pabrik Tuban dioperasikan di seluruh pabrik, mulai Tuban I hingga Tuban IV. Proyek yang sudah berjalan sekitar empat tahun tersebut merupakan terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara.

Selain menekan emisi, gas buang pabrik dimanfaatkan menjadi listrik sebesar 30,6 megawatt. Sehingga selama beroperasi, WHRPG tidak sedikit pun menggunakan batu bara atau BBM. Pembangunan WHRPG pabrik Tuban merupakan kerja sama Semen Indonesia dengan JFE Engineering.

Baca Juga :  Awas, Pekan Depan Mulai Macet

Proyek tersebut mendapat subsidi dari pemerintah Jepang sebesar US$ 11 juta. Melalui skema Joint Crediting Mechanism (JCM) yang merupakan inisiatif pemerintah Jepang yang mendorong organisasi-organisasi swasta di Jepang untuk berinvestasi dalam kegiatan pembangunan rendah karbon di Indonesia melalui insentif. 

TUBAN – Proyek Waste Heat Recovery Power Generator (WHRPG) sejak 2014 menjadi salah satu komitmen PT. Semen Indonesia (SI) untuk selalu ramah lingkungan. Kemarin (27/2), proyek yang memanfaatkan gas buang pabrik menjadi listrik tersebut dicek langsung oleh CEO Global Enviromental Center (GEC) Foundation Kunihiro Suga selaku perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup Jepang. Dalam acara tersebut hadir Kepala Bidang Kedeputian Kerjasama Ekonomi Multilateral dan Pembiayaan Kemenko Perekonomian RI Cahyadi.

Tamu istimewa tersebut disambut Direktur Engineering dan Proyek Semen Indonesia Tri Abdi Satrijo, Direktur Utama Semen Gresik M. Saifudin, Direktur Produksi Semen Gresik Joko Sulistyanto, dan Direktur Keuangan Semen Gresik Ginarko Isnubroto. 

Dalam kunjungannya, Kunihiro Suga mengapresiasi proyek yang ramah lingkungan tersebut. Proyek  kerja sama bilateral antara Jepang dan Indonesia tersebut terbukti mengurangi emisi karbondioksida sebesar 122.573 ton per tahun.

Baca Juga :  Sepekan, Ringkus Empat Tersangka Narkoba

Jumlah tersebut setara dengan penanaman pohon trembesi di atas lahan seluas 4.295 hektare. Seperti diketahui, pohon trembesi merupakan pohon terbaik dalam menyerap zat CO2 hingga 28,5 kilogram karbondioksida selama setahun.

Sekretaris Perusahaan SMGR Agung Wiharto mengatakan, proyek WHRPG Semen Indonesia di pabrik Tuban dioperasikan di seluruh pabrik, mulai Tuban I hingga Tuban IV. Proyek yang sudah berjalan sekitar empat tahun tersebut merupakan terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara.

Selain menekan emisi, gas buang pabrik dimanfaatkan menjadi listrik sebesar 30,6 megawatt. Sehingga selama beroperasi, WHRPG tidak sedikit pun menggunakan batu bara atau BBM. Pembangunan WHRPG pabrik Tuban merupakan kerja sama Semen Indonesia dengan JFE Engineering.

Baca Juga :  Perbaikan Rel KA Baureno, Siap Siap Macet!

Proyek tersebut mendapat subsidi dari pemerintah Jepang sebesar US$ 11 juta. Melalui skema Joint Crediting Mechanism (JCM) yang merupakan inisiatif pemerintah Jepang yang mendorong organisasi-organisasi swasta di Jepang untuk berinvestasi dalam kegiatan pembangunan rendah karbon di Indonesia melalui insentif. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Delapan Incumbent Kalah Suara

PT DESI Bakal Dilarang Beroperasi

Matangkan Persiapan

Rudjito – Zaenuri Divonis 4 Tahun


/