alexametrics
27 C
Bojonegoro
Sunday, May 29, 2022

Unpop Zine, Ruang Belajar Menulis Bercerita tentang Musisi

Radar Bojonegoro – Keinginan terjun dunia tulis-menulis beberapa pemuda Bojonegoro mulai disalurkan melalui media publikasi alternatif berupa zine. Mereka masih fokus mengulas karya-karya musisi lokal.

‘Semua terekam tak pernah mati, semua terekam tak pernah mati’ penggalan lirik lagu The Upstairs berjudul Terekam itu cukup mewakili lahirnya sebuah media publikasi alternatif berupa zine.

Media itu diberi nama Unpop Zine. Adapun konten Unpop Zine bisa dinikmati via Instagram dan situs Medium. Saat mengulik kontennya, pembaca dijejali ulasan-ulasan karya para musisi lokal.

Ya, Unpop Zine terlihat dari kontennya memang fokus menyorot dunia musik di Bojonegoro. Sehingga, pembaca dipertemukan kepada sisisisi lain seputar musisi Bojonegoro. Bacaan renyah yang bisa dibaca sambil minum kopi atau teh.

Siapa di belakang peramu konten di Unpop Zine? Ternyata, zine itu dibidani dua pemuda kiwari yakni Bahrul Alam dan Dimas Alfarizi. Pertemuan dengan mereka sempat membuat susah mengobrol. Bagaimana tidak, obrolan mereka diiringi suara mesin penggiling kopi berada tepat di sisi barat warung kopi Jalan Mastrip.

Tetapi kondisi cuacanya cukup teduh, karena awan mendung ditambah semilir angin. Alam pun bercerita dengan nada agak tinggi agar menandingi suara mesin penggiling kopi. Alam menceritakan Unpop Zine lahir sebagai ruang belajar menulis. Obrolan-obrolan berupa niat membuat zine bersama Dimas akhirnya terealisasi pada Agustus lalu. Unpop Zine perlahan bergerilya di dunia maya menyita perhatian anak-anak muda sepantarannya di Bojonegoro.

Baca Juga :  Angin Kencang tapi Masih Bersahabat

“Alhamdulillah ada penikmat konten tulisan kami, saat ini pengikutnya juga sudah seratus. Jadi kami ingin konsisten membuat konten-konten lagi,” terang pemuda asal Desa Kauman, Kecamatan Bojonegoro Kota itu.

Selain itu, pesan dari penulis kondang Pramoedya Ananta Toer selalu terpatri di ingatan Alam. Yakni, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Alam pun merasa dengan menulis bisa menyerap energi sekaligus ilmu dari narasumber. Sekaligus ingin memberikan ruang bagi musisi Bojonegoro untuk dikenal masyarakat secara luas melalui Unpop Zine.

Pemuda kelahiran 1997 itu melihat sepak terjang musisi lokal Bojonegoro sedang berapiapi. Album demi album dirilis dengan ragam aliran musik. Mulai musik cadas hingga musik kalem.

Selain mengulas karya musisi lokal, Unpop Zine juga mengulas gigs-gigs dibuat secara kolektif. Alam merasakan semangat kolektif di Bojonegoro tak akan pernah padam. “Semangat kolektif di Bojonegoro selalu mucul regenerasi. Sehingga sulit untuk padam. Perlahan-lahan melalui tulisan semoga kota paling barat di Jawa Timur ini bisa dikenal luas,” ujarnya.

Baca Juga :  Seribu Berkas Santunan Kematian Ngendon di Kesra Cair Bulan Depan

Dimas Alfarizi pun juga memiliki semangat sama. Menurutnya, proses menjalankan roda Unpop Zine penuh dengan tantangan. Merasa masih perlu banyak belajar menulis. Karena memang tidak mudah mengolah kata per kata menjadi kalimat yang mudah dibaca dan dimengerti.

Terlebih lagi, Dimas mengaku masih butuh memperbanyak diksi lagi dalam menulis. Karena ada kesan monoton dalam tulisannya. “Terus belajar menulis pokoknya, biar makin terasah dan makin lebih banyak lagi pembacanya,” jelas pemuda asal Kecamatan Balen itu.

Dimas berobsesi bahwa ke depannya Unpop Zine ingin menggelar konser mini sekaligus merilis zine dalam bentuk fisik. Tetapi, dia dan Alam tak ingin buru-buru. Karena masih banyak musisi lokal belum sempat diulas.

Unpop Zine juga membuka bagi siapapun ingin berkontribusi membagikan tulisanya. “Karena memang seharusnya Unpop Zine bisa menjadi ruang siapapun menyumbangkan tulisannya, khususnya mengulas karyakarya musisi lokal,” terang pemuda kelahiran 1995 itu.

