alexametrics
24 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

70 Hektare Lahan di Desa Ngelo Terdampak Bendungan Karangnongko

Radar Bojonegoro – Pembangunan Bendungan Karangnongko tahun depan di Kecamatan Margomulyo butuh lahan luas. Sehingga, berdampak pada pembebasan lahan.

Ada dua desa diperkirakan terdampak pembangunan proyek nasional ini. Yakni Desa Ngelo dan Desa Kalangan. Di Desa Ngelo butuh sekitar 70 hektare lahan. Sedangkan, di Desa Kalangan sekitar 28 hektare. Camat Margomulyo Sahlan mengatakan, terdapat dua desa akan terdampak pembangunan Bendungan Karangnongko, yakni Desa Ngelo dan Desa Kalangan.

“Dusun Ngelo, Dusun Jeruk, Dusun Matar yang masuk Desa Ngelo,” ungkapnya. Sahlan mengaku belum terdapat dampak dirasakan dari pembangunan. Sebab, masih proses sosialisasi. Atau pertemuan konsultasi masyarakat (PKM) tahan dua. Tahap ini untuk menggali informasi atas rencana detail desain proyek.

“Masih proses analisis data. Penghitungan jumlah warga yang diperkirakan terdampak. Analisis awal dua desa,” ujar mantan Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Sumberrejo itu. Dia meminta agar setiap tahapan dari pembangunan diinformasikan kepada masyarakat.

Kepala Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo Tri Maryono mengatakan, warga antusias menunggu pembangunan Bendungan Karangnongko. Sebab merupakan proyek nasional akan berdampak positif terhadap pasokan air. Terlebih berdasar desain dari pemerintah pusat, juga akan dibangun objek wisata di sekitar bendungan.

Baca Juga :  Kontraktor Jembatan Bojonegoro-Trucuk Bakal Kena Denda 

“Seperti mimpi menjadi kenyataan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin. Berdasar data, lahan-lahan terdampak terdiri dari lahan persil 19,5 hektare, lahan desa 20,5 hektare, milik warga 15,5 hektare. Juga, lahan milik Perhutani sekitar 14,8 hektare, kas desa 5 kilometer persegi, masjid dan musala 465 meter persegi, serta 169 rumah.

Tri mengklaim warga setempat setuju dengan pembangunan bendungan tersebut. Semua sudah mengetahui pembangunannya. Sosialisasi telah dilakukan oleh tokoh masyarakat maupun aparatur desa. “Sumber infomasi 94 persen dari tokoh masyarakat, 6 persen dari aparat desa,” ujarnya.

Tri mengatakan, proses pembangunan bendungan yang akan dimulai tahun depan akan meningkatkan perekonomian warga sekitar. Dengan adanya banyak pekerja proyek, warga bisa berinisiatif untuk berjualan. Sehingga bisa memacu perputaran ekonomi. “Warga harus kreatif melihat peluang,” tutur dia.

Selain itu, wisata dibangun akan dikelola oleh badan usaha milik desa (BUMDes). Sehingga akan menambah pendapatan desa maupun warga sekitar. Ketika pembangunan bendungan sudah selesai, setidaknya bisa mengatasi permasalahan kekeringan dan banjir di Bojonegoro.

Baca Juga :  Undian Simpedesnya Bertabur Hadiah

“Desa Ngelo sendiri tidak pernah banjir karena daratan tinggi,” jelasnya. Bendungan Karangnongko itu membentang di Sungai Bengawan Solo. Di Bojonegoro, lahan terdampak di Desa Ngelo dan Desa Kalangan. Dan, proyek nasional ini juga merambah kawasan Kecamatan Kradenan, Blora.

Seperti diberitakan sebelumnya, pembangunan bendungan di Bengawan Solo itu ditargatkan selesai 2024 atau empat tahun. Sesuai masa kerja Presiden Jokowi. Sebab, pembangunan berdasar Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan (Gerbangkertosusila).

Studi kelayakan sudah selesai. Tahun depan mulai pengerjaan konstruksi. Pembangunan bendungan dengan estimasi nilai investasi Rp 2.550 miliar itu cukup bermanfaat untuk pasokan air. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo bisa menyuplai kebutuhan air di wilayah Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan. Sebab, selama ini permasalahan kekeringan kerap terjadi saat kemarau. (irv)

Radar Bojonegoro – Pembangunan Bendungan Karangnongko tahun depan di Kecamatan Margomulyo butuh lahan luas. Sehingga, berdampak pada pembebasan lahan.

