alexametrics
24 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Pernah Lari Tiga Hari Sejauh 133 Kilometer

Geluti lari sejak 2016, Haritya Mahendra merasa hobinya bukan sekadar untuk sehat. Tapi bisa bermanfaat sesama dengan mengumpulkan donasi. 

PULUHAN medali lari maraton sudah menjadi koleksinya. Juga telah habiskan puluhan sepatu lari. Itulah dijalani Haritya Mahendra yang begitu hobi berlari dan maraton. Pelari asal Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Bojonegoro Kota itu menggeluti hobi lari sejak 2016. 

Mengingat tahun tersebut sedang ramai-ramainya lari maraton di berbagai kota besar. Lelaki anggota TNI AD berdinas di Kediri itu tertarik tekuni hobi lari karena salah satu olahraga paling mendasar. Bermula Mahendra sejak kecil bermain sepak bola yang membutuhkan kemampuan berlari. Bahkan, hingga saat ini masih sering main sepak bola atau futsal. 

Mahendra pun tergabung dalam komunitas Kediri Runners. Tapi ketika pulang ke Bojonegoro, terkadang Mahendra lari bersama teman-teman komunitas Indo Runners Bojonegoro. “Biasanya saya tiga hari sekali pulang ke Bojonegoro. Tapi saya melihatnya pehobi lari di Bojonegoro belum sebanyak seperti di Kediri,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro Rabu malam (26/1). 

Baca Juga :  Objek Wisata Belum Sadar Pajak

Mahendra mengakui telah memiliki puluhan medali. Juga telah habiskan puluhan sepatu lari. “Lari maraton mulai 10 kilometer, 21 kilometer, 42 kilometer, hingga lebih dari 50 kilometer sudah pernah ia ikuti,” katanya. 

Menurutnya, acara lari maraton paling berkesan ia ikuti yaitu Nusantarun pada 2019. Acara tersebut bukan sekadar lari. Syarat jadi peserta harus kumpulkan donasi. “Syarat lainnya ialah calon peserta harus punya sertifikat pernah mengikuti lari di atas 50 kilometer atau ultramaraton. Jadi kualifikasinya ketat,” ucap bapak dua anak itu.

Karena Nusantarun itu lari selama tiga hari dengan jarak 133 kilometer. “Lari dari Gunungkidul hingga Ponorogo,” imbuhnya. Mahendra sendiri berhasil kumpulkan donasi sebanyak Rp 8,7 juta melalui aplikasi Kitabisa. Akhirnya, jumlah peserta Nusantarun sebanyak 143 pelari. Total donasi terkumpul Rp 1,7 miliar. “Donasinya untuk teman-teman penyandang disabilitas,” ungkapnya.

Baca Juga :  Sekolah Daring, Pembelajaran Terasa Sulit jika Orang Tua Bekerja

Setiap hendak mengikuti lari maraton, setidaknya ia butuh waktu tiga bulan berupa rutin lari, atur pola makan, dan jadwal tidur teratur. Karena jangan sampai menyepelekan, karena bisa berisiko cedera. Ia juga melatih otot perut, tangan, dan kaki sebagai penunjang. “Asupan protein harus cukup, serta jaga berat badan,” beber pria kelahiran 1987 itu.

Mahendra menantang diri sendiri menjajal di luar lari maraton. Dia pernah ikut lari di pegunungan atau trail run. “Saya juga pernah ikut triatlon. Lomba tiga cabang olahraga sekaligus meliputi lari, berenang, dan balap sepeda,” katanya yang kangen ikut acara lari sejak pandemi Covid-19 pada 2020.

Geluti lari sejak 2016, Haritya Mahendra merasa hobinya bukan sekadar untuk sehat. Tapi bisa bermanfaat sesama dengan mengumpulkan donasi. 

PULUHAN medali lari maraton sudah menjadi koleksinya. Juga telah habiskan puluhan sepatu lari. Itulah dijalani Haritya Mahendra yang begitu hobi berlari dan maraton. Pelari asal Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Bojonegoro Kota itu menggeluti hobi lari sejak 2016. 

Mengingat tahun tersebut sedang ramai-ramainya lari maraton di berbagai kota besar. Lelaki anggota TNI AD berdinas di Kediri itu tertarik tekuni hobi lari karena salah satu olahraga paling mendasar. Bermula Mahendra sejak kecil bermain sepak bola yang membutuhkan kemampuan berlari. Bahkan, hingga saat ini masih sering main sepak bola atau futsal. 

Mahendra pun tergabung dalam komunitas Kediri Runners. Tapi ketika pulang ke Bojonegoro, terkadang Mahendra lari bersama teman-teman komunitas Indo Runners Bojonegoro. “Biasanya saya tiga hari sekali pulang ke Bojonegoro. Tapi saya melihatnya pehobi lari di Bojonegoro belum sebanyak seperti di Kediri,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro Rabu malam (26/1). 

Baca Juga :  Belajar Ngaji Dari Bu Fat, Ikuti Jalan Politik Bung Karno

Mahendra mengakui telah memiliki puluhan medali. Juga telah habiskan puluhan sepatu lari. “Lari maraton mulai 10 kilometer, 21 kilometer, 42 kilometer, hingga lebih dari 50 kilometer sudah pernah ia ikuti,” katanya. 

Menurutnya, acara lari maraton paling berkesan ia ikuti yaitu Nusantarun pada 2019. Acara tersebut bukan sekadar lari. Syarat jadi peserta harus kumpulkan donasi. “Syarat lainnya ialah calon peserta harus punya sertifikat pernah mengikuti lari di atas 50 kilometer atau ultramaraton. Jadi kualifikasinya ketat,” ucap bapak dua anak itu.

Karena Nusantarun itu lari selama tiga hari dengan jarak 133 kilometer. “Lari dari Gunungkidul hingga Ponorogo,” imbuhnya. Mahendra sendiri berhasil kumpulkan donasi sebanyak Rp 8,7 juta melalui aplikasi Kitabisa. Akhirnya, jumlah peserta Nusantarun sebanyak 143 pelari. Total donasi terkumpul Rp 1,7 miliar. “Donasinya untuk teman-teman penyandang disabilitas,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pengetatan, GeNose Hanya Berlaku Satu Hari

Setiap hendak mengikuti lari maraton, setidaknya ia butuh waktu tiga bulan berupa rutin lari, atur pola makan, dan jadwal tidur teratur. Karena jangan sampai menyepelekan, karena bisa berisiko cedera. Ia juga melatih otot perut, tangan, dan kaki sebagai penunjang. “Asupan protein harus cukup, serta jaga berat badan,” beber pria kelahiran 1987 itu.

Mahendra menantang diri sendiri menjajal di luar lari maraton. Dia pernah ikut lari di pegunungan atau trail run. “Saya juga pernah ikut triatlon. Lomba tiga cabang olahraga sekaligus meliputi lari, berenang, dan balap sepeda,” katanya yang kangen ikut acara lari sejak pandemi Covid-19 pada 2020.

Artikel Terkait

Most Read

Berharap DPRD yang Baru Lebih Baik

Paramotor Unjuk Kebolehan

61 Jabatan Kades Kosong

Artikel Terbaru


/