alexametrics
25.6 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Agar Milenial Kian Akrab dengan Seni Sandur

Gelisah lantaran banyak anak-anak muda Bojonegoro belum mengenal seni sandur. Seni pentas itu pun dikonsep tarian agar lebih luwes dan memasyarakat.

MASIH segar diingatan Dyas Kirana Khomariah, awal-awal pandemi tahun lalu. Survei kecil-kecilan terhadap sejumlah muridnya. Kebetulan Dyas guru di SMKN 1 Trucuk. Survei itu mengetahui sejauh mana remaja-remaja Bojonegoro mengerti budaya lokal, salah satunya seni sandur.
‘’Ternyata (hasil survei) banyak pelajar di Bojonegoro tidak mengenal sandur,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (26/10).
Sandur merupakan seni pentas atau teater tradisional berbentuk dramatari tentang cerita-cerita lokal setempat. Kesenian ini tumbuh sebagai aktivitas sosial budaya masyarakat agraris atau pertanian.
Perempuan 26 tahun itu berupaya mengenalkan kesenian sandur di kalangan anak muda atau milenial. Namun, tidak langsung melalui sandurnya. Berbagai ide dicari dan ketemu membuat tarian Tudung Sesandur. Tarian itu geraknya terinspirasi dari kesenian sandur khas Bojonegoro.
Supaya generasi muda menyukai sandur memang harus dikenalkan dulu. Salah satunya melalui tarian. Dyas cukup mahir menciptakan tari. Sebelum menciptakan tarian, sudah menciptakan belasan tarian-tarian. ‘’Sejak kuliah saya sudah menciptakan tari. Sejak jadi guru setiap tahun saya menciptakan tari,’’ jelas guru seni ini.
Sandur sebenarnya ada versi Tuban juga. Namun, sandur Tuban nuansanya lebih kental adat istiadatnya. Sedangkan, sandur di Bojonegoro sudah masuk sebagai hiburan. Sehingga, lebih luwes dan mudah diterima kalangan muda.
Gerakan-gerakan dalam kesenian sandur diadopsi dalam sebuah tari. Namun, Tari Tudung Sesandur itu masih belum bisa dengan kuat menggambarkan alur ceritanya. Tapi, penokohannya tetap ada dalam gerak tarian.
Jaranan selalu identik di kesenian sandur juga dileburkan dalam tari karyanya ini. Hanya, tidak memakai properti jaranan. Sebaliknya memakai selendang. Gerakannya seperti memainkan jaranan. ‘’Durasi tarinya hanya 6 menit,’’ tutur alumnus Universitas Negeri Surabaya itu.
Guru tinggal di Jalan Lettu Suwolo, Bojonegoro itu menciptakan Tari Tudung Sesandur pada Maret 2020. Proses penciptaan gerakannya berlangsung selama dua bulan. Dan tuntas akhir Mei 2020.  Adanya pandemi membuat tarian baru tidak bisa dipentaskan secara langsung.
Namun, akhir 2020, tarian Tudung Sesandur itu mendapatkan kesempatan tampil di pagelaran Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Hanya, pelaksanaan secara virtual dan berlangsung di Gedung Serba Guna Bojonegoro. Saat itu, pandemi masih tinggi.
Dari event virtual itu, Tari Tudung Sesandur perlahan-lahan mulai dikenal. Menariknya tarian rancak itu pun tampil saat peringatan Hari Jadi ke 344 Bojonegoro (HJB). Tampil di Pendapa Malowopati juga live streaming melalui kanal YouTube.
Sejumlah penari berkostum merah dan berselendang putih itu tampil luwes. Tujuh penari begitu seksama membawakan tarian yang diciptakannya.
Guru kelahiran Kecamatan Rengel, Tuban, itu berharap gerakan-gerakan Tari Tudung Sesandur ini agar terus menjalar kepada anak-anak milenial. Layaknya tandur (atau menanam) tentu seni sandur akan tumbuh layaknya tanaman.

