alexametrics
29.6 C
Bojonegoro
Saturday, May 28, 2022

Musining, Penjual Jamu Gendong yang Tak Tinggalkan Resep Nenek Moyang

Musining, penjual jamu gendong pertama dari Dukuh Pinggir, Desa Tlogoagung,  Kecamatan Baureno, tak pernah meninggalkan resep nenek moyang. Pelanggannya pun sudah turun temurun.

———————————–

RIKA RATMAWATI, Bojonegoro

———————————–

Awan gelap masih enggan beralih dari peraduannya. Kabut pekat masih mendekap. 

Pagi itu (26/11), masih sangat buta. Perempuan paro baya sudah siap dengan botol-botol berisi jamu dalam gendongannya.

Menunggu bus Puspa Indah di depan toko Monalisa Pasar Babat. Puluhan botol jamu beras kencur, kunyit asam, sirih kunci, dan gula asam sudah siap dijualnya.

Hampir 22 tahun kesibukkan itu digelutinya, tak ada rasa lelah atau menyerah.

’’Karena ini tumpuan hidup keluarga kami,’’ ujarnya ketika dijumpai Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Musining, 60, penjual jamu gendong pertama dari tanah timur Bojonegoro. Keuletannya dalam mempertahankan tradisi Jawa cukup mendapat apresiasi dari pelanggannya.

Meski digempur oleh banyaknya produk jamu instan, jamu gendong Mak Ning, sapaannya, tetap dinanti masyarakat Desa Ngino, Kecamatan Semanding, Tuban.

Pilihannya mengais rezeki memang di kota tetangga, Tuban. Hal itu karena Tuban memiliki jarak tempuh lebih dekat dari rumahnya.

Baca Juga :  Lamongan, Tunda Libur Semester

Sehingga, sebelum banyaknya transportasi pada 1996, dia bisa menumpang pada truk brondol.

Truk brondol itu biasa mengangkut sayuran pada pagi buta dari Pasar Babat. Sehingga, dia bisa menumpang bersama pedagang lainnya untuk ke Tuban. 

Untuk pergi ke Desa Ngino, Semanding, Tuban, setidaknya membutuhkan waktu 45 menit dari rumah. Mak Ning harus memulai perjalanan sejak pukul 04.00 pagi.

Mak Ning nantinya harus sampai di pasar krempyeng Desa Ngino sebelum pukul 05.30. Sebab, puluhan pelanggannya sudah menunggu di pasar krempeyeng Desa Ngino.

Kebetulan, Mak Ning memang diberikan lapak ukuran 1 meter untuk berjualan jamu.

Setelah pasar berlalu pukul 07.00 pagi, Mak Ning mulai menjajakan jamunya dengan menggendong keliling kampung Desa Ngino.

’’Jamu akan dijual keliling sampai habis,’’ paparnya. 

Sebelum berangkat, Mak Ning harus terjaga sejak pukul 01.00 dini hari. Sebab, racikan jamu-jamu tradisional tersebut harus dibuat secara langsung.

Supaya tidak mengurangi cita rasanya, Mak Ning memang meraciknya sendiri. Dedaunan yang dipetiknya dari kebun, ditumbuk dalam lumbung kayu sampai halus.

Kemudian, dicampur sejumlah empon-empon seperti kunyit, jahe merah, kencur, dan beras goreng.

Baca Juga :  Pilih Makanan Terbungkus

Menyesuaikan dengan kebutuhan, kemudian seluruh racikan ditumbuk halus. Lalu, diperas dengan ditambah air matang.

Seluruh proses dilakoninya sendiri, karena beda tangan beda rasa. Mak Ning tidak ingin mengecewakan pelanggannya, sehingga memilih untuk meracik jamu sendiri.

Proses itu belum selesai, karena setiap hari Mak Ning harus membuat setidaknya 30 botol. Sehingga, pembuatannya bisa memakan waktu lebih kurang tiga jam.

Kemudian, Mak Ning bergegas untuk segera menjajakan dagangannya. ’’Kalau kesiangan bisa tidak  habis,’’ ujar ibu satu anak ini.

Berjualan jamu gendong sudah menjadi tradisi warga Dukuh Pinggir. Setidaknya ada 10 penjual jamu di dukuh tersebut. S

ehingga, resep pembuatan jamu memang ditularkan dari satu penjual ke penjual lain. Masing-masing penjual memang saling terbuka, sebab pasarnya juga berbeda.

Tidak sedikit masyarakat tetangga desa menjuluki Dukuh Pinggir sebagai dukuh jamu, karena saking banyaknya penjual jamu.

Meski Mak Ning adalah pembuat jamu tradisional tertua, tetapi dia tidak pernah pelit akan ilmu dan resep.

Karena, menurutnya, setiap rizki sudah dibagi sesuai porsinya. Jadi tanpa harus merebut, sudah ada pelanggan setianya.