Ada dua desa diperkirakan terdampak pembangunan proyek nasional ini. Yakni Desa Ngelo dan Desa Kalangan. Di Desa Ngelo butuh sekitar 70 hektare lahan. Sedangkan, di Desa Kalangan sekitar 28 hektare. Camat Margomulyo Sahlan mengatakan, terdapat dua desa akan terdampak pembangunan Bendungan Karangnongko, yakni Desa Ngelo dan Desa Kalangan.

“Dusun Ngelo, Dusun Jeruk, Dusun Matar yang masuk Desa Ngelo,” ungkapnya. Sahlan mengaku belum terdapat dampak dirasakan dari pembangunan. Sebab, masih proses sosialisasi. Atau pertemuan konsultasi masyarakat (PKM) tahan dua. Tahap ini untuk menggali informasi atas rencana detail desain proyek.

“Masih proses analisis data. Penghitungan jumlah warga yang diperkirakan terdampak. Analisis awal dua desa,” ujar mantan Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Sumberrejo itu. Dia meminta agar setiap tahapan dari pembangunan diinformasikan kepada masyarakat.

Kepala Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo Tri Maryono mengatakan, warga antusias menunggu pembangunan Bendungan Karangnongko. Sebab merupakan proyek nasional akan berdampak positif terhadap pasokan air. Terlebih berdasar desain dari pemerintah pusat, juga akan dibangun objek wisata di sekitar bendungan.

Baca Juga :  Didemo, PPDB SMA/SMKN Dihentikan Sementara

“Seperti mimpi menjadi kenyataan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin. Berdasar data, lahan-lahan terdampak terdiri dari lahan persil 19,5 hektare, lahan desa 20,5 hektare, milik warga 15,5 hektare. Juga, lahan milik Perhutani sekitar 14,8 hektare, kas desa 5 kilometer persegi, masjid dan musala 465 meter persegi, serta 169 rumah.

Tri mengklaim warga setempat setuju dengan pembangunan bendungan tersebut. Semua sudah mengetahui pembangunannya. Sosialisasi telah dilakukan oleh tokoh masyarakat maupun aparatur desa. “Sumber infomasi 94 persen dari tokoh masyarakat, 6 persen dari aparat desa,” ujarnya.

Tri mengatakan, proses pembangunan bendungan yang akan dimulai tahun depan akan meningkatkan perekonomian warga sekitar. Dengan adanya banyak pekerja proyek, warga bisa berinisiatif untuk berjualan. Sehingga bisa memacu perputaran ekonomi. “Warga harus kreatif melihat peluang,” tutur dia.

Selain itu, wisata dibangun akan dikelola oleh badan usaha milik desa (BUMDes). Sehingga akan menambah pendapatan desa maupun warga sekitar. Ketika pembangunan bendungan sudah selesai, setidaknya bisa mengatasi permasalahan kekeringan dan banjir di Bojonegoro.

Baca Juga :  Undian Simpedesnya Bertabur Hadiah

“Desa Ngelo sendiri tidak pernah banjir karena daratan tinggi,” jelasnya. Bendungan Karangnongko itu membentang di Sungai Bengawan Solo. Di Bojonegoro, lahan terdampak di Desa Ngelo dan Desa Kalangan. Dan, proyek nasional ini juga merambah kawasan Kecamatan Kradenan, Blora.

Seperti diberitakan sebelumnya, pembangunan bendungan di Bengawan Solo itu ditargatkan selesai 2024 atau empat tahun. Sesuai masa kerja Presiden Jokowi. Sebab, pembangunan berdasar Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan (Gerbangkertosusila).

Studi kelayakan sudah selesai. Tahun depan mulai pengerjaan konstruksi. Pembangunan bendungan dengan estimasi nilai investasi Rp 2.550 miliar itu cukup bermanfaat untuk pasokan air. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo bisa menyuplai kebutuhan air di wilayah Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan. Sebab, selama ini permasalahan kekeringan kerap terjadi saat kemarau. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/