alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Setiap PNS Pernah Terpapar Covid Diimbau Donorkan Plasma

Radar Bojonegoro – Antrean pemintaan plasma konvelesen (PK) di Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Bojonegoro masih terbilang normal. Ketua Tim Pelaksana Donor PK UDD PMI Bojonegoro dr Imam Sutrisno mengatakan, antrean saat ini sekitar 5-6 orang. Karena memang lebih banyak didominasi donor pengganti dibanding donor sukarela.

“Sejauh ini memang yang mencolok itu donor pengganti. Jadi PK-nya didonorkan langsung ke keluarga atau kerabatnya. Sedangkan yang donor sukarela itu ada, tetapi tidak banyak,” ujarnya.

Menurut dia, setelah Bojonegoro memiliki alat apheresis untuk mengambil PK, setiap pegawai organisasi perangkat dareah (OPD) yang pernah terpapar Covid-19 diimbau untuk donor PK. Harapannya bisa selalu memenuhi permintaan masyarakat yang butuh PK sebagai terapi penyembuhan Covid-19.

Proses donor PK tidak bisa instan. Setiap calon pendonor PK wajib melalui proses screening. Sampel darahnya diambil dan dites dulu. Apabila memenuhi syarat, barulah si calon pendonor dihubungi petugas UDD PMI untuk menjalani donor. “Proses donor PK di UDD PMI juga butuh waktu cukup lama, sekitar sembilan puluh menit. Karena sebelum PK-nya diambil, petugas harus mempersiapkan alatnya,” bebernya.

Baca Juga :  Pengalihan Program PT Taspen Jamin Tidak Timbulkan Penurunan Manfaat

Dia menjelaskan, beberapa syarat menjadi calon pendonor PK. Meliputi harus pernah terpapar Covid-19 dan setidaknya bergejala berat. Kemudian, usia 18-60 tahun, berat badan lebih dari 55 kilogram, diutamakan pria, apabila wanita belum pernah hamil, maksimal tiga bulan pasca sembuh Covid-19, dan tidak menerima tranfusi darah selama tiga bulan terakhir Kemarin sore (26/7), Jawa Pos Radar Bojonegoro bertemu dua pendonor PK.

Anang, warga Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro Kota mengaku donor PK sukarela. Sebenarnya, Anang ingin donor pengganti untuk salah satu anggota keluarganya yang terpapar Covid-19, namun nahasnya yang bersangkutan sudah meninggal dunia. “Karena sudah meninggal dunia, jadinya saya donor PK sukarela,” ucap pria yang merupakan pegawai negeri sipil (PNS) tersebut.

Baca Juga :  Mantan Kades Banyubang Ikut Ambil Formulir

Anang terpapar Covid-19 tak lama setelah menjalani vaksinasi sekitar Juni lalu. Dirinya bergejala cukup berat, seperti demam, saturasi oksigen turun, dan anosmia. Anang pun menjalani isolasi mandiri (isoman) selama dua minggu dan akhirnya sembuh.

Hal senada diungkapkan Khoirul Anwar, warga Kabupaten Lamongan yang juga bergejala cukup berat saat terpapar Covid-19. Tetapi bedanya, Khoirul datang sebagai donor pengganti untuk anggota keluarganya di Bojonegoro. Ia bersyukur memenuhi syarat sebagai pendonor PK. “Karena di Lamongan belum ada alat untuk donor PK. Jadi sekalian saya ke Bojonegoro sebab ada keluarga yang butuh,” tutur pria yang merupakan anggota TNI tersebut.

Radar Bojonegoro – Antrean pemintaan plasma konvelesen (PK) di Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Bojonegoro masih terbilang normal. Ketua Tim Pelaksana Donor PK UDD PMI Bojonegoro dr Imam Sutrisno mengatakan, antrean saat ini sekitar 5-6 orang. Karena memang lebih banyak didominasi donor pengganti dibanding donor sukarela.

“Sejauh ini memang yang mencolok itu donor pengganti. Jadi PK-nya didonorkan langsung ke keluarga atau kerabatnya. Sedangkan yang donor sukarela itu ada, tetapi tidak banyak,” ujarnya.

Menurut dia, setelah Bojonegoro memiliki alat apheresis untuk mengambil PK, setiap pegawai organisasi perangkat dareah (OPD) yang pernah terpapar Covid-19 diimbau untuk donor PK. Harapannya bisa selalu memenuhi permintaan masyarakat yang butuh PK sebagai terapi penyembuhan Covid-19.

Proses donor PK tidak bisa instan. Setiap calon pendonor PK wajib melalui proses screening. Sampel darahnya diambil dan dites dulu. Apabila memenuhi syarat, barulah si calon pendonor dihubungi petugas UDD PMI untuk menjalani donor. “Proses donor PK di UDD PMI juga butuh waktu cukup lama, sekitar sembilan puluh menit. Karena sebelum PK-nya diambil, petugas harus mempersiapkan alatnya,” bebernya.

Baca Juga :  Butuh Tenaga Pendamping

Dia menjelaskan, beberapa syarat menjadi calon pendonor PK. Meliputi harus pernah terpapar Covid-19 dan setidaknya bergejala berat. Kemudian, usia 18-60 tahun, berat badan lebih dari 55 kilogram, diutamakan pria, apabila wanita belum pernah hamil, maksimal tiga bulan pasca sembuh Covid-19, dan tidak menerima tranfusi darah selama tiga bulan terakhir Kemarin sore (26/7), Jawa Pos Radar Bojonegoro bertemu dua pendonor PK.

Anang, warga Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro Kota mengaku donor PK sukarela. Sebenarnya, Anang ingin donor pengganti untuk salah satu anggota keluarganya yang terpapar Covid-19, namun nahasnya yang bersangkutan sudah meninggal dunia. “Karena sudah meninggal dunia, jadinya saya donor PK sukarela,” ucap pria yang merupakan pegawai negeri sipil (PNS) tersebut.

Baca Juga :  Butuh Uang, Dua Pemuda Garong Aset Perusahaan

Anang terpapar Covid-19 tak lama setelah menjalani vaksinasi sekitar Juni lalu. Dirinya bergejala cukup berat, seperti demam, saturasi oksigen turun, dan anosmia. Anang pun menjalani isolasi mandiri (isoman) selama dua minggu dan akhirnya sembuh.

Hal senada diungkapkan Khoirul Anwar, warga Kabupaten Lamongan yang juga bergejala cukup berat saat terpapar Covid-19. Tetapi bedanya, Khoirul datang sebagai donor pengganti untuk anggota keluarganya di Bojonegoro. Ia bersyukur memenuhi syarat sebagai pendonor PK. “Karena di Lamongan belum ada alat untuk donor PK. Jadi sekalian saya ke Bojonegoro sebab ada keluarga yang butuh,” tutur pria yang merupakan anggota TNI tersebut.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/