alexametrics
25.3 C
Bojonegoro
Wednesday, May 18, 2022

Lapak Koran Mas Kohar

HARI masih pagi dan berkabut, namun Mas Kohar biasanya sudah menggelar lapak korannya di sebuah perempatan jalan dekat lampu merah di kota Kecamatan Rogo. Kota kecil berada paling ujung dari Kota Pesisir. Ia adalah penjual koran satu-satunya masih bertahan di kota kecil ini.
 ‘’Saya tetap menjual koran karena saya suka melihat orang mau membaca!” katanya suatu hari kepadaku.
Setiap kali aku lewat, aku berusaha mampir ke lapaknya dan membeli korannya. Setiap kali aku mampir ke lapaknya, seringkali aku melihat seorang tua yang rajin mampir ke lapak Mas Kohar dan membeli korannya.
Ada juga beberapa orang hanya membaca saja tanpa membelinya. Kupikir orang seperti ini tentu saja kurang peka terhadap perasaan Mas Kohar yang mungkin mengharapkan mereka tak hanya membaca di lapaknya namun juga mau membelinya. Karena bagi penjual koran seperti Mas Kohar untuk bisa bertahan hidup dari jualan koran saja itu sudah merupakan perasaan syukur yang tiada tara. Karena di zaman internet seperti sekarang telah banyak mengurangi income para penjual koran termasuk Mas Kohar.
Namun karena kecintaan terhadap dunia baca dan kepuasaan tak bisa diukur dengan apapun membuat Mas Kohar tetap bertahan jualan koran. Meskipun kadang penghasilannya seolah napas yang sedang kembang kempis akibat adanya teknologi internet. Kemajuan teknologi itu telah menjadi pukulan besar bagi penjual koran.
“Ini saya bisa mempertahankan lapak koran saya ini saja sudah merupakan berkah,” katanya suatu kali saat mampir di lapaknya.
Namun yang membuat hatiku merasa gembira adalah wajah Mas Kohar selalu tampak ceria setiap kali melayani para pembeli koran. Ia selalu terlihat bersemangat meskipun kadang jualannya sepi.
Bisa  dibayangkan bagaimana ia harus bertahan hidup apalagi Mas Kohar sudah menanggung anak dan istri sedang lapak korannya sering sepi. Bila satu koran dihargai atau mendapatkan keuntungan sekitar Rp 500 hingga Rp 1.000 per eksemplarnya, hanya berapa rupiah bisa ia bawa pulang apabila ia hanya membawa dua puluh atau tiga puluh eksemplar. Bagaimana ia bisa makan dan mencukupi keluarganya? Pertanyaan-pertanyaan itu juga sering bersarang.
Memang ini ajaib dan mungkin tak bisa dinalar bila kita melihat rahasia nasib dan rezeki seseorang. Mungkin di pikiran kita bahwa dengan penghasilan yang minim seperti itu namun tampak Mas Kohar masih bahagia. Selalu menyungging senyum setiap kali berjumpa di lapak korannya. “Mungkin inilah dinamakan keajaiban Tuhan!” gumam hatiku.
Mas Kohar mempunyai cara lain menutupi minimnya penghasilan dari jualan koran. Sebelum menggelar lapak korannya biasanya ia pergi dulu ke pasar sambil membawa ayam untuk dijual. Sehingga kekurangan penghasilan dari pendapatan berjualan koran bisa tertutupi dengan penghasilan lainnya.
“Dulu menghasilkan lebih banyak uang daripada sekarang karena saya menjual koran dan makan daging setiap hari. Tetapi bisnis tidak lagi menguntungkan karena kenaikan harga sayuran dan buah-buahan dan juga berkurangnya pasokan ayam dibanding dengan permintaan,” kata Mas Kohar sambil menambahkan bahwa ia ingin kembali menjual koran karena itu adalah profesi membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Berbeda dengan kebanyakan pekerjaan di mana seseorang dapat dengan mudah mencari pekerjaan setiap kali ada lowongan tanpa banyak kesulitan atau masa tunggu.
Ditambahkannya, profesi ini juga tidak terlalu menegangkan dibanding kebanyakan profesi lainnya karena pedagang koran bekerja di ruang terbuka. Dan mereka tidak harus menghadapi bos bisa menghilangkan sumber pendapatan mereka jika mereka melakukan kesalahan dialami banyak pekerja lain setiap hari.