Radar Bojonegoro – Keinginan terjun dunia tulis-menulis beberapa pemuda Bojonegoro mulai disalurkan melalui media publikasi alternatif berupa zine. Mereka masih fokus mengulas karya-karya musisi lokal.

‘Semua terekam tak pernah mati, semua terekam tak pernah mati’ penggalan lirik lagu The Upstairs berjudul Terekam itu cukup mewakili lahirnya sebuah media publikasi alternatif berupa zine.

Media itu diberi nama Unpop Zine. Adapun konten Unpop Zine bisa dinikmati via Instagram dan situs Medium. Saat mengulik kontennya, pembaca dijejali ulasan-ulasan karya para musisi lokal.

Ya, Unpop Zine terlihat dari kontennya memang fokus menyorot dunia musik di Bojonegoro. Sehingga, pembaca dipertemukan kepada sisisisi lain seputar musisi Bojonegoro. Bacaan renyah yang bisa dibaca sambil minum kopi atau teh.

Siapa di belakang peramu konten di Unpop Zine? Ternyata, zine itu dibidani dua pemuda kiwari yakni Bahrul Alam dan Dimas Alfarizi. Pertemuan dengan mereka sempat membuat susah mengobrol. Bagaimana tidak, obrolan mereka diiringi suara mesin penggiling kopi berada tepat di sisi barat warung kopi Jalan Mastrip.

Tetapi kondisi cuacanya cukup teduh, karena awan mendung ditambah semilir angin. Alam pun bercerita dengan nada agak tinggi agar menandingi suara mesin penggiling kopi. Alam menceritakan Unpop Zine lahir sebagai ruang belajar menulis. Obrolan-obrolan berupa niat membuat zine bersama Dimas akhirnya terealisasi pada Agustus lalu. Unpop Zine perlahan bergerilya di dunia maya menyita perhatian anak-anak muda sepantarannya di Bojonegoro.

Baca Juga :  70 Siswa Belajar Energi MigasĀ 

“Alhamdulillah ada penikmat konten tulisan kami, saat ini pengikutnya juga sudah seratus. Jadi kami ingin konsisten membuat konten-konten lagi,” terang pemuda asal Desa Kauman, Kecamatan Bojonegoro Kota itu.

Selain itu, pesan dari penulis kondang Pramoedya Ananta Toer selalu terpatri di ingatan Alam. Yakni, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Alam pun merasa dengan menulis bisa menyerap energi sekaligus ilmu dari narasumber. Sekaligus ingin memberikan ruang bagi musisi Bojonegoro untuk dikenal masyarakat secara luas melalui Unpop Zine.

Pemuda kelahiran 1997 itu melihat sepak terjang musisi lokal Bojonegoro sedang berapiapi. Album demi album dirilis dengan ragam aliran musik. Mulai musik cadas hingga musik kalem.

Selain mengulas karya musisi lokal, Unpop Zine juga mengulas gigs-gigs dibuat secara kolektif. Alam merasakan semangat kolektif di Bojonegoro tak akan pernah padam. “Semangat kolektif di Bojonegoro selalu mucul regenerasi. Sehingga sulit untuk padam. Perlahan-lahan melalui tulisan semoga kota paling barat di Jawa Timur ini bisa dikenal luas,” ujarnya.

Baca Juga :  Pelaksanaan Tryout SD/MI, Diikuti 11.278 Siswa

Dimas Alfarizi pun juga memiliki semangat sama. Menurutnya, proses menjalankan roda Unpop Zine penuh dengan tantangan. Merasa masih perlu banyak belajar menulis. Karena memang tidak mudah mengolah kata per kata menjadi kalimat yang mudah dibaca dan dimengerti.

Terlebih lagi, Dimas mengaku masih butuh memperbanyak diksi lagi dalam menulis. Karena ada kesan monoton dalam tulisannya. “Terus belajar menulis pokoknya, biar makin terasah dan makin lebih banyak lagi pembacanya,” jelas pemuda asal Kecamatan Balen itu.

Dimas berobsesi bahwa ke depannya Unpop Zine ingin menggelar konser mini sekaligus merilis zine dalam bentuk fisik. Tetapi, dia dan Alam tak ingin buru-buru. Karena masih banyak musisi lokal belum sempat diulas.

Unpop Zine juga membuka bagi siapapun ingin berkontribusi membagikan tulisanya. “Karena memang seharusnya Unpop Zine bisa menjadi ruang siapapun menyumbangkan tulisannya, khususnya mengulas karyakarya musisi lokal,” terang pemuda kelahiran 1995 itu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/