Baca Juga :  Kamar Kos Jadi Tempat Judi

Gelisah lantaran banyak anak-anak muda Bojonegoro belum mengenal seni sandur. Seni pentas itu pun dikonsep tarian agar lebih luwes dan memasyarakat.

MASIH segar diingatan Dyas Kirana Khomariah, awal-awal pandemi tahun lalu. Survei kecil-kecilan terhadap sejumlah muridnya. Kebetulan Dyas guru di SMKN 1 Trucuk. Survei itu mengetahui sejauh mana remaja-remaja Bojonegoro mengerti budaya lokal, salah satunya seni sandur.
‘’Ternyata (hasil survei) banyak pelajar di Bojonegoro tidak mengenal sandur,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (26/10).
Sandur merupakan seni pentas atau teater tradisional berbentuk dramatari tentang cerita-cerita lokal setempat. Kesenian ini tumbuh sebagai aktivitas sosial budaya masyarakat agraris atau pertanian.
Perempuan 26 tahun itu berupaya mengenalkan kesenian sandur di kalangan anak muda atau milenial. Namun, tidak langsung melalui sandurnya. Berbagai ide dicari dan ketemu membuat tarian Tudung Sesandur. Tarian itu geraknya terinspirasi dari kesenian sandur khas Bojonegoro.
Supaya generasi muda menyukai sandur memang harus dikenalkan dulu. Salah satunya melalui tarian. Dyas cukup mahir menciptakan tari. Sebelum menciptakan tarian, sudah menciptakan belasan tarian-tarian. ‘’Sejak kuliah saya sudah menciptakan tari. Sejak jadi guru setiap tahun saya menciptakan tari,’’ jelas guru seni ini.
Sandur sebenarnya ada versi Tuban juga. Namun, sandur Tuban nuansanya lebih kental adat istiadatnya. Sedangkan, sandur di Bojonegoro sudah masuk sebagai hiburan. Sehingga, lebih luwes dan mudah diterima kalangan muda.
Gerakan-gerakan dalam kesenian sandur diadopsi dalam sebuah tari. Namun, Tari Tudung Sesandur itu masih belum bisa dengan kuat menggambarkan alur ceritanya. Tapi, penokohannya tetap ada dalam gerak tarian.
Jaranan selalu identik di kesenian sandur juga dileburkan dalam tari karyanya ini. Hanya, tidak memakai properti jaranan. Sebaliknya memakai selendang. Gerakannya seperti memainkan jaranan. ‘’Durasi tarinya hanya 6 menit,’’ tutur alumnus Universitas Negeri Surabaya itu.
Guru tinggal di Jalan Lettu Suwolo, Bojonegoro itu menciptakan Tari Tudung Sesandur pada Maret 2020. Proses penciptaan gerakannya berlangsung selama dua bulan. Dan tuntas akhir Mei 2020.  Adanya pandemi membuat tarian baru tidak bisa dipentaskan secara langsung.
Namun, akhir 2020, tarian Tudung Sesandur itu mendapatkan kesempatan tampil di pagelaran Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Hanya, pelaksanaan secara virtual dan berlangsung di Gedung Serba Guna Bojonegoro. Saat itu, pandemi masih tinggi.
Dari event virtual itu, Tari Tudung Sesandur perlahan-lahan mulai dikenal. Menariknya tarian rancak itu pun tampil saat peringatan Hari Jadi ke 344 Bojonegoro (HJB). Tampil di Pendapa Malowopati juga live streaming melalui kanal YouTube.
Sejumlah penari berkostum merah dan berselendang putih itu tampil luwes. Tujuh penari begitu seksama membawakan tarian yang diciptakannya.
Guru kelahiran Kecamatan Rengel, Tuban, itu berharap gerakan-gerakan Tari Tudung Sesandur ini agar terus menjalar kepada anak-anak milenial. Layaknya tandur (atau menanam) tentu seni sandur akan tumbuh layaknya tanaman.

Baca Juga :  Segera Lelang Ulang Trotoar Gajahmada

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/