Tapi, bagi Mas Kohar tidak demikian dan dia merasa bersyukur untuk menjadi orang yang mandiri meskipun harus menjual koran di sembarang tempat di kota ini. Di mana tidak ada outlet penjualan surat kabar apapun yang tersedia untuk dijual. Tapi dia tidak peduli, karena dia tahu bagaimana mendapatkan kembali apa yang hilang dari awal dan yang terbaik adalah dia tidak bergantung pada orang lain untuk apa pun.
Dan dia tidak membutuhkan bantuan siapa pun. Setidaknya, dia tahu itu orang akan melakukan hal-hal seperti ini hanya ketika mereka melihat bahwa dapat mengambil keuntungan darinya. Atau mendapatkan sesuatu darinya dan pemikiran ini selalu mencegahnya jatuh ke dalam perangkap seperti itu. Tentu suatu berkah mengetahui bahwa kita tidak harus melakukannya.
“Dalam hidup ini saya berusaha untuk tak bergantung pada orang lain,” kata Mas Kohar sambil tersenyum.  
Dengan jualan koran ia merasa menjadi bos bagi dirinya sendiri. Mas Kohar tidak takut bos mana pun dan dia bekerja sebagai pelapak koran secara mandiri tanpa takut pada siapa pun. Perasaan ini membuatnya merasa nyaman apalagi kecintaannya terhadap dunia baca. Dengan menjual koran juga bagian dari kontribusinya membudayakan budaya baca di tengah masyarakat yang masih rendah tingkat literasinya.
Suatu hari, Mas Kohar berjalan ke warung dan menyapaku dengan senyum. Lalu berujar “Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah kamu bahagia?” pertanyaan sederhana ini membuat saya berpikir tentang orang seperti apa Mas Kohar sebenarnya. Tentu, bagaimana keberadaannya di dunia telah membuatnya menjadi salah satu orang paling merdeka meskipun berjualan koran dengan penghasilan yang minim.
Aku terkejut dengan sikap positif Mas Kohar tunjukkan. Saat kami berbicara lebih jauh tentang segala kehidupannya telah ia alami selama bertahun-tahun sebagai seorang penjual koran. Kohar mengatakan bahwa mimpinya bukanlah ingin menjadi kaya, tetapi memberikan waktunya untuk sesuatu yang berarti.
Dia bisa melakukannya  dengan penuh semangat hanya sebagai seorang penjual koran jalanan karena telah tertempa oleh perjalanan hidup dengan segala pahit getirnya mencari nafkah. Tidak pernah merasa malas dalam bekerja yang telah lama ia tekuni.
“Bersykurlah dengan apa yang ada. Kita jangan mudah terpengaruh apa yang orang lain katakan tentang kita. Jalani saja hidup ini sesuai hati nurani. Bahagiakanlah diri kita sendiri meskipun orang lain mungkin meremehkan!,” ucap Kohar di pagi yang masih berembun.
Sebuah ungkapan luar biasa dan penuh nilai filosofi hidup keluar dari mulut seorang penjual koran. Bekerja sebagai penjual koran karena ingin masyarakat di sekitarnya mencintai dunia baca. Bahkan kadang ia harus berkeliling dari desa ke desa sambil membawa koran dengan sepeda ontel, juga sering berjalan kaki.
Dari Mas Kohar, banyak inspirasi hidup. Dia adalah orang mendorong selalu menulis dengan keinginanku yang lama terpendam terhadap mimpi di bidang jurnalisme yang semakin berkobar dalam hati. Dari Mas Kohar seorang penjual koran jalanan yang tabah mendapatkan motivasi hidup untuk bisa selalu berkarya dalam dunia tulis menulis.
Sebuah impian mulia untuk menginspirasi kehidupan. Dia memberiku keberanian mengikuti impianku, bukan hanya sebagai jurnalis yang perlu bekerja keras. Tetapi juga siapa saja percaya pada mimpi sebuah profesi yang pantas dihormati dan dihargai di atas menara idealisme.

Baca Juga :  Jalur Daring Dapat Tambahan 129 Kursi

* Cerpenis dan Pengajar di Jatirogo, Tuban.