Musining, penjual jamu gendong pertama dari Dukuh Pinggir, Desa Tlogoagung,  Kecamatan Baureno, tak pernah meninggalkan resep nenek moyang. Pelanggannya pun sudah turun temurun.

———————————–

RIKA RATMAWATI, Bojonegoro

———————————–

Awan gelap masih enggan beralih dari peraduannya. Kabut pekat masih mendekap. 

Pagi itu (26/11), masih sangat buta. Perempuan paro baya sudah siap dengan botol-botol berisi jamu dalam gendongannya.

Menunggu bus Puspa Indah di depan toko Monalisa Pasar Babat. Puluhan botol jamu beras kencur, kunyit asam, sirih kunci, dan gula asam sudah siap dijualnya.

Hampir 22 tahun kesibukkan itu digelutinya, tak ada rasa lelah atau menyerah.

’’Karena ini tumpuan hidup keluarga kami,’’ ujarnya ketika dijumpai Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Musining, 60, penjual jamu gendong pertama dari tanah timur Bojonegoro. Keuletannya dalam mempertahankan tradisi Jawa cukup mendapat apresiasi dari pelanggannya.

Meski digempur oleh banyaknya produk jamu instan, jamu gendong Mak Ning, sapaannya, tetap dinanti masyarakat Desa Ngino, Kecamatan Semanding, Tuban.

Pilihannya mengais rezeki memang di kota tetangga, Tuban. Hal itu karena Tuban memiliki jarak tempuh lebih dekat dari rumahnya.

Baca Juga :  Soroti Mall Pelayanan Publik

Sehingga, sebelum banyaknya transportasi pada 1996, dia bisa menumpang pada truk brondol.

Truk brondol itu biasa mengangkut sayuran pada pagi buta dari Pasar Babat. Sehingga, dia bisa menumpang bersama pedagang lainnya untuk ke Tuban. 

Untuk pergi ke Desa Ngino, Semanding, Tuban, setidaknya membutuhkan waktu 45 menit dari rumah. Mak Ning harus memulai perjalanan sejak pukul 04.00 pagi.

Mak Ning nantinya harus sampai di pasar krempyeng Desa Ngino sebelum pukul 05.30. Sebab, puluhan pelanggannya sudah menunggu di pasar krempeyeng Desa Ngino.

Kebetulan, Mak Ning memang diberikan lapak ukuran 1 meter untuk berjualan jamu.

Setelah pasar berlalu pukul 07.00 pagi, Mak Ning mulai menjajakan jamunya dengan menggendong keliling kampung Desa Ngino.

’’Jamu akan dijual keliling sampai habis,’’ paparnya. 

Sebelum berangkat, Mak Ning harus terjaga sejak pukul 01.00 dini hari. Sebab, racikan jamu-jamu tradisional tersebut harus dibuat secara langsung.

Supaya tidak mengurangi cita rasanya, Mak Ning memang meraciknya sendiri. Dedaunan yang dipetiknya dari kebun, ditumbuk dalam lumbung kayu sampai halus.

Kemudian, dicampur sejumlah empon-empon seperti kunyit, jahe merah, kencur, dan beras goreng.

Baca Juga :  Jalin Komunikasi dengan Warga di TMMD 106 Kodim Cilacap

Menyesuaikan dengan kebutuhan, kemudian seluruh racikan ditumbuk halus. Lalu, diperas dengan ditambah air matang.

Seluruh proses dilakoninya sendiri, karena beda tangan beda rasa. Mak Ning tidak ingin mengecewakan pelanggannya, sehingga memilih untuk meracik jamu sendiri.

Proses itu belum selesai, karena setiap hari Mak Ning harus membuat setidaknya 30 botol. Sehingga, pembuatannya bisa memakan waktu lebih kurang tiga jam.

Kemudian, Mak Ning bergegas untuk segera menjajakan dagangannya. ’’Kalau kesiangan bisa tidak  habis,’’ ujar ibu satu anak ini.

Berjualan jamu gendong sudah menjadi tradisi warga Dukuh Pinggir. Setidaknya ada 10 penjual jamu di dukuh tersebut. S

ehingga, resep pembuatan jamu memang ditularkan dari satu penjual ke penjual lain. Masing-masing penjual memang saling terbuka, sebab pasarnya juga berbeda.

Tidak sedikit masyarakat tetangga desa menjuluki Dukuh Pinggir sebagai dukuh jamu, karena saking banyaknya penjual jamu.

Meski Mak Ning adalah pembuat jamu tradisional tertua, tetapi dia tidak pernah pelit akan ilmu dan resep.

Karena, menurutnya, setiap rizki sudah dibagi sesuai porsinya. Jadi tanpa harus merebut, sudah ada pelanggan setianya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/