HARI masih pagi dan berkabut, namun Mas Kohar biasanya sudah menggelar lapak korannya di sebuah perempatan jalan dekat lampu merah di kota Kecamatan Rogo. Kota kecil berada paling ujung dari Kota Pesisir. Ia adalah penjual koran satu-satunya masih bertahan di kota kecil ini.
 ‘’Saya tetap menjual koran karena saya suka melihat orang mau membaca!” katanya suatu hari kepadaku.
Setiap kali aku lewat, aku berusaha mampir ke lapaknya dan membeli korannya. Setiap kali aku mampir ke lapaknya, seringkali aku melihat seorang tua yang rajin mampir ke lapak Mas Kohar dan membeli korannya.
Ada juga beberapa orang hanya membaca saja tanpa membelinya. Kupikir orang seperti ini tentu saja kurang peka terhadap perasaan Mas Kohar yang mungkin mengharapkan mereka tak hanya membaca di lapaknya namun juga mau membelinya. Karena bagi penjual koran seperti Mas Kohar untuk bisa bertahan hidup dari jualan koran saja itu sudah merupakan perasaan syukur yang tiada tara. Karena di zaman internet seperti sekarang telah banyak mengurangi income para penjual koran termasuk Mas Kohar.
Namun karena kecintaan terhadap dunia baca dan kepuasaan tak bisa diukur dengan apapun membuat Mas Kohar tetap bertahan jualan koran. Meskipun kadang penghasilannya seolah napas yang sedang kembang kempis akibat adanya teknologi internet. Kemajuan teknologi itu telah menjadi pukulan besar bagi penjual koran.
“Ini saya bisa mempertahankan lapak koran saya ini saja sudah merupakan berkah,” katanya suatu kali saat mampir di lapaknya.
Namun yang membuat hatiku merasa gembira adalah wajah Mas Kohar selalu tampak ceria setiap kali melayani para pembeli koran. Ia selalu terlihat bersemangat meskipun kadang jualannya sepi.
Bisa  dibayangkan bagaimana ia harus bertahan hidup apalagi Mas Kohar sudah menanggung anak dan istri sedang lapak korannya sering sepi. Bila satu koran dihargai atau mendapatkan keuntungan sekitar Rp 500 hingga Rp 1.000 per eksemplarnya, hanya berapa rupiah bisa ia bawa pulang apabila ia hanya membawa dua puluh atau tiga puluh eksemplar. Bagaimana ia bisa makan dan mencukupi keluarganya? Pertanyaan-pertanyaan itu juga sering bersarang.
Memang ini ajaib dan mungkin tak bisa dinalar bila kita melihat rahasia nasib dan rezeki seseorang. Mungkin di pikiran kita bahwa dengan penghasilan yang minim seperti itu namun tampak Mas Kohar masih bahagia. Selalu menyungging senyum setiap kali berjumpa di lapak korannya. “Mungkin inilah dinamakan keajaiban Tuhan!” gumam hatiku.
Mas Kohar mempunyai cara lain menutupi minimnya penghasilan dari jualan koran. Sebelum menggelar lapak korannya biasanya ia pergi dulu ke pasar sambil membawa ayam untuk dijual. Sehingga kekurangan penghasilan dari pendapatan berjualan koran bisa tertutupi dengan penghasilan lainnya.
“Dulu menghasilkan lebih banyak uang daripada sekarang karena saya menjual koran dan makan daging setiap hari. Tetapi bisnis tidak lagi menguntungkan karena kenaikan harga sayuran dan buah-buahan dan juga berkurangnya pasokan ayam dibanding dengan permintaan,” kata Mas Kohar sambil menambahkan bahwa ia ingin kembali menjual koran karena itu adalah profesi membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Berbeda dengan kebanyakan pekerjaan di mana seseorang dapat dengan mudah mencari pekerjaan setiap kali ada lowongan tanpa banyak kesulitan atau masa tunggu.
Ditambahkannya, profesi ini juga tidak terlalu menegangkan dibanding kebanyakan profesi lainnya karena pedagang koran bekerja di ruang terbuka. Dan mereka tidak harus menghadapi bos bisa menghilangkan sumber pendapatan mereka jika mereka melakukan kesalahan dialami banyak pekerja lain setiap hari.
Tapi, bagi Mas Kohar tidak demikian dan dia merasa bersyukur untuk menjadi orang yang mandiri meskipun harus menjual koran di sembarang tempat di kota ini. Di mana tidak ada outlet penjualan surat kabar apapun yang tersedia untuk dijual. Tapi dia tidak peduli, karena dia tahu bagaimana mendapatkan kembali apa yang hilang dari awal dan yang terbaik adalah dia tidak bergantung pada orang lain untuk apa pun.
Dan dia tidak membutuhkan bantuan siapa pun. Setidaknya, dia tahu itu orang akan melakukan hal-hal seperti ini hanya ketika mereka melihat bahwa dapat mengambil keuntungan darinya. Atau mendapatkan sesuatu darinya dan pemikiran ini selalu mencegahnya jatuh ke dalam perangkap seperti itu. Tentu suatu berkah mengetahui bahwa kita tidak harus melakukannya.
“Dalam hidup ini saya berusaha untuk tak bergantung pada orang lain,” kata Mas Kohar sambil tersenyum.  
Dengan jualan koran ia merasa menjadi bos bagi dirinya sendiri. Mas Kohar tidak takut bos mana pun dan dia bekerja sebagai pelapak koran secara mandiri tanpa takut pada siapa pun. Perasaan ini membuatnya merasa nyaman apalagi kecintaannya terhadap dunia baca. Dengan menjual koran juga bagian dari kontribusinya membudayakan budaya baca di tengah masyarakat yang masih rendah tingkat literasinya.
Suatu hari, Mas Kohar berjalan ke warung dan menyapaku dengan senyum. Lalu berujar “Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah kamu bahagia?” pertanyaan sederhana ini membuat saya berpikir tentang orang seperti apa Mas Kohar sebenarnya. Tentu, bagaimana keberadaannya di dunia telah membuatnya menjadi salah satu orang paling merdeka meskipun berjualan koran dengan penghasilan yang minim.
Aku terkejut dengan sikap positif Mas Kohar tunjukkan. Saat kami berbicara lebih jauh tentang segala kehidupannya telah ia alami selama bertahun-tahun sebagai seorang penjual koran. Kohar mengatakan bahwa mimpinya bukanlah ingin menjadi kaya, tetapi memberikan waktunya untuk sesuatu yang berarti.
Dia bisa melakukannya  dengan penuh semangat hanya sebagai seorang penjual koran jalanan karena telah tertempa oleh perjalanan hidup dengan segala pahit getirnya mencari nafkah. Tidak pernah merasa malas dalam bekerja yang telah lama ia tekuni.
“Bersykurlah dengan apa yang ada. Kita jangan mudah terpengaruh apa yang orang lain katakan tentang kita. Jalani saja hidup ini sesuai hati nurani. Bahagiakanlah diri kita sendiri meskipun orang lain mungkin meremehkan!,” ucap Kohar di pagi yang masih berembun.
Sebuah ungkapan luar biasa dan penuh nilai filosofi hidup keluar dari mulut seorang penjual koran. Bekerja sebagai penjual koran karena ingin masyarakat di sekitarnya mencintai dunia baca. Bahkan kadang ia harus berkeliling dari desa ke desa sambil membawa koran dengan sepeda ontel, juga sering berjalan kaki.
Dari Mas Kohar, banyak inspirasi hidup. Dia adalah orang mendorong selalu menulis dengan keinginanku yang lama terpendam terhadap mimpi di bidang jurnalisme yang semakin berkobar dalam hati. Dari Mas Kohar seorang penjual koran jalanan yang tabah mendapatkan motivasi hidup untuk bisa selalu berkarya dalam dunia tulis menulis.
Sebuah impian mulia untuk menginspirasi kehidupan. Dia memberiku keberanian mengikuti impianku, bukan hanya sebagai jurnalis yang perlu bekerja keras. Tetapi juga siapa saja percaya pada mimpi sebuah profesi yang pantas dihormati dan dihargai di atas menara idealisme.

Baca Juga :  BPRS Milik Pesantren Tebu Ireng Buka Cabang di Lamongan

* Cerpenis dan Pengajar di Jatirogo, Tuban